Pendidikan di Indonesia

Sabtu kemarin kami memenuhi undangan dari sekolah swasta di kecamatan Mantup, kabupaten Lamongan. Undangan yang berisi tentang permintaan materi pembelajaran dan sharing konwledgetentang apa yang sudah kami lakukan di sekolah kami. Kami sangat senang menerima amanah ini, kami berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk melakukansocial services bagi sekolah lain setelah sekian lama kegiatan ini vakum.

Pimpinan proyek kali ini adalah Sule. Dia segera membentuk komite untuk pembekalan materi. Ada lima materi yang diminta untuk dibagikan yakni: Learning to Learn, Teaching English, Keys for Student Success,  Discipline and Motivation, lalu Educational Games for students. Disela-sela kesibukan mengisi report comment akhir semester, kami mengadakan rapat rutin tiap Kamis untuk membicarakan perkembangan persiapan dan materi yang akan diberikan. Bisa dikatakan ini adalah proyek yang bikin terkencing-kencing karena bersamaan dengan report writing di sekolah kami, tapi kami dengan sungguh-sungguh mengerjakan dan mempersiapkannya karena kami ingat ini adalah amanah. Terlebih saya, yang saat itu tengah membaca buku “Indonesia Mengajar”, sangat antusias dengan proyek ini. Suntikan semangat dari kisah pengajar muda yang saya baca dalam buku ini begitu besar.

Konfirmasi dari sekolah di Lamongan adalah jumlah peserta sebanyak 30 orang dan mereka sepakat untuk memulangkan siswa lebih awal pada hari H-nya. Waktu pelaksanaannya juga disepakati pukul 09.30 pagi, sehingga membuat kami harus berangkat pagi-pagi dari Surabaya.

Hari yang dinanti pun datang, jam 06.30 tepat kami sudah meninggalkan Surabaya dan berangkat ke Lamongan. Di sepanjang jalan kami masih berdiskusi tentang teknis pelaksanaan training nanti. Kami tiba tepat jam 09.00 dan ingin segera memulai pekerjaan kami, namun kami lupa bahwa kami hidup di Indonesia, ternyata ramah tamah dan remeh temeh masih berlaku disini sehingga acara molor satu jam.

Begitu ramah taman selesai, kami bergegas menuju lokasi dan segera menata ruang. Setelah semuanya siap, kami menunggu peserta (yang rencananya 30 orang). Beberapa orang memasuki ruangan; ada sekitar sepuluh orang. Kami berinisiatif untuk menunggu, namun setalah waktu berjalan 30 menit ternyata jumlahnya tetap sama alias tidak ada lagi yang datang. Kami sedikit merasa aneh, dan mulai agak down karena harapan kami untuk mendapatkan suntikan antusiasme dari peserta workshop pupus sudah.

Benar saja… peserta yang rata-rata sudah berumur itu tidak begitu bersemangat mengikuti workshop. Padahal workshop sudah kami susun sedemikina rupa agar tidak seperti orang ceramah. Sesi pertama yang diisi 50% kegiatan kinestetik tidak membuat peserta bersemangat dan setelah istirahat dan sholat tidak banyak orang yang kembali untuk mengikuti workshop ini. Ada yang pulang ke rumah (sebagian besar ibu-ibu) dan juga merokok di kantor (teman saya Dian, memergoki beberapa bapak yang nongkrong di kantor dan tidak kembali ikut workshop).

Kami semua merasa kecewa, tapi segera kami tepis rasa dongkol itu karena diantara beberapa gelintir peserta masih kami dapati satu dua orang idealis yang dengan semangat mengikuti workshop ini. Okelah Pak, Bu.. kami akan memberikan ilmu kami pada kalian kalo yang lain gak mau menerima dan ogah-ogahan, itu masalah mereka.. Dan puji Tuhan kami bisa menyelesaikan workshop ini dengan baik. Meskipun kami harus memotong sesi terakhir karena kami lihat peserta sudah tidak mampu lagi menerima materi

Kami merefleksi apa yang terjadi dan mulai membanding-bandingkan dengan sekolah lain yang minta untuk diberikan pelatihan. Pengajar disini sepertinya takut untuk melakukan apa yang sudah kami beri karena takut tidak bisa memenuhi tuntutan pemerintah pada hasil UNAS, mereka cenderung menjejali siswa dengan target-target materi yang harus dikuasai sesuai dengan tuntutan kurikulum. Aura “percuma” dan “sia-sia” sudah begitu kental di awal workshop, sepertinya mereka menolak cara mengajar lain selain menggunakan buku paket karena tidak ada waktu untuk mempersiapkan dan “dikejar target”. Mereka takut jika nanti siswa-siswa tidak bisa menguasai materi tepat waktu yang menyebabkan hasil UNAS jeblok dan kemungkinan tidak lulus sangat tinggi (padahal sudah jadi rahasia umum jika ada siswa yang terancam tidak lulus maka sekolah di Indonesia akan menggunakan sistem katrol.. nangis darah). Jika banyak siswa yang tidak lulus maka masyarakat akan menilai “miring” terhadap kualitas sekolah itu dan akibatnya jumlah pendaftar baru merosot dan gaji guru di sekolah itu juga merosot.

Seandainya saja pendidikan Indonesia tidak dibebani dengan target kelulusan dan momok UNAS… Seandainya ada pengajar yang idealis dan mau terus berkembang dan mendobrak pakem pendidikan lokal yang sulit dirubuhkan…. Seandainya saja penguasa-penguasa dan orang kuat tidak lagi menjadikan pendidikan Indonesisa sebagai ladang bisnisnya…. Hm.. kami hanya bisa berandai-andai saja karena sesungguhnya sangat sulit untuk memutus lingkaran setan yang terjadi di pendidikan Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s