Sebuah Kelegaan

Yes, akhirnya saya dengan bulat hati menghentikan dukungan saya terhadap Greenpeace Indonesia. Setelah melakukan pengamatan dan berpikir, saya berkesimpulan bahwa :

  1. Greenpeace bukan LSM yang transparan.

  2. Greenpeace pilih-pilih untuk melakukan aksi.

 

Greenpeace yang katanya lebih dari 40 tahun berkarya tidak pernah melakukan audit. Dari laporan tahunan yang dipaparkan di websitenya tidak pernah dicantumkan darimana sumber pendapatannya. Kalau dipikir-pikir, dengan kegiatan seabreg dengan skala global.. tidak mungkin Greenpeace mendanai kegiatannya yang mahal ini dari donasi pribadi seperti saya, yang hanya membayar 50.000 sampai 200.000 tiap bulannya.

 

Hal kedua adalah hubungannya dengan Freeport dan hasil limbahnya yang merusak hutan dan air disana. Saya pernah menanyakan masalah ini pada humas greenpeace di Indonesia tentang perusakan lingkungan Papua yang dilakukan oleh Freeport, dan mendapat jawaban yang tidak masuk akal. Sepertinya ada template khusus yang bisa dicopy-paste untuk menjawab pertanyaan masalah seputar Freeport.

 

Humas Greenpeace menjawab bahwa yang menjadi persoalan pada Freeport adalah pelanggaran hukum pada operasionalnya, misalnya pembukaan lahan tanpa izin pinjam pakai dan pembuangan limbah berbahaya ke sungai. Dia menyebutkan dalam konteks ini pemerintahlah yang seharusnya melakukan penegakan hukum.

 

Lalu apa bedanya Freeport dengan Sinar Mas? Sinarmas juga melakukan hal yang sama dengan Freeport, namun Greenpeace dengan gencar melakukan kampanye terhadap Sinarmas hingga membuahkan moratorium penangguhan pembukaan hutan baru. Dan, apa yang dilakukan Greenpeace pada Freeport? Boro-boro menghasilkan moratorium, bahkan tidak satu kampanye pun pernah disuarakan.

 

Pada websitenya, Greenpeace menyebutkan salah satu kampanyenya adalah air dan limbah beracun yang terkandung di dalamnya akibat limbah industri. Jika Greenpeace begitu concern dengan sungai Citarum dengan kampanyenya memata-matai perusahaan yang membuang limbahnya langsung ke sungai dan meminta masyarakat untuk mengupload temuan mereka di jejaring sosial. Apa yang dilakukan Greenpeace untuk sungai-sungai di Papua yang tercemar limbah Freeport? Sekali lagi tidak ada satu kampanye pun terlontar.

 

Beberapa waktu lalu Greenpeace pernah nyinyir tentang pembukaan jalan di Papua Barat dengan menggunakan eksistensi penyu belimbing sebagai tameng. Disebutkan jika pembangunan jadi dilakukan, akan merusak ekosistem tempat penyu belimbing. Yang lebih konyol, Greenpece dalam salah satu twitnya menyebut bahwa lampu2 yang nantinya ada pada ruas jalan menyulitkan navigasi penyu yang akan bertelur di pantai sekitar Papua Barat. Tidakkah Greenpeace tahu, di Jawa yang kebanyakan pantainya terang benderang, punya pantai Sukamade dan Ujung Genteng tempat penyu bertelur.

 

Saya jadi berpikir, mungkinkah ada skenario antara Freeport dan Greenpeace dengan menghalang-halangi pembangunan jalan di Papua Barat. Dengan memperlambat pembangunan di Papua, bisa jadi Papua tetap menjadi tempat terisolir, terbelakang dan menjadi monopoli Freeport.

 

Dan, saya berhenti berdonasi untuk Greenpeace. Tapi apakah saya berhenti beraksi untuk lingkungan? Tentu tidak.. saya akan menggunakan jejaring sosial menyuarakan Papua dan mendorong Greenpeace untuk melakukan sesuatu, sampai membuahkan hasil… Ya, membuahkan hasil seperti janji dalam kampanye mereka.

