Impulsif Kognitif

Halah.. darimana juga saya dapat istilah itu… Impulsif Kognitif, sebuah perliku yang cenderung mengutamakan refleks berbuat sesuatu tanpa berpikir panjang/ reflektif namun sifatnya membangun.

Hmmm…. bagus juga buat saya move on dari orang Sunda itu.. paling tidak untuk beberapa saat (hiks!)… Mungkin di twitter saya sudah berkicau tentang seseorang yang (bakal) menjadi korban sifat impulsif saya. Yap benar…! Sudah beberapa minggu ini motivasi ibadah saya tercemar gara-gara ada yang nyangkut di mata saya.

Ada seseorang yang selalu datang beribadah dengan ibunya dan selalu duduk di tempat yang sama. Saya memang nggak suka duduk di tempat yang sama jika sedang beribadah, tapi akhir-akhir ini saya selalu berada di sayap kanan gedung gara-gara pengen sebangku dengan kecengan. Awalnya saya duduk di bangku belakang mereka, lama-lama sederet dengan bangkunya dan selalu berharap jemaat yang datang banyak sehingga saya bisa duduk dengannya tanpa ada pemisah bangku kosong. Well, kadang harapan saya ini menjadi nyata, kadang tidak.

Sebenarnya dia nggak cakep2 amat sih.. tapi ada sesuatu yang membuat saya tertarik, tentu saja secara fisik. Kalau ditanya kenapa tertarik sama dia? Saya sendiri bingung jawabnya… mungkin masalah selera saja sih.. Kalo ditanya balik, apakah dia tertarik sama saya? Saya masih belum tahu, tapi beberapa kali saya lihat sudut matanya mengarah ke saya, mencuri-curi pandang ke saya.. entah dalam kapasitas yang bagaimana.. tapi intensitasnya lumayan sering (er… masih seringan saya curi pandang ke dia sih…)

Okey, sekarang skornya… dari skala 1-5, dia itu 4,2 sedangkan saya 3.75 (tau diri.. ) jadi ada selisih 0.45 point untuk fisik. Ini yang membuat saya berani maju mendekatinya begitu saya merasa ada ketertarikan dengannya… impulsif dong…

Tapi.. tapi.. ibunya itu lho kayak herder… Kayaknya dia tau saya ngecengin anaknya dan dia nggak suka. Minggu kemaren duduknya dioper. Ibunya yang biasa duduk di ujung barisan sekarang menaruh anaknya diujung barisan dan kalau saya memaksa duduk sederet dengan mereka, saya bakalan bersebelahan dengan ibunya, bukan dengannya.. dan ini nggak asik hahahha. Saya nggak kurang akal dong, daripada maksa dan cuman bisa ngelirik ibunya, saya memilih duduk dibelakangnya…

Sekarang tapi yang kedua, saya rasa kepribadiannya nggak cocok sama saya…. Saya melihat dia itu bukan orang yang spontan, terlalu homy, too quiet, terlalu penurut, anak mama. Gimana nanti cara saya nyulik dia buat kabur traveling? GImana saya nanti boring dengan obrolan kami? GImana nanti nyambungnya? Ah, tapi saya kan belum tentu benar…

Tapi.. tapi… ini kesempatan saya buat move on dari si Sunda itu, kalo berhasilsih – kalo enggak ya mungkin saya akan mundur dengan terartur begitu impulsi saya sudah berakhir atau siap-siap patah hati jika kasusnya saya bertepuk sebelah tangan.

Tugas saya sekarang.. menjalaninya.. no plan. Hahahahah… brengsek lu Jo.. pantesan jomblo berkepanjangan… Just like what this picture said, I will wait for the other 4 months.. NOT FOR JOHNY DEEP of course!

Image

11 thoughts on “Impulsif Kognitif

  1. yaelaaahh.. kebanyakan mikir nih. kalau nanti begini.. kalau nanti begituu.. akhirnya gak maju2 hahaha.. Orang yg gagal move on biasanya dari semarang lho Jo. kamu kan dari sby, seharusnya sih berhasil. #analisangawur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s