Kenapa Obat Paten Harganya Mahal?

obat

 

Tulisan ini seharusnya ditulis oleh teman saya yang mantan Medical Representatif… Tapi berhubung beliaunya adem ayem saja, baiklah saya mau menulis tentang topik ini.

Lagi-lagi saya harus minta maaf di awal, pada para dokter idealis, yang bekerja tulus dan penuh dignitas, yang jumlahnya hanya segelintir saja di Indonesia.

Saya menulis ini bukan untuk memojokkan profesi tertentu, tapi mencoba untuk berbagi wawasan baru yang saya dapat dan berharap tulisan ini bisa bermanfaat. Saya minta maaf jika ada pihak yang tersinggung dengan tulisan saya ini. Informasi yang saya dapat dari teman MR saya sudah saya konfirmasikan dengan teman saya (yang kebetulan seorang dokter yang sedang berjuang memperoleh gelar spesialis bedah urologi) serta pengalaman pribadi.

Berawal dari cerita2 tentang pekerjaan terdahulu, teman saya -seorang muslimah yang taat- bercerita tentang pekerjaannya sebagai detailer obat/ medical representative untuk perusahaan farmasi “X”. Dia bertugas beberapa bulan di Bali dan setiap hari dia berkeliling rumah sakit untuk menjajakan obatnya. Seperti pada umumnya pekerjaan sales, dia juga dituntut untuk memenuhi target penjualan.

Sudah menjadi rahasia umum (tapi saya baru tau) jika ada hubungan simbiosis mutualisme antara dokter dengan pabrik farmasi. Celakanya hubungan saling menguntungkan ini tumbalnya adalah pasien dan keluarganya. Jika si dokter mau “memakai” obat yang diproduksi oleh pabrik “X” maka dokter tersebut sudah dipastikan bakal mendapat “benefit”. Besarnya benefit tergantung dari tawar menawar antara si bos dengan ujung tombak pabrik farmasi, yakni MR. Yang saya dengar, benefit itu bisa berwujud insentif sekian persen dari penjualan obat, berlibur gratis (dalam dan luar negeri), seminar gratis, bahkan mobil dan rumah.a

Sebaliknya, dengan bersedianya si dokter memakai obat yang ditawarkan si MR, otomatis obat yang dijual MR laku dan target bisa penjualan bisa dicapai sehingga si MR juga dapat bonus. Tentu saja simbiosis ini bersifat proporsional.. Dokter yang sekolahnya habis duit banyak tentu saja mendapat bagian lebih besar, sedangkan MR yang hanya S1 (atau kadang lulusan SMA) pasti dapat porsi lebih sedikit.

Sebagai produsen yang mewakili pihak kapitalis, tentu saja mereka menginginkan grafik penjualan terus merangkak naik. Persaingan yang ketat antar kapitalis menambah runyam suasana. Sang kapitalis tidak peduli jurus apa yang dilakukan oleh pion-pion caturnya untuk maju berperang menjajakan obat. Akibatnya persaingan antar sales juga makin menjadi, mengikis akal sehat dan nurani para sales ini.

Perang bonus, dominasi, dan monopoli. Semuanya menjadi budak uang. Sang dokter hanya mau meresepkan satu obat saja diantara ratusan alternatif obat yang bisa dipakai. Berapa kali kita mendengar si dokter menolak untuk mengganti obat pada saat petugas apotek mengkonsultasikan alternatif obat lain karena stok obat yang diresepkan oleh sang dokter sedang kosong? Dokter sudah kepincut dengan iming-iming benefit dan fasilitas yang ditawarkan oleh perusahaan farmasi tertentu. Mengganti merek obat sama dengan mengurangi omzet penjualan yang berdampak pada mengecilnya insentif/ fasilitas yang nanti bakal diterimanya. Dominasi oleh dokter sangat kentara.