 

Peace,

Greenpeace ID : 43473 (yang sebentar lagi dicoret)

Image

Advertisements

What is God?

Bertolak dari blog yang saya baca tentang manusia timah di tempat Monik. Saya jadi pengen menggambarkan Tuhan dari sudut pandang saya.

Bermula dari penglihatan-penglihatan mahluk luar angkasa dan kejadian lain yang sulit diterima akal (karena ilmu pengetahuan belum bisa menjabarkannya, mungkin) timbul sebuah pertanyaan; do they exist?

Saya menjawabnya : Ada. Mereka ada. Sama seperti keberadaan dinosaurus dan manusia purba, saya mempercayai keberadaan UFO dan alien. Bahkan saya juga percaya, di sebuah tempat, ada mahluk lain yang belum kita ketahui keberadaannya sedang merajut hidup. Mungkin sekelompok lendir berbudaya dan berteknologi tinggi, atau kelompok sinar yang hidup berkoloni.

Lalu apa hubungannya dengan Tuhan? Well, sebelumnya saya minta maaf kalau misalnya saya menyinggung penganut agama tertentu, tidak ada maksud menghina sama sekali. Ini murni cuman sharing pendapat.

Manusia mengenal Tuhan melalui kitab sucinya. Kitab suci, menurut manusia adalah dalil yang mutlak. Hukum absolut yang tidak bisa ditawar lagi kebenarannya. Apa yang ada di dalam kitab suci harus diyakini.

Tapi manusia sering lupa bahwa Tuhan itu nyentrik. Pernah tidak menemukan kisah dalam kitab suci yang rasanya tidak masuk akal? Misalkan saja, konsep dosa adalah ganjarannya neraka. Saya ingat ada kisah dari saudara muslim tentang perempuan tuna susila yang masuk surga gara-gara memberi minum anjing (binatang yg patut dihindari) yang hampir mati. Atau dalam kitab suci umat Kristen tentang kisah penjahat berdosa besar yang disalib bersama-sama Tuhan Yesus, yang pada akhirnya diajak ke surga karena mengakuiNya sebagai Tuhan pada detik-detik kematiannya.

Manusia lupa bahwa Tuhan itu nyentrik. Pada ras yang sama : manusia, Tuhan bisa memberikan pemahaman yang berbeda tentang diriNya. Jika ini bisa dilakukanNya, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Tuhan juga membuat ciptaan lain nun jauh disana, diluar jangkauan manusia, ras lain yang tidak kita ketahui bentuknya yang diberiNya pemahaman 180 derajat berbeda dengan pemahaman manusia tentang Tuhan, bisa jadi mereka punya agama dan kepercayaan serta kitab yang berbeda pula.

Tidak salah mengikuti tuntunan kitab suci untuk memahami ketuhanan Tuhan karena kita diciptakan sebagai ras homo sapiens. Tapi berpikr global tentang Tuhan, keluar dari kitab suci juga tidak masalah sebab Tuhan itu nyentrik, maha besar, maha bisa dan tidak satu mahluk pun mampu memahami pikiranNya yang maha luas, err… bisa jadi maunya Tuhan seperti itu sehingga dia menciptakan kubikel yang bernama kitab suci. Pengetahuan manusia tentang Tuhan dibatasi oleh Tuhan sendiri melalui kitab suci. Who knows?

Curhat Sang Piscesan

Ini bukan musyrik atau menyekutukan Allah. Tulisan ini hanya buat fun doang.

Kata orang, manusia yang lahir dibawah naungan bintang ini punya jiwa artistik yang tinggi. Kehidupan cintanya juga dramatis, sangat ekstrim. Jika sudah jatuh cinta, tanpa sadar dia mencurahkan semua cinta yang dia punya pada kekasih hatinya. Semangatnya sangat berapi-api pada bulan-bulan pertama, tapi dengan cepat bisa padam bila cinta yang ada sudah luntur. Ibaratnya seperti api yang diperoleh dengan menyiram bensin, sangat besar namun hanya sebentar.

Jika sudah patah hati, Piscesan adalah orang yang paling sakit dan tidak mudah disembuhkan. Lukanya