Idiot, apa kabar?

Apa kabar idiot? Saya masih belum bisa melepasmu…

Kalo boleh membela diri, itu bukan karena saya semata. Kamu juga punya peran, kalau saja kamu berlaku jahat pada saya.. Saya akan sedikit lega. Tapi kamu masih membalas pesan saya, sama mesranya… Kamu menggantung saya… antara iya dan tidak…

Apa kabar idiot? Saya masih belum bisa melepasmu…

Advertisements

Tugasku Mencintaimu

Image

Bukan tugasku untuk mencuci otak ini agar kamu hilang dari memoriku… Bertahun tahun aku sudah berusaha namun nol besar. Aku selalu berusaha dan berdoa agar kamu segera berlalu dariku… tapi semakin aku keras berusaha, kamu semakin ada… Dalam hati aku berkata; apakah sebenarnya aku tidak ingin cintaku usai daripadamu?

Kamu pasti tau, hati ini selalu membuncah jika mendengar namamu… meskipun kamu datang dan menghilang… Sesuka hati kamu datang sesuka hati pula kamu pergi. Hatiku seperti terbakar hangat sewaktu melihat jauh ke dalam matamu, mendengar kamu berbisik, namun sekonyong-konyong tecebur ke dalam kolam es yang dingin begitu kamu pergi; membuat retak jantungku dan kemudian amblas.. lebur bersama isak tangis di malam buta.

Ada yang datang setelahmu, banyak suka dan cinta. Aku juga mengalami patah hati selain denganmu, namun patah hati denganmu adalah yang paling sakit dan paling sering… Sumpah aku ingin meneriakimu dengan kata-kata yang keras… tapi selalu kalah oleh air mata yang lebih dahulu jatuh.

Cerita patah hati denganmu tidak pernah habis, dan selalu aku yang sakit.

Kamu itu seperti candu, dan aku selalu mencarimu meskipun selalu berakhir dengan tragis dan berujung pada kematian hati; hatiku sudah mati untuk orang lain, tak tau mana cinta mana obsesi.

Rabun, aku tidak bisa melihat cacatmu yang dengan mudah dikenali oleh orang lain. Aku hanya bisa melihatmu seperti baju kesayanganku.. ingin terus kupakai dan selalu indah dimataku, tak peduli orang lain bosan melihatnya. Aku melihatmu begitu sempurna bak kijang kencana jelmaan rahwana.

Ceritamu kau tak bahagia dan kembali datang… terbersit ketakutan akan rasa sakit yang nanti menghadang, Ah… aku tak peduli itu… yang aku tau sekarang kamu ada! Perkara nanti aku akan tersakiti lagi itu urusan nanti… yang penting sekarang kamu muncul lagi, memuaskan segala buncah hati untuk berkisah denganmu… walaupun itu semu dan sesaat saja tapi paling tidak aku masih bisa merasakan kegalauan, persis seperti sepuluh tahun lalu saat pertama kali bertemu denganmu. Menerka-nerka… meraba-raba.. apakah kali ini kau akan menjatuhkan pilihan padaku… memberatkan timbangan hatimu untuk lebih condong padaku… aku kasmaran.

Aku ingin memelukmu… lagi, seperti dulu… tapi tak kuasa, nuraniku melarangnya. Cincin yang kamu pakai itu yang membuatku tertunduk… hormat… bukan padamu tapi pada komitmen kalian. Yang aku bisa lakukan hanyalah memejamkan mata… lalu memelukku dalam khayalku… itu sudah cukup buatku.

Juli 2001 – until recent

A Friendship Test, Can We Resist?

A relationship, someday, will face the phase when each member in the relationship circle undergo amount of friction. A lover, business partner, family, friendship, will come to a stage when each of them delivers different requirements that don’t meet with others, and when everybody can not cope the situation, the clash occurs. 

The length of the relationship mostly displays how good the members maintain the relationship. By and by, we get to know the routines, habits, and character of people in the circle. Once we know each other and comfortable with it, the emotional bound starts to rise. Building understanding and tolerance, somehow does not really matter. The feeling of need and being needed keep the relationship into more intimate circumstances: Dependance. 

There will be hard time when the closest people act differently to us. We feel like we don’t interest in the same topic anymore, we don’t argue and then find answer, we don’t laugh at the same people or even we don’t fight of the same enemy. Each of us withdraw ourselves, avoid each other, silence… Maybe we make mistakes, maybe not. It is the time to investigate. Was it clash or just bored?

The different perception may sometimes causes clash. Here, the tolerance and understanding are required, moreover acceptance and apology. When the clash can not occupied dan getting worse; it’s time to start thinking whether it is worth it to stand for it, keep on it or just let it go.

Ordinarily, people will quit. Erasing memories, cost less hurt feelings and sometimes gain pride. But those who choose to survive start to think their dependency toward this relationship. Thinking about alternatives to solve it; put their pride to the lowest level, open their heart, provide forgiveness, risk themselves to save the relationship. This is not easy and need tons of gut to do this. 