Ada juga cerita menarik, sewaktu dia berurusan dengan satu-satunya ahli bedah (kalau tidak salah ahli bedah syaraf) di Bali, karena dia satu-satunya dokler bedah di situ tentu saja dia menjadi raja kecil di dunia medis, dia berhak menentukan obat apa yang dipakai. Otomatis para produsen obat berlomba-lomba untuk memenangkan hati si dokter itu. Pernah suatu kali dia meminta komisi yang lebih besar (sebesar 40% dari harga obat) setelah gagal nego dengan teman saya yang MR, si dokter dengan sangat tidak sopan melecehkan si MR, teman saya. ”Aku gak mau berurusan sama kamu… kamu itu apa… bukan kelas saya… aku mau ketemu sama atasanmu”. Sampai suatu kali ada dokter bedah baru yang praktek di Bali, tentu saja si dokter lama kebakaran jenggot, monopolinya berakhir.

Pernah suatu kali teman saya berada di rumah sakit dan melihat pasien yang sedang anfal… dan dia dengan sukacita berkata dalam hati “Wah.. pasien ini pasti ditangani dokter X, dia kan pakai obatku. Tembus deh target”. Entah setan apa yang merasukinya, bukannya berdoa untuk si sakit (ato paling nggak simpati) tapi malah memikirkan bonus dan target.

Lalu bagaimana dengan pasien? Hahahah… tentu saja pasien dan keluarganya menjadi ladang emas bagi dua profesi di atas. Banyak dokter berdalih hanya menjual obat mahal ke pasien kaya (mahal karena minimal 20% insentif untuk dokter dibebankan pada harga obat). Ini konyol, it’s a pathetic excuse. Meskipun pasien kaya ataupun dicover asuransi, jika sudah masuk ke ranah kesehatan, duit itu tidak berarti. Pasien seharusnya diperlakukan sama. Pasien adalah korban yang seharusnya mendapat perlakuan adil dan jujur, bukan sebagai sapi perahan bagi segelintir profesi. Memang tidak semua dokter begitu, ada yang jujur dan berlaku adil. Tapi itu jaman dulu, atau kalau ada mereka yang dokter umum dan hidup di desa.

Cerita saya pribadi, suatu kali saya pernah bermasalah dengan kesehatan dan dokter internis merujuk saya untuk melakukan USG di sebuah laboratorium yang sudah ditunjuk. Sewaktu hasil sudah ada, saya kembali berkonsultasi dengan dokter tersebut. Pertama yang dilihat adalah sampul amplop hasil USG yang berbeda dengan lab yang dia tunjuk sebelumnya. Dia mengkerutkan dahinya, lalu membaca sekilas dan meminta saya untuk USG ulang di laboratorium yang ditunjuknya dengan alasan hasil lab yang saya bawa tidak akurat. Saya pulang dan langsung pindah dokter.

Saya hanya bisa berpesan untuk pasien, jadilah pasien yang cermat. Jangan takut untuk bertanya dan meminta alternatif baik obat ataupun metode pengobatan. Bagi profesi di atas, mulailah berpikir untuk mendapat kesejahteraan akhirat kelak, bukan hanya memburu kesejahteraan duniawi yang berasal dari penderitaan orang lain.

11 thoughts on “Kenapa Obat Paten Harganya Mahal?

  1. Hahaha.. Yang komen ini mantan korban dan memutuskan untuk tidak percaya medis sampai sekarang. Coba kamu pikir lagi, dengan komposisi yang sama persis, kenapa satu obat bisa lahir dalam dua bentuk kemasan? Satu namanya Decolgen, satu Feminax. Cermati komposisinya, sama persis! Tapi kenapa satu untuk flu, satunya untuk menstruasi? Tanyakan saja pada Galileo, hahaha

      1. nggak juga kok.. banyak masyarakat modern yang beralih ke obat herbal, dan banyak para ahli yang mengembangkan dan meneliti obat herbal sekarang ini.🙂

      2. yups betul, banyak masyarakat modern yang beralih ke obat herbal, dan banyak para ahli yang mengembangkan dan meneliti obat herbal, tapi akhirnya produknya hanya bertahan sesaat, musiman, karena tidak berefek menyembuhkan, tapi hanya sugesti.

      3. Karena herbal sifat kuratifnya progresif, bukan instan seperti obat pada umumnya. Makanya banyak orang yang tidak sabar dan lebih memilih instan meskipun efek sampingnya mengerikan.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s