Happy 5th anniversary my dear blog..

Nggak kerasa sudah 5 tahun ngeblog… di wordpress ini…

Happy anniversary my dear blog(s)

Image

Advertisements

Impulsif Kognitif

Halah.. darimana juga saya dapat istilah itu… Impulsif Kognitif, sebuah perliku yang cenderung mengutamakan refleks berbuat sesuatu tanpa berpikir panjang/ reflektif namun sifatnya membangun.

Hmmm…. bagus juga buat saya move on dari orang Sunda itu.. paling tidak untuk beberapa saat (hiks!)… Mungkin di twitter saya sudah berkicau tentang seseorang yang (bakal) menjadi korban sifat impulsif saya. Yap benar…! Sudah beberapa minggu ini motivasi ibadah saya tercemar gara-gara ada yang nyangkut di mata saya.

Ada seseorang yang selalu datang beribadah dengan ibunya dan selalu duduk di tempat yang sama. Saya memang nggak suka duduk di tempat yang sama jika sedang beribadah, tapi akhir-akhir ini saya selalu berada di sayap kanan gedung gara-gara pengen sebangku dengan kecengan. Awalnya saya duduk di bangku belakang mereka, lama-lama sederet dengan bangkunya dan selalu berharap jemaat yang datang banyak sehingga saya bisa duduk dengannya tanpa ada pemisah bangku kosong. Well, kadang harapan saya ini menjadi nyata, kadang tidak.

Sebenarnya dia nggak cakep2 amat sih.. tapi ada sesuatu yang membuat saya tertarik, tentu saja secara fisik. Kalau ditanya kenapa tertarik sama dia? Saya sendiri bingung jawabnya… mungkin masalah selera saja sih.. Kalo ditanya balik, apakah dia tertarik sama saya? Saya masih belum tahu, tapi beberapa kali saya lihat sudut matanya mengarah ke saya, mencuri-curi pandang ke saya.. entah dalam kapasitas yang bagaimana.. tapi intensitasnya lumayan sering (er… masih seringan saya curi pandang ke dia sih…)

Okey, sekarang skornya… dari skala 1-5, dia itu 4,2 sedangkan saya 3.75 (tau diri.. ) jadi ada selisih 0.45 point untuk fisik. Ini yang membuat saya berani maju mendekatinya begitu saya merasa ada ketertarikan dengannya… impulsif dong…

Tapi.. tapi.. ibunya itu lho kayak herder… Kayaknya dia tau saya ngecengin anaknya dan dia nggak suka. Minggu kemaren duduknya dioper. Ibunya yang biasa duduk di ujung barisan sekarang menaruh anaknya diujung barisan dan kalau saya memaksa duduk sederet dengan mereka, saya bakalan bersebelahan dengan ibunya, bukan dengannya.. dan ini nggak asik hahahha. Saya nggak kurang akal dong, daripada maksa dan cuman bisa ngelirik ibunya, saya memilih duduk dibelakangnya…

Sekarang tapi yang kedua, saya rasa kepribadiannya nggak cocok sama saya…. Saya melihat dia itu bukan orang yang spontan, terlalu homy, too quiet, terlalu penurut, anak mama. Gimana nanti cara saya nyulik dia buat kabur traveling? GImana saya nanti boring dengan obrolan kami? GImana nanti nyambungnya? Ah, tapi saya kan belum tentu benar…

Tapi.. tapi… ini kesempatan saya buat move on dari si Sunda itu, kalo berhasilsih – kalo enggak ya mungkin saya akan mundur dengan terartur begitu impulsi saya sudah berakhir atau siap-siap patah hati jika kasusnya saya bertepuk sebelah tangan.

Tugas saya sekarang.. menjalaninya.. no plan. Hahahahah… brengsek lu Jo.. pantesan jomblo berkepanjangan… Just like what this picture said, I will wait for the other 4 months.. NOT FOR JOHNY DEEP of course!

Image

Ku Merindu Perjalanan Kita

Aku merindu sebuah perjalanan yang tak terencana, seperti yang kita lakukan biasanya, dulu.

Ke sebuah negeri yang tak terpetakan, negeri asing yang belum pernah kita jamah.

Berada pada stasiun kecil pagi-pagi buta, menumpang sebuah kereta kumuh, penuh dengan peluh. Menunjuk papan jadwal kereta dengan mata terpejam lalu membeli karcis sembarang tujuan.

Berjam-jam duduk di bangku kereta yang keras, bau matahari di rambutmu, bau ketekku, membuat atmosfir baru.

