Kebaikan Tuhan tanggal 8 Januari 2013

Saya masih yakin sampai sekarang bahwa Tuhan itu memperhatikan saya dalam hal sekecil apapun. 

Hari ini tanggal 8 Januari 2013, saya menuliskan lagi satu kebaikan Tuhan yang saya rasakan. Tujuannya biar di tahun mendatang, saya bisa membaca dan mengingat lagi kebaikan Tuhan yang saya terima karena sebagai manusia, otak saya terbatas untuk mengingat kebaikan Tuhan yang luar biasa ini.

Singkat kata di bulan Desember banyak sekali pengeluaran finansial saya, yang paling besar adalah bayar cicilan rumah selama 3 bulan karena saya lupa.  Sebenarnya saya masih bisa bertahan dengan uang yang ada karena ada bonus natal dan pembagian uang koperasi (SHU). Tapi berhubung ini adalah moment natal, sebagai om yang sudah bekerja dan punya dua kakak yang sudah mempunyai anak saya memberikan uang hasil SHU yang lumayan besar itu buat keperluan Natal mereka. Sebagai manusia saya ketir-ketir, cukup nggak dengan uang yang sudah  tinggal sekian itu untuk hidup di bulan Januari yang masih 31 satu lebih. Belum lagi di awal bulan saya harus bayar tagihan asuransi, motor, dan uang kost. Secara perhitungan matematis, uang saya akan pada level minimum setelah tanggal 8 Januari.

Biasanya pada liburan akhir tahun saya selalu pergi ke luar pulau. Tapi di penghujung tahun 2012, liburan natal saya habiskan di kota saya. Sekali lagi Tuhan itu baik. Dia mengirim teman-teman yang baik untuk menemani saya mengikuti misa Natal dan liburan kecil di Taman Dayu. (terimakasih Dian, Kenchos, Mas Ton, dan Ketemi).

Dalam kebimbangan saya berkata dalam hati, Tuhan nggak tau ini cukup apa tidak buat hidup saya sebulan. Tapi sekali lagi Tuhan menunjukkan kasih setiaNya. Saya dapat orderan memfoto sebuah sekolah yang sedang buka cabang di Surabaya. Dan yang mengejutkan, pembayaran dilakukan tidak lama setelah pekerjaan saya selesai. Biasanya invoice baru di bayar dalam jangka waktu 3 minggu. Akibatnya rekening saya terisi kembali dan saya yakin bisa bertahan hidup di bulan Januari dengan gaya hidup saya yang wajar, tanpa berhemat-hemat seperti orang yang bener-bener harus berhemat. 

Satu hal yang saya tarik dari peristiwa ini, bahwa saya itu dicintai Tuhan dengan sangat. Tuhan mengenal saya dengan baik. Ini semua bukan karena usaha saya. Taat itu baik, perpuluhan itu baik, memberi untuk orang lain itu baik, berkorban itu baik. Semuanya yang kita lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan itu baik, tapi bukan karena itu Tuhan memelihara saya. Tapi semata-mata karena Tuhan mencintai saya. And… that’s it! Apalagi yang saya butuhkan?

Waktu saya ingat dengan kisah Raja Hizkia yang divonis mati karena penyakitnya lalu berdoa pada Tuhan untuk mengingat perbuatan baiknya pada Tuhan, saya agak merasa gak enak. Tanpa diminta, Tuhan sudah mengingat perbuatan baik kita. Bahkan meskipun kita tidak baik padaNya kasih setia Tuhan itu terlebih dulu pada kita. 

Meskipun saat ini saya masih bergumul pada satu masalah major dalam hidup saya. Saya tetap yakin Tuhan memperhatikan saya. Maybe I was born this way, saya cacat… tapi itu tidak menyurutkan kasih setiaNya pada saya. Saya tidak dibenarkan karena perbuatan saya, tapi semata-mata karena kasih setiaNya pada saya. Dan dia akan terus melakukan perbuatan baikNya pada saya, meskipun saya sekotor apapun. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s