Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Buku yang luar biasa!

Menurut saya novel ini sarat makna namun mudah dicerna. Mengapa? Karena gaya penuturan/ bahasa yang dipakai oleh Ahmad Tohari sangat merakyat, tidak berbelit-belit namun diksinya tinggi. Namun dibalik kesederhanaan tersebut terkandung konteks cerita yang sangat kompleks dan komplit.

Salah satu kekuatan (dari banyak kekuatan) yang ada dalam buku ini adalah pendeskripsian yang mendetail. Dengan sangat spesifik, sang penulis berhasil melukiskan kejadian demi kejadian. Bukan hanya pendeskripsian setting (latar dan historis) yang begitu hidup, namun yang menarik, penulis juga berhasil mendeskripsikan segala perasaan yang dialami tokohnya dengan baik. Ahmad Tohari menggunakan analogi-analogi yang pantas untuk melukisakan apa yang terjadi serta setiap perasaan yang dirasakan oleh setiap karakter sehingga membuat pembaca dengan serta-merta bertransformasi menjadi salah satu karakter di novel ini.

Novel ini bertutur tentang segala urusan kemanusiaan dengan balutan kehidupan masyarakat sederhana di sebelah tenggara Jawa Tengah. Entah tempat ini fiktif atau bukan, namun fenomena yang diangkat, yakni masyarakat dengan budaya cabul yang mereka anggap biasa, membuat pembaca menganga.

Munculnya ronggeng sebagai identitas sah pedukuhan ini terwakilkan oleh Srintil, seorang ronggeng muda yang melalui dia, segala urusan kemanusiaan dikemukakan dalam novel ini. Mulai kebutuhan dasar seperti urusan perut, seks, dan materi, sampai pada urusan yang lebih kompleks seperti pengakuan, nilai moral, makna benar-salah, dan otoritas.

Buku ini juga menyajikan pengetahuan budaya yang luar biasa, terlepas dari sorotan norma, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa budaya cabul itu ada. Penulis berhasil mengangkat budaya ini menjadi sebuah setting yang baik tanpa terkesan porno.

Mencermati kebutuhan primitif manusia yang diolah menjadi sebuah kebudayaan sangat menarik! Betapa saya terkesima bahwa ronggeng sebenarnya adalah posisi terpandang dan hanya perempuan terpilih yang dihinggapi “indang ronggeng” yang bisa menjadi ronggeng. Prosesi malam bukak klambu yang prestisius, atau seni make up tradisional yang menggunakan getah papaya dan arang untuk mempertajam alis mata dan daun sirih untuk memerahkan bibir. Buah pikir manusia yang seperti itu yang membuat saya terkagum-kagum dengan novel ini.

Ditambah lagi dengan keberanian sang penulis yang menyinggungkan ceritanya pada isu krusial pada jamannya, membuat saya semakin mencintai novel ini dan penulisnya. Pada saat novel ini ditulis, partai terlarang bergambar palu arit ini sangat tabu diucapkan, seperti the Dark Lord dalam film Harry Potter. Jangankan mengangkatnya menjadi tema, membicarakannya saja sudah sangat tabu. Ahmad Tohari dengan berani menorehkannya dalam cerita, meskipun tidak secara eksplisit dan vulgar.

Saya pribadi memberikan bintang 5/5 pada novel ini. Dan saya dengar novel ini menjadi bacaaan wajib kurikulum sastra di universitas-universitas.

Image

3 thoughts on “Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

  1. Aandaikata kita waktu liburan di Karrimunjawa diperlama,,,,tidak menutup kemungkinan kita bertemu dg si peemeran Srintil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s