Selalu kita mengarah ke tempat tinggi. Dikejar malam, mengejar pagi, berlomba dengan hujan lalu menepi. Pada sebuah pondok kosong kita berhenti.

Tak ada takut, tak ada tawar hati, sentosa dalam balutan kabut dan purnama yang sembunyi.

Malam mengharu, tak ingin segera berlalu.. aku, kamu, dan sleeping bag biru.. lalu dengkur menderu.

Rona pagi menjelang… dan alam pun berbaik hati menjamu kita dengan pagi yang mewah.. gerimis, kabut, dan setermos kopi panas.

Pelukku…

Geliatmu…

Topi baumu…

Jaket kumalku..

Hujanmu…

Kabutku…

Pinusmu..

Ilalangku…

Tak satu pun kata terucap, namun hati kita beresonansi dalam nada yang selaras dengan lambaian pucuk pinus dan belaian embun…

Aku, kamu, di sebuah negeri baru…

Image

Kontroversi RUU Ormas Pengganti UU Kemasyarakatan No. 8 Tahun 1985

Berawal dari kejadian pagi tadi, saya mendapat email dari Green Peace tentang petisi pnolakan RUU Ormas yang akan disahkan 12 April ini. Dalam ajakannya, Green Peace berargumen tentang keberatannya pada RUU ini, di antaranya adalah definisi ormas yang terlalu luas, pendaftaran yang terlalu rumit (punya AD-ART, daftar ke Walikota sampai mendagri atau bahkan punya akta notaris) dan yang paling krusial adalah kekhawatiran dinonaktifkan oleh pemerintah karena pasal karet pada RUU ini.

Tentu saja saya tidak serta merta menandatangani petisi ini, saya cari informasinya dan tanya pada teman-teman yang saya pikir mumpuni dan punya informasi lebih. Saya juga mengirim email pada Greenpeace supporterservices.id@greenpeace.org meminta penjelasan lebih tentang mengapa harus menolak RUU ini. Dari Mas Heru, kawan saya yg seorang journalist saya mendapat info bahwa yg sedang dipertentangkan adalah asas tunggal Pancasila dan larangan penerimaan dana asing. Menurut kakak saya ini, secara spirit memang bagus untuk transparansi dan responsibility tapi di sisi lain ada siasat mengontrol dan mengekang dari pemerintah.

Secara pribadi, saya pikir RUU ini baik. Indonesia adalah negara hukum dan semuanya harus diatur dalam hukum dan perundang-undangan. Jika memang suatu ormas jujur dan punya AD/ART yang baik kenapa harus takut dengan undang-undang ini? Ketakutan untuk dikontrol oleh pemerintah saya pikir adalah paranoid. Tidak semudah itu untuk mengontrol ormas di era sekarang, keterbukaan pers dan organisasi pemerhati dunia bisa dengan mudah dijangkau.

Tentang definisi ormas yang terlalu luas. Saya pikir tidak dengan serta merta karang taruna atau club vespa harus mendaftarkan organisasinya dan punya AD/ART dan berbadan hukum. Menurut saya, harus didefinisikan lebih runut tentang pengertian ormas lalu diselaraskan dengan tujuan dibentuknya RUU ini (dengar-dengar untuk merepres ormas anarkis)

Lalu asas tunggal Pancasila apa jeleknya? Jika suatu ormas didirikan dengan fondasi Agama dan Ketuhanan, tidak serta merta bertentangan dengan asas Pancasila bukan? Bahkan Pancasila sendiri menomorsatukan masalah ini dengan mencantumkannya pada puncak silanya.

Tentang pelarangan penerimaan dana asing. Ini pasal yang tidak saya setujui. Selama ada audit independen yang menerbitkan laporan penerimaan dan penggunaan dana suatu ormas saya rasa ini tidak masalah. Mungkin pemerintah seharusnya harus menyediakan dana untuk audit ini, bukan menyediakan dana operasional ormas-ormas seperti sekarang ini. Dengan begitu transparansi bisa dijamin dan masyarakat luas bisa ikut mengontrol aktifitas suatu ormas. Ini mungkin yang paling ditakuti oleh organisasi asing semacam Greenpeace. Karena selama ini mereka tidak pernah melaporkan rincian penggunaan dana pada masyarakat, bahkan pada donaturnya sendiri.