There we come with options… it is a test. Should we on or stop right here…? Think carefully, everything has it’s own consequences. 

Dedicated to Noni and Gank Jompo.. 

Image

Saya Sudah (merasa) Lebih Baik Sekarang

Ya, saat ini bisa dibilang demikian. 

Entah apa penyebabnya… mungkin waktu yang membuat saya begini.. atau memang saya membawa perasaan ini  ke zona santai… tapi tentu saja karena peran yang di atas.

Saya masih pengen bersamanya dan masih juga stalking… Saya nggak reject perasaan ini, tapi lebih ke menerimanya… Saya juga masih (kadang) say hello ke dia.. meskipun ada rasa “aneh”… Tapi saya sudah tidak menggalau lagi… paling tidak untuk sekarang.. Entah nanti..

Yah, saya cukup bahagia dengan kondisi saya sekarang… more stabil

Image

Percakapan Otak dan Hati

Otak : Apa kabar dear hati? Masih belum mampu mengambil keputusan ya? That’s fine.. kamu mampu kok mengatasinya…

Hati : Iya, saya masih bingung, masih menunggu dan meraba-raba…

Otak : Bersikap biasa aja sama dia, jangan stalking… ngobrol seperlunya… batasi komunikasi.

Hati : Itu kan maumu… kalo saya sih pengen deket terus sama dia, stalking apapun biar bisa update tentang dia, mau tiap saat ngobrol sama dia, pergi sama dia, ngeliat senyumnya… dipeluk, disayang, merasakan hangat tubuhnya, atau mentertawakan apa saja yang nggak penting sama dia..

Otak : Ih, menurutku itu tindakan gila… sudah jelas dia nggak mau sama kamu dan gak nunjukin tanda2 mau sama kamu… sikapnya biasa aja.. 

Hati : Nggak sih, kalo menurutku dia itu masih labil… bisa aja suatu saat dia cinta sama saya. Liat aja kalo dia ngomong sama saya…

Otak : Ngomong apa? Cinta? Sayang? I think that’s just a joke, dia lakukan ke semua orang.. lihat BBMnya.. liat twittermya, liat status facebooknya…

Hati : Terserah kamu bilang apa… apapun itu, bisa jadi sinyal buat saya… menunjukkan kalo ada kesempatan buat saya dan dia melanjutkan ke arah yang lebih jauh, dan menurut saya apa yang dia lakukan itu beda.. saya bisa merasakannya

Otak : Wake up… dia sudah ada yang punya!

Hati : Peduli setan! Kalo dia mau, dia bisa ninggalin monyetnya itu

Otak : Sinting kamu! Oke, saya paling benci berandai-andai.. tapi tak apalah buatmu… Seandainya saja kamu berhasil mengambil hatinya, apa kamu yakin bisa jalan sama dia?

Hati : Gak tau… yang penting saya sama dia, that’s all

Otak : Yakin kamu bisa bertahan sama dia? Dia norak kan…

Hati : Ga peduli..

Otak : Dasar buta..

Hati : Kamu saja yang nggak sensitif

 

HENING….

# Dan saya pun hanya diam mendengarkan percakapan mereka di sebuah malam yang sunyi 

Image

Perahu Kertas, Sebuah Analogi

Image

Hidup itu harus dihadapi, bukan dihindari.

Saya baca novel ini pada saat saya baru saja patah hati dengan si Jepang, Juni 2010. Hati saya sempat luka dan dalam kebingungan saya, saya melarikan diri ke Ende, Flores.  Tetapi seperti kata Karel pada Kugy sewaktu dia ingin melarikan diri dari pilihan antara komitmen dan cinta lama… Hidup itu bukan lari dari kenyataan. Hidup itu bukan dongeng. Hidup itu harus dihadapi.

Terlalu banyak patah hati dalam novel ini… Hidup dan cinta yang sebenarnya itu bukan seperti Kugy dan Keenan. Tapi lebih banyak seperti Kugy dan Remy atau Pak Wayan dan Bu Lena. Bagi pencinta happy ending, mungkin tidak sependapat dengan saya. Screw you! Tapi inilah hidup…

Banyak yang percaya dengan eksistensi cinta sejati dan happy ending layaknya cerita Cinderela dan Pangeran Tampan. Katakanlah di dunia ini rasionya 30 persen, saya yakin hanya 2 persen saja yang mengalami happy ending dan cinta sejati itu, sisa yang 28 persen itu saya sebut the believers, kaum beriman. Di luar lingkaran 30 persen itu adalah golongan yang percaya pada realitas yang biasa bilang : fuck happy ending dan cinta sejati.

Jika saya ditanya masuk bagian manakah saya? Saya masih berharap menjadi 2 persen dari lingkaran yang 30 persen itu… tapi saya juga mencoba hidup sebagai bagian di luar 30 persen itu, which is realita. Tterdengar tragis dan inkonsisten?

