Malam Sebelum Bisma Tewas

Senja mulai menggelap. Di kemah paling ujung, Arjuna meletakkan kepalanya di pangkuan Srikandi. Tangannya masih gemetaran karena Srikandi juga baru saja meletakkan busur dan anak panah yang menemaninya membatat habis bala Korawa seharian tadi.

Srikandi membersihkan darah yang sesekali masih mengucur di pelipis kiri Arjuna dengan sobekan jarik yang dipakainya. Luka akibat goresan anak panah sakti Adipati Karna yang dikalahkannya siang tadi masih menyisakan nyeri, membuat Arjuna terpicing.

Kang Mas ….ada apa sayang?” Srikandi berucap lembut sembari menatap mata suaminya dalam-dalam… Ada butiran air yang tertahan di mata Arjuna. Tak berucap sepatah katapun, Arjuna hanya membenamkan dirinya pada pelukan Srikandi…

Srikandi merasakan lelehan cairan hangat yang mengalir di punggungnya… air mata Arjuna deras membasahi rambut dan punggungnya.Dia membelai rambut ikal Arjuna, Srikandi tahu benar hati suaminya sedang galau. Pelan-pelan dia melepaskan diri dari pelukan Arjuna… Mereka duduk berhadapan, Arjuna menundukkan mukanya.

Srikandi bergeser, mengambil tempat di samping kiri Arjuna dan meletakkan dagunya di pundakArjuna lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Arjuna. Cara ini biasanya ampuh untuk menenangkan hati suaminya. Benar saja, Arjuna pelan-pelan berpaling padanya dan mencium kening Srikandi.

“Kandi, terimakasih sayang… terimakasih karena kamu satu-satunya orang yang mau mengiringku sampai ke medan perang” Arjuna berterimakasih pada istrinya.

“Sayang… kamu tahu aku akan mengikuti kamu kemanapun kamu pergi dan sampai kapanpun…” Srikandi memandang suaminya dengan penuh cinta.

“Aku tau kamu adalah satu-satunya istriku yang bisa menggunakan busur dan anak panah, tapi aku sudah meminta pada sinuwun Yudistira agar engkau tidak ikut serta dalam perang ini. Aku ingin kamu tinggal di rumah saja bersama yang lain” Arjuna melepaskan gelung istrinya. Rambut Srikandi tergerai, jatuh ke tanah…Arjuna dengan lembut menyisir rambut panjang Srikandi dengan kelima jarinya.

Kang Mas, kalo kang mbok Sembodro juga bisa berperang, dia juga pasti ikut serta…” Srikandi menghentikan kata-katanya… dalam hati dia sangat bersyukur hanya dia diantara para istri Arjuna yang bisa mengangkat senjata, dengan demikian selama masa perang dia tidak perlu berbagi suami dengan Sembodro, Larasati, Suprobo dan istri Arjuna yang lain…

Malam semakin larut… Arjuna telah lelap dipangkuannya.Malam itu Srikandi tidak melewatkan sedetikpun waktu untuk memalingkan muka dari wajah Arjuna. Dia menatap wajah suaminya, mengusapnya pelandan menciumnya berulang ulang.. petaka perang yang membawa berkah, begitu pikirnya.Image

10 thoughts on “Malam Sebelum Bisma Tewas

  1. Suka deskripsinya! Suka eksplorasi bahasa tubuhnya! Ini baru namanya nulis. Kenapa gak dieskplor lebih jauh? Ini bisa jadi cerita yang bagus, kirim ke koran. Yakin pasti laku.

    1. ini kan belajar mas… aku suka cerita wayang. pas baca blogmu tadi tentang Karna, tiba2 aku ingat aku pernah nulis tentang perang antara Adipati Karna vs Arjuna, dan Bisma vs Srikandi… sip! nanti aku nulis lagi yang lain.. semoga bisa bagus kayak punyamu.

  2. Kalo kamu ceritain bagian percintaan Arjuno-Sembodro lebih jauh di malam itu, tapi dengan pilihan diksi yang sastra, pasti bikin pembaca merinding. Coba kamu tes, posting di kompasiana. Yakin banyak responsnya.

      1. Sedikit masukan ae, menurutku ada beberapa bagian teknis yg perlu dibenahi sedikit. Khususnya soal kata kerja sama kata depan. Ya awakmu sebagai arek Sastra jauh lebih ngerti lah. Kalo display rapi, baca isinya bisa jauh lebih ndredeg dan “cur, cur”, haha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s