Negara demokrasi tidak selalu identik dengan kebebasan. Kebebasan itu perlu dikontrol agar tidak menjadi bar-bar. Kontrol tidak selalu berkonotasi negatif. Kalaupun ada pelanggaran pada kontrol itu… rakyat bisa melawan. Jadi apa yang musti ditakutkan?

Jadi saya putuskan untuk menandatangai petisi ini, tapi bukan untuk menolak tetapi agar pemerintah merevisi pasal-pasal yang kurang sesuai.

Ditulis dengan naif oleh Johanes Jonaz Greenpeace supporter ID : 43473

Bilaku…

Metronome. Ulang tahun. Senja dan subuh. Birama. Musim.

Ada makna yang tersirat dari kata-kata di atas. Apa itu? Ya.. mereka adalah “Penanda Waktu”.

Akhir-akhir ini banyak kejadian yang mengingatkan saya tentang waktu yang semakin sedikit. I mean, waktu fana saya di dunia ini. Pertama, ada seorang teman yang tiba-tiba jatuh sakit, lumayan parah. Lalu kematian seseorang yang pernah saya kenal. Dan yang terakhir adalah pagi ini ketika teman saya menanyakan nomer KTP untuk booking tiket, ada DOB di nomer itu.. dan hey… look at this, I’ve been living in this world long enough…

Terbersit sebuah perenungan, betapa waktu saya itu sangat dijatah. Dan dengan serta merta otak saya mulai meracau, memikirkan pencapaian-pencapain dan kerumitan filosofis seperti tujuan hidup, untuk apa saya hidup dan sebagainya..

Sejurus kemudian saya berpikir tentang kematian. Jujur saya takut, bukan takut mati.. tapi proses menuju mati itu yang saya takutkan. Dengan cara apa saya mati, itu yang menghantui saya? Otak saya kembali menayangkan adegan horror kecelakaan maut, pesawat jatuh dari udara, sampai proses kematian tenggelam di air.

Lalu pagi ini saya lihat foto-foto lama. Ada Ibu saya yang lagi mejeng di atas kuda. Lalu mamah saya yang lagi terjun payung, dengan muka dan rambut yang kacau karena gravitasi. Teman saya yang sedang jadi co-pilot pesawat kecil (padahal dia bukan pilot). Mary Ann yang sedang safari ke Afrika. Juple yang minggat ke Eropa. Teman-teman yang sudah membukukan Gunung Welirang dengan ekspedisi mereka…

Wih… kalau berbicara tentang apa-apa yang sudah dilakukan sebelum mati ini bikin lebih ngeri daripada proses menuju mati itu sendiri. Bikin saya terkencing-kencing untuk segera melakukan banyak hal gila sebelum saya pulang ke rumah Bapa.

Ada beberapa hal/ keinginan yang kemungkinan besar bisa terjadi. Di antaranya, saya pernah berpikir untuk membuat tattoo salib selebar bahu saya, yang hanya bisa terlihat utuhu waktu saya buka baju. Ini bisa terjadi.. tinggal ke artis tattoo dan menyodorkan model tattoo namun itu belum saya lakukan. Saya juga berpikir untuk mempunyai rambut ikal sebahu, masih dalam proses. Sudah mulai keriting tapi masih mirip kambing etawa daripada model rambut bayangan saya.

orlando bloom, ciyus?

Tapi ada juga hal/ keinginan yang butuh usaha keras dan mujizat. Seperti mengunjungi Machu Pichu lalu diam disana selama enam bulan, nyanyi bareng feat. Craig David, menggelar konser piano tunggal di Swiss, menghasilkan buku best seller tapi tanpa penerbit komersil, ikut ekspedisi menyusur hutan amazon, macarin sutradara film indie yang idealis, dan berpetualang di New Zealand sama pacar saya.. oh fnck..!

Saya ingin melakukan bermacam-macam hal selama saya hidup…

Dan mimpi…. Ini yang membuat saya tetap hidup.

 

 

My Dogs

12 o’clock midday, I was about to go home when I saw a black puppy was lying -almost dead- under a tree. He was very small, probably 3 months old and frail. It seemed that this dog was a survival of violence that the boys in my neighborhood usually do to a lost dog.

I brought this poor thing to my house. I insisted to keep him in my house and my mum couldn’t say no. There! I officially had my first dog, my own dog, not my sisters’ nor my brothers’. I named him Boy, heck if I had a reason to name this dog Boy.

Eventually, Boy is not the first dog in my family. When my brother was a boy, he had a female dog named Heli. Too bad that Heli lived only a year, she was hit by a car. It left a traumatic situation for my mum, since Heli was so close with her. It caused she refused to keep another dog to replace Heli.