Saya bukan Keenan yang meskipun hidupnya susah namun nasib baik masih berpihak kepadanya. Saya juga bukan Remy yang dengan mudahnya berpaling ke lain hati begitu tersadar Kugy bukan untuknya. Saya juga bukan Eko yang punya simple life simple problem… Bisa jadi mungkin saya lebih seperti Ojos… pernah ada, lalu tidak dianggap dan dilupakan.

Namun di luar itu, saya percaya hidup itu ajaib. Teman nonton saya bilang… seandainya kita sudah tau skenario hidup kita bagaimana.. pasti akan mudah menjalaninya. I totally disagree dengan ini dan kenyataannya yang saya alami, hidup memang bukan seperti itu… sekali lagi balik ke privilege kita sebagai manusia, free will. Dengan keistimewaan kita untuk memilih, otomatis timbul konsekwensi2 atas pilihan itu, dan dalam proses menjalani konsekuensi ini, hidup itu menjadi ajaib.

Sekarang saya menjalani konsekuensi atas pilihan saya beberapa waktu lalu. Saya memilih untuk menunggu, seperti Pak Wayan yang menunggu Bu Lena. Jangan ditanya perihnya seperti apa…. Bukan, saya bukan orang yang menganut paham cinta tidak harus selalu memiliki, saya juga bukan penganut paham asal dia bahagia saya juga bahagia. Jika saya mampu saya pasti akan melakukannya, mengambil atau bahkan merebut dia. Tapi saya memilih untuk menunggu; entah menunggu apa, mungkin menunggu dia mencintai saya, menunggu saat dia kembali sendiri, atau bahkan menunggu diri saya sendiri untuk memilih pilihan berikutnya. Dan saya dihadapkan pada konsekuensi atas pilihan saya dan sekarang waktunya menjalani konsekuensi ini… Harus! karena ini hidup, bukan dongeng.

Di tengah perjalanan saya menjalani konsekuensi ini, datang silih berganti pilihan-pilihan yang saya harus ambil. Ada beberapa pilihan yang saya ambil yang melenceng banget dari kebiasaan saya… dan ternyata saya harus kembali dalam pilihan lama : menunggu… Menunggu sampai kapan saya nggak tau, mungkin sampai akhir hidup saya… saya nggak tau. Tapi yang pasti saya mampu menanggung konsekuensi atas pilihan yang saya ambil ini, dan saya upayakan untuk tidak menyesal di kemudian hari…

Free Will

Akhirnya, pada detik ini… saya punya sedikit kekuatan untuk berkata : ya sudahlah… saya harus melanjutkan hidup saya. Sekali lagi saya tidak tau, kekuatan apa yang memampukan saya untuk berkata seperti ini. Tapi bergumul dan berdoa, berkomunikasi dengan Tuhan saya membuat saya bisa, meskipun sedikit, untuk mendongak dan melihat dunia kembali… 

Pagi ini saya kembali berdoa, agar Tuhan memampukan saya untuk melewati ini semua. Saya tidak bisa mengelak dari kejadian ini karena ini adalah keputusan saya dan saya harus menjalaninya. Sebuah refleksi, ika ada pilihan pilihan hidup yang datang pada saya, apapun yang saya putuskan adalah privilege saya sebagai manusia yang punya free will, there’s nothing to do with God. God knows what best for me, tapi sekali lagi manusia punya free will. Tuhan hanya memperhatikan dan tugas Beliau adalah menolong manusia jika dalam menjalani keputusan itu manusia mempunyai kesulitan. Seperti saya yang membiarkan diri terlarut dalam perasaan, padahal saya punya pilihan untuk berkata tidak meskipun itu sulit dilakukan, dan sekarang saya sedang tertatih-tatih menjalani keputusan saya..

Saya kenal diri saya sendiri dan saya sangat tidak bisa menolak apa yang saya rasakan… dan saya yakin Tuhan tau itu… tapi privilege saya sebagai manusia yang punya free will membuat Tuhan “mundur” sejenak, menyerahkan segala keputusan pada diri saya sepenuhnya. Namun sebelum itu Tuhan berbisik melalui hati nurani saya, memberitahu apa yang terbaik buat saya yaitu, saya harus berkata tidak dan mundur saja. Apa pasal saya harus mundur? Jawaban ini yang saya tidak tau, it’s God’s mystery. 

Saya putuskan untuk mengikuti perasaan saya, dan ternyata makin kesini makin nggak jelas dan menjurus pada masa dimana saya harus benar-benar mundur.. Tapi disisi lain saya masih berharap, bahwa keadaan akan menjadi seperti yang saya bayangkan; dia dan saya bisa bersama. Sigh… berat… tapi saya yakin Tuhan akan memerankan perannya. Saya sudah angkat tangan dengan keputusan saya… dan saya yakin Tuhan akan turun tangan, entah dengan cara apa.. Tapi yang pasti saya akan bisa melalui ini semua dengan kuat. Apapun hasilnya nanti: mundur atau bersama.

 

Image