inheritance : a burden or a gift?

Suksesi… 

pasti berbuntut pada tetek bengek yang berurusan dengan warisan. Suksesi tidak selalu berurusan dengan tahta dan kekuasaan, hidup pun mengalami suksesi. Kematian yang menjemput tanpa diduga adalah suksesi alam atas kehidupan yang lain.

Beberapa bulan yang lalu salah satu teman dekat meninggalkan dunia fana, wafat. Suksesi alam atas hidupnya terjadi sudah. Saya sedih, keluargaya sedih, dan teman-teman yang pernah dekat pun sedih. Dia meninggalkan dunia ini dengan dua anak; yang satu masih balita yang satu masih merasakan udara bumi ini dalam hitungan bulan. 

Kami teman-teman berkumpul untuk mengenang teman kami. Dalam pada itu ada sebuah komentar yang menurut saya tidak masuk akal. “Untung almarhumah sudah punya keturunan ya.. jadi kita masih punya warisan untuk di kenang”. Otak saya segera bekerja, mengolah dua kata yang baru saja terlontar dari salah seorang teman. Untung? Warisan? 

Menurut teman saya, dua anak tadi adalah warisan buat orang yang ditinggalkan dan merupakan keuntungan juga buat yang ditinggalkan. Apa sebab? Karena yang ditinggalkan bisa mengenang almarhumah dalam diri kedua bocah tadi (entah bentuk fisik atau sifat yang diturunkan dari almarhumah pada anaknya sebagai penerus biologis almarhuman).

Saya tidak habis pikir dengan cara pikir teman saya ini. Bagaimana dia bisa menganggap bayi-bayi piatu ini sebagai warisan dan keuntungan? Sebelum saya tanya lebih lanjut, saya meyakinkan diri (dengan cara bertanya pada yang berkomentar) bahwa pemikirannya ini murni bukan dari dalil agama/ kepercayaannya. Dan saya lihat komentar ini murni keluar dari latar belakang keluarga dan apapun itu yang jelas2 bukan dari kepercayaan yang dianutnya.

Menurutnya, dengan meninggalkan warisan berupa dua bocah itu, yang ditinggalkan bisa melihat/ mengenang almarhumah. Fine, saya bisa terima.. tapi apa harus melalui mahluk hidup yang sebentar lagi akan merasakan sengsaranya dunia tanpa kehadiran seorang ibu? Dasar keuntungan yang sangat egois kalau saya boleh bilang. 

Warisan dari almarhumah, yakni dua bayi itu bisa jadi juga menolak untuk dijadikan warisan jika tahu akan kehilangan ibunya. Warisan yang tentu saja bukan untuk mereka, tapi untuk orang lain yang mengenal ibu mereka. Keuntungan bagi yang mengenal ibunya, tapi beban bagi bayi-bayi ini yang tidak pernah mengenal ibunya. 

Saya pesimis? bukan… saya realistis. Tanya saja pada mereka yang hidup besar tanpa figur seorang ibu. Kalau mereka bisa memilih, pasti mereka tidak mau pada posisi sebagai warisan tanpa keuntungan.

Samai sekarang saya masih berusaha mencerna komentar teman saya : warisan dan keuntungan.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s