Boy, became the second dog of my family. I was big enough to take the responsibility to feed him and walk him every morning. I had a great time with Boy until I had to leave home for a couple of years for school. I really wanted to bring him with me, silly, and off course i couldn’t. Boy was sick and dead a while after.

Then came Hugo and Carlos, my own dog in my own house. A golden retriever and a mixed breed. Hugo was very obedient, sensitive and playful on the contrary, Carlos was very stubborn, independent yet playful as well. I didn’t realize that living single with two dogs would take huge responsibility. They made me stop traveling for about 5 years because I couldn’t leave them alone. Well, sometimes I paid people to take care of them when I had to travel but still, it’s just a mater of trust and bad feeling to leave them alone too often and too long.

The bond between me and my dogs was extremely strong. I must admit that my dogs were smart and such a great fellas for me. They could communicate with me well and seemed understand my feelings and verbal words. Having them was wonderful, they gave me a lot in return.

It was a sad thing when I lost them. Hugo was dead when he was 5 and Carlos was adopted by church’s pastoral. I had to let this happen because I must leaving town for some business.

I don’t plan to have any dogs in recent time. It is taking enormous resp:)onsibility to keep them and I think I don’t have that for now. Maybe,… maybe in the future I will keep a basset hound to accompany me when I get old, and living in a farm. :P… Maybe…

Oh, how I missed them a lot!

http://animal.discovery.com/breed-selector/dog-breeds/hound/basset-hound.html
http://animal.discovery.com/breed-selector/dog-breeds/hound/basset-hound.html

Kosong

Pernah merasakan kesepian yang sangat saat berada di tengah hingar bingar sekitar? Atau begitu merasakan kekosongan setiba di rumah setelah selesai hang out dengan teman-teman?

Saya pernah… beberapa kali. Biasanya kalau saya lagi “hang” di tengah keramaian, saya akan lebih banyak diam, lebih banyak mendengar dan paling banter senyum maksa.

Kalau seperti itu saya akan paksa salah satu teman saya untuk menginap di rumah. Tapi kadang trik itu gagal, ada kalanya rasa kosong itu muncul pada saat saya sudah ada di depan pagar rumah. Kalau sudah begini saya biasanya memutar haluan ke warung kopi terdekat. Sekedar menyeruput kopi atau mendengar omong kosong percakapan orang-orang yang ada di situ. Atau kalau sudah terlalu lelah untuk ngopi, saya lebih milih berdiam menghabiskan rokok di teras rumah sambil menghitung berapa kali satpam kompleks memukul kentongan besi penanda waktu.

Yah, penyebabnya itu… #mulai menye-menye

Kemaren saya ngobrol dengan teman tentang masa lalu, tentang masa sekarang dan masa depan. Tidak terlalu banyak karena saya tidak begitu dekat dengannya jadi masih ada dinding-dinding yang perlu dipertahankan agar tidak terpenetrasi. Tapi pada dasarnya, ada satu point yang bisa didapat; ada ruang kosong yang belum terisi pada diri saya… (kost2an kali…)

Saya pikir-pikir ada benarnya juga, pada masanya.. saat saya pulang hangout dan waktunya pisah… ditengah jalan tiba-tiba saya galau setengah mati… dan tanpa sadar saya bilang : I should’ve been with you.. yes, you! Saya seharusnya saat ini lagi sama kamu… pulang berdua, saya nggak sendirian. Oh God…. kalo sudah gini saya langsung ancang-2 nelpon salah satu teman untuk diculik atau cari warung kopi yang masih ramai.

Ada ruang kosong yang masih belum terisi, dan ini bahaya… Yap, balik lagi nggak bisa move on. Seperti batu yang terbelah dua, sisi-sisinya hanya akan bisa pas jika disambung dengan pecahan batu yang sama. Tapi pecahan batu yang satunya sudah hilang, pergi.. dan sekarang saya yang mencoba mencari batu yang sisinya mirip untuk disambung.. ada yang mirip tapi pasti tidak pas… ada yang pas tapi pasti out of my league… hahahah #kasian

Tapi ya itulah… saya memilih untuk terus mencari yang pas daripada memaksakan yang tidak pas… Orang kata apa terserah.. saya jalani pilihan saya dan tanggung semua konsekuensinya… Pasti bisa.

http://dahlenje.blogspot.com/2011/04/empty.html
http://dahlenje.blogspot.com/2011/04/empty.html