Perahu Kertas, Sebuah Analogi

Image

Hidup itu harus dihadapi, bukan dihindari.

Saya baca novel ini pada saat saya baru saja patah hati dengan si Jepang, Juni 2010. Hati saya sempat luka dan dalam kebingungan saya, saya melarikan diri ke Ende, Flores.  Tetapi seperti kata Karel pada Kugy sewaktu dia ingin melarikan diri dari pilihan antara komitmen dan cinta lama… Hidup itu bukan lari dari kenyataan. Hidup itu bukan dongeng. Hidup itu harus dihadapi.

Terlalu banyak patah hati dalam novel ini… Hidup dan cinta yang sebenarnya itu bukan seperti Kugy dan Keenan. Tapi lebih banyak seperti Kugy dan Remy atau Pak Wayan dan Bu Lena. Bagi pencinta happy ending, mungkin tidak sependapat dengan saya. Screw you! Tapi inilah hidup…

Banyak yang percaya dengan eksistensi cinta sejati dan happy ending layaknya cerita Cinderela dan Pangeran Tampan. Katakanlah di dunia ini rasionya 30 persen, saya yakin hanya 2 persen saja yang mengalami happy ending dan cinta sejati itu, sisa yang 28 persen itu saya sebut the believers, kaum beriman. Di luar lingkaran 30 persen itu adalah golongan yang percaya pada realitas yang biasa bilang : fuck happy ending dan cinta sejati.

Jika saya ditanya masuk bagian manakah saya? Saya masih berharap menjadi 2 persen dari lingkaran yang 30 persen itu… tapi saya juga mencoba hidup sebagai bagian di luar 30 persen itu, which is realita. Tterdengar tragis dan inkonsisten?

Saya bukan Keenan yang meskipun hidupnya susah namun nasib baik masih berpihak kepadanya. Saya juga bukan Remy yang dengan mudahnya berpaling ke lain hati begitu tersadar Kugy bukan untuknya. Saya juga bukan Eko yang punya simple life simple problem… Bisa jadi mungkin saya lebih seperti Ojos… pernah ada, lalu tidak dianggap dan dilupakan.

Namun di luar itu, saya percaya hidup itu ajaib. Teman nonton saya bilang… seandainya kita sudah tau skenario hidup kita bagaimana.. pasti akan mudah menjalaninya. I totally disagree dengan ini dan kenyataannya yang saya alami, hidup memang bukan seperti itu… sekali lagi balik ke privilege kita sebagai manusia, free will. Dengan keistimewaan kita untuk memilih, otomatis timbul konsekwensi2 atas pilihan itu, dan dalam proses menjalani konsekuensi ini, hidup itu menjadi ajaib.

Sekarang saya menjalani konsekuensi atas pilihan saya beberapa waktu lalu. Saya memilih untuk menunggu, seperti Pak Wayan yang menunggu Bu Lena. Jangan ditanya perihnya seperti apa…. Bukan, saya bukan orang yang menganut paham cinta tidak harus selalu memiliki, saya juga bukan penganut paham asal dia bahagia saya juga bahagia. Jika saya mampu saya pasti akan melakukannya, mengambil atau bahkan merebut dia. Tapi saya memilih untuk menunggu; entah menunggu apa, mungkin menunggu dia mencintai saya, menunggu saat dia kembali sendiri, atau bahkan menunggu diri saya sendiri untuk memilih pilihan berikutnya. Dan saya dihadapkan pada konsekuensi atas pilihan saya dan sekarang waktunya menjalani konsekuensi ini… Harus! karena ini hidup, bukan dongeng.

Di tengah perjalanan saya menjalani konsekuensi ini, datang silih berganti pilihan-pilihan yang saya harus ambil. Ada beberapa pilihan yang saya ambil yang melenceng banget dari kebiasaan saya… dan ternyata saya harus kembali dalam pilihan lama : menunggu… Menunggu sampai kapan saya nggak tau, mungkin sampai akhir hidup saya… saya nggak tau. Tapi yang pasti saya mampu menanggung konsekuensi atas pilihan yang saya ambil ini, dan saya upayakan untuk tidak menyesal di kemudian hari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s