Sisa Cerita Ulang Tahun

Baiklah.. ada sedikit cerita yang masih tersisa di ulangtahun kemaren. Saya punya dua ibu, don’t get it wrong.. bukan berarti bapak saya berpoligami atau ibu saya kembar siam. Tapi ibu kandung dan ibu angkat.

Ibu kandung saya bernama Susy, wanita tangguh yang menjadi guru saya semenjak saya lahir dan menginjak remaja. Namun sayang, beliau pulang duluan waktu saya SMA.

Beliau ini perancang baju nomer wahid. Pernah suatu kali beliau nonton acara yg mengulas tentang Lady Diana di TV sambil membawa pensil dan secarik kertas. Dan beberapa waktu kemudian beliau sudah memakai baju ala Lady Diana ke suatu acara. Beliau sangat modis dan hobi mengumpulkan sepatu, salah satunya adalah sepatu Maruchu yg lebih dikenal sbg wedges jaman sekarang.  Sayangnya beliau tidak bisa menularkan jiwa modisnya ke orang lain. Saya bilang modisnya egois. Beliau tidak bisa menyarankan orang lain itu bagusnya pakai apa, termasuk pada kakak perempuan saya yg sangat ndeso kalo pake baju. 

Dari beliau, sifat yg suka kluyuran diwariskan pada saya. Ibu saya sudah menjelajah jawa pada saat itu yg transportasinya masih acakadul. Saya dengar cerita tentang Waduk Sempor, Gajah Mungkur dan Cilacap dari beliau… dan sampai sekarang saya masih belum pernah menginjakkan kaki kesana.

Ibu angkat saya bernama Elizabeth, dia warga negara Australia. Saya mulai dianggap anak sejak tahun 2002, so it’s been sudah sepuluh tahun. Dari beliau saya belajar tentang hidup sebagai manusia dewasa. Cara pandang tentang hidup, pilihan dan segala konsekuensinya. Beliau juga mengajari bagaimana saya harus bersikap pada diri saya dan memelihara hati dan jiwa. Saya suka dengan cara pandangnya tentang hidup. Beliau juga yang membuat saya segera merampungkan kuliah, menyelamatkan saya dari jurang DO. Beliau juga yang memberi pilihan-pilihan waktu saya putus dengan bajingan sunda dan menghidupi konsekuensi yang saya ambil… sampai sekarang.

Jika saya boleh ambil kesimpulan, ibu Susi adalah pembentuk watak saya dan ibu Elizabeth adalah pembentuk cara pandang saya.

Uang tahun.

Ibu Susi tidak suka dengan hal yang sentimentil dan protokoler. Jadi selama saya ulang tahun, saya tidak pernah sekalipun merayakannya. Kedua kakak saya pun tidak pernah merayakan ulang tahun. Hanya doa bersama mengucapkan syukur pada Tuhan atas setahun penyertaanNya.

Lain dengan ibu Elizabeth yang sentimentil dan suka pada hal-hal yang detail. Selama sepuluh tahun ini beliau tidak pernah absen menelpon saya bahkan sewaktu beliau di Jerman, di NZ, atau di China beliau susah payah cari telpon satelit demi suara yg jernih. Sewaktu beliau tinggal di Indonesia, beberapa kali saya merayakan ulang tahun bersama. Kebetulan putri kandungnya juga berbintang sama dengan saya.. hanya berjarak 2 minggu. Biasanya sih makan di hotel yang belum pernah saya datangi. Dulu pernah sekali saya minta merayakan di salah satu pub… tapi dasarnya sama emak-emak, beliau nggak suka dan nggak mau party all night long😦

Btw, ibu angkat ini rada aneh.. selain telpon beliau juga kirim e-card… haish… 

Image

6 thoughts on “Sisa Cerita Ulang Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s