Tentang Kebrutalan, Pendidikan, dan Perubahan

Apa yang salah dengan negeri kita?
Mengaca dari kejadian (maaf) pembantaian jamaah Ahmadiyah di Pandeglang, lalu kerusuhan di Temanggung dengan pembakaran gereja dan fasilitas umum, orang waras pasti tau kalo negeri ini sedang tidak beres.

Saya sebenarnya capek nulis topik seperti ini. Di samping sudah banyak yang mengungkapkan uneg-uneg dan pendapatnya saya juga bukan orang cerdas. Saya tidak bisa berbuat banyak untuk membantu memecahkan masalah ini tetapi paling tidak saya sekarang mencoba menulis, alih-alih ada yang baca dan bisa menginspirasi yang lain.

Di balik kejadian ini, saya mengira ada yang salah dengan sistim pendidikan di Indonesia.
Selama 12 tahun saya dicekoki dengan teori berbangsa dan bernegara, dicekoki sumpah pemuda dan Undang-undang Dasar 1945 dan teori Agama. Pada intinya semuanya itu mengajarkan perdamaian dan bagaimana hidup sebagai bangsa dan warga negara Indonesia.

Saat saya mulai bisa membaca, bacaan pertama adalah sila-sila yang terpampang di bawah burung garuda. Bukan main bangganya jika orangtua saya pamer pada teman2 beliau kalo saya bisa membaca lima sila bahkan hafal di luar kepala.

Ketika saya masuk bangku kuliah, negara masih tidak puas mendoktrin saya dengan PPKn, Sejarah, dan PSPB selama duabelastahun belakangan. Saya masih disuguhi mata kuliah Kewiraan dan Pendidikan Pancasila demi membuat saya tahu bagaimana menjadi warga negara Indonesia yang baik.

Pertama kali mendengar berita pembantaian dan pembakaran itu reaksi saya adalah marah, jengkel, dan sakit hati.. tetapi lama kelamaan sepertinya saya melihat cermin. Mereka yang melakukan kekerasan itu sebagian ada dalam diri saya. Perasaan marah, jengkel dan sakit hati yang mereka rasakan persis sama seperti apa yang saya rasakan sekarang. Bedanya cuman object kemarahan itu sendiri. Kalau mereka marah karena ideologinya diinjak-injak, kalau saya marah karena mereka berlaku tidak adil.

Saya lihat kembali twit2 saya dan status2 yang saya tulis di FB, saya ngeri sendiri. Kemarahan dan kebencian saya pada pelaku kerusuhan ternyata mengerikan… tidak lebih baik dari pelaku2 kerusuhan sendiri. Saya seharusnya diam, tidak bereaksi negatif pada mereka karena dengan begitu saya memutus rantai kebencian. It will never end if we pay them back meskipun hanya komentar2 yang mungkin kita anggap sepele.

Ternyata selama 12 tahun lebih saya dicekoki doktrin2 berwarganegara, saya masih belum bisa mengaplikasikannya. Teori tinggal teori. Mentor-mentor saya gagal, semuanya tidak lebih sakti daripada yang lain. Ilmu yang mereka ajarkan hanya informasi dan prediksi.

Meskipun guru PPKn saya berbuih buih menyuruh kita menghafal UUD 45, beliau tidak lebih sakti dari guru agama saya yang membekali saya dengan prasangka-prasangka buruk pada pemeluk agama lain.

Meskipun dosen Kewiraan saya sangat apresiatif saat kami berargumentasi tentang butir-butir Pancasila, tapi beliau tidak lebih sakti dari guru Agama teman saya yang mengajari teman saya untuk membenci agama selain agamanya.

Meskipun (maaf) saya orang Jawa yang diajar untuk bersopan santun dan bertata krama dengan baik, namun seketika itu saya menjadi barbar ketika kelompok saya berusaha memaki dengan menyebut nama suku tertentu yang barusan menabrak mobil kami; padahal jelas2 tidak ada hubungannya antara suku dan nabrak mobil.

This country educates haters better than others… itu status FB saya beberapa waktu lalu, karena saya yakin pendidikan di negeri ini cuma teori saja sehingga kejadian2 barbar yang seperti itu masih bisa terjadi. Pemikiran saya dikuatkan lagi dengan video yang di upload teman saya, tentang pendidikan perdamaian yang lebih pada praktek daripada teori. Saya pikir sedari kecil manusia Indonesia harus dihadapkan pada hidup yang nyata, terjun langsung pada hidup dan dengan pendampingan yang benar oleh para pendidik yang tahu hidup itu seharusnya bagaimana.

Jangan lagi ada eksklusifitas, sekolah yang berdasarkan pada agama atau golongan tertentu karena nantinya mereka tidak akan bisa melihat bahwa dunia ini punya berbagai macam perbedaan. Indonesia tidak siap dengan konsekuensi yang ditanggung pada produk2 nanggung ini nantinya. Mereka tidak akan bisa melihat pelangi. Mereka hanya akan melihat hitam dan putih saja. Mereka tidak akan siap dengan dunia yang sebenarnya.

Dunia tidak hanya agama Kristen saja; tapi ada Islam, Budha, Konghucu,Hindu, Atheist, Jewish. Orthodox..

Dunia tidak hanya suku Jawa saja; tapi ada Cina,  Madura, Bugis, Caucasian..

Dunia tidak hanya laki-laki dan perempuan saja; ada transgender, ada yang tidak punya kelamin, ada juga yang kelaminnya berubah ketika menginjak dewasa…


Dan tidak satupun manusia berhak menghakimi yang satu lebih benar atau salah, baik atau buruk, normal atau abnormal… Tidak satu manusiapun. 

Jika Anda menganggap apa yang Anda yakini benar… keep it for yourselves, perjuangkan itu dengan damai tanpa melukai perasaan manusia lain.

Satu lagi, mulai perubahan ini dari individu terkecil…. diri kita sendiri.. Jangan sekali-sekali menuntut orang lain berubah.

Salam Damai!!
Jonaz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s