Renungan Hari Kelahiran

Pernah berpikir seperti ini :

Kapan terakhir kali saya diperhatikan dan menjadi pusat perhatian?

Kapan saya dicintai dengan tulus?

Kapan saya ditolong jika ada masalah?

Kapan saya bisa kuat menghadapi hidup yang makin berat?

Dalam perjalanan pulang selepas ngopi, otak saya mulai meracau. Mulai berfikir tentang hidup saya yang yah… begitulah. Saya ogah curhat.. udah bukan masanya hahahahha. Tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan itu muncul mencerca seperti nyanyian burung prenjak yang barusan diberi makan. Membuat saya pusing mencari-cari lembaran memori yang mungkin bisa dipakai sebagai jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas.

Banyak cacat dalam hidup saya; keluarga, pekerjaan, teman, cinta, seks… yang membuat saya kadang-kadang capek menghadapi hidup ini, putus asa lalu ujung-ujungnya kecewa. Tidak puas dengan hidup saya sendiri.

Yap, besok adalah hari ulangtahun saya. Di kepala saya sudah tersusun daftar permintaan pada Tuhan mengingat malam ini saya punya hak untuk meminta. Tidak perlu saya sebutkan daftar itu, ini soalan personal. Selama lebih dari seperempat abad, saya selalu melakukan ritual ini. Setiap tahun di hari yang sama saya selalu punya daftar permintaan. Setiap tahun! Minta, minta dan minta… belum lagi hitungan 364 hari ke belakang dalam tahun ini…

Namun selintas berlalu percikan-percikan memori melintas di otak saya. Betapa saya sudah mendapatkan banyak dalam hidup saya, betapa sebagian besar permintaan saya sudah terkabulkan. Dan sekarang saya masih punya sederet lagi daftar permintaan untuk malam ini? What a greedy homo sapiens Jonaz is?

Lalu saya tertunduk, malu… malu pada semesta, malu pada diri sendiri, terlebih lagi malu pada yang memberi waktu untuk saya hidupi sampai sekarang. Seketika itu sudut bibir saya terangkat ke atas, tersenyum, ada aliran rasa syukur yang mengalir dalam darah saya… yang membuat saya merasa bahagia. Bahagia yang sejati! Dan…. Inilah kado terindah yang saya dapatkan… bahagia itu.. rasa syukur yang tidak saya buat-buat… kesadaran penuh bahwa saya sudah dapat banyak! Banyak!

Malam ini saya tidak akan menutup mata, melipat tangan lalu bersimpuh disisi ranjang membacakan daftar permintaan. Tapi saya akan menulis tentang malam ini, agar saya dapat berbagi kebahagiaan dengan yang lain, sebagai ucapan syukur atas hidup yang sudah diberi.

Saya sudah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Kapan terakhir kali saya diperhatikan dan menjadi pusat perhatian?

Kapan saya dicintai dengan tulus?

Kapan saya ditolong jika ada masalah?

Kapan saya bisa kuat menghadapi hidup yang makin berat?

Jawabannya hanya satu : BARU SAJA. Tuhan baru saja memperhatikan dan menjadikan saya pusat perhatianNya. Tuhan baru saja mencintai saya dengan tulus. Tuhan baru saja menolong saya. Tuhan baru saja membuat saya kuat menghadapi hidup yang makin berat.

Sebuah pencerahan pada malam 22 February 2013.

Terimakasih buat sahabat dekat dan teman-temanku, sebagai perwakilan Tuhan untuk menemani saya. Terimakasih sudah mau mengambil tanggungjawab untuk mengenal saya dan menjadi utusan Tuhan untuk mengerti saya, menolong saya, sekaligus membuat saya mempertanggungjawabkan apa yang sudah diberikan Tuhan buat saya.

Note kecil :

Begitu saya selesai menulis renungan kecil ini, pintu pagar saya diketuk. Kenchoz, Dian, Mas Ton, dan Erning datang ke rumah saya. Tepat jam 24.00 mereka datang jauh-jauh dari Gresik dan Perak ke daerah Ngagel untuk memberi saya pelukan dan ucapan selamat ulang tahun. Saya tidak menduganya! Jelas mereka adalah perwakilan Tuhan untuk memperhatikan saya di ulang tahun saya, mencintai saya, menolong saya menemani detik-detik pergantian usia saya, dan sekaligus menguatkan saya untuk menghidupi tahun-tahun berikutnya. Tuhan…. mungkin saya egois, tapi jujur saya tidak mau kehilangan mereka.

Here’s tribute untuk sahabat-sahabat saya,

Selamat Ulang Tahun – Dewi Lestari

Ribuan detik kuhabisi

Jalanan lengang kutentang

Oh, gelapnya tiada yang buka

Adakah dunia mengerti

Miliaran panah jarak kita

Tak jua tumbuh sayapku

Satu-satunya cara yang ada

Gelombang tuk ku bicara

Tahanlah ahai waktu

Ada “Selamat Ulang Tahun”

Yang harus tba tepat waktunya

Untuk dia yang terjaga menantiku

Tengah malamnya lewat sudah

Tiada kejutan tersisa

Aku terlunta, tanpa sarana

Saluran tuk ku bicara

Jangan berjalan waktu

Ada “Selamat Ulang Tahun”

Yang harus tiba tepat waktunya

Semoga dia masih ada menantiku

Mundurlah wahai waktu

Ada “Selamat Ulang Tahun”

Yang tertahan tuk kuucapkan

Yang harusnya tiba tepat waktunya

Dan rasa cinta yang slalu membara

Untuk dia yang terjaga menantiku

photo

19 thoughts on “Renungan Hari Kelahiran

  1. Happy belated bday ya… means your birthday is 23rd ya?
    beda sehari dengan saya.
    Lagunya juga saya suka sekali. dari Rectoverso, pertama kali dengar lagu ini pas beli bukunya juga tak jauh dari hari ulang tahun.
    Perenungan yang mantab Jonaz…
    Sekali lagi, happy belated bday: wish we all becoming more grateful in this life – about life. *cheers*

  2. Pingback: Paparan Otak dan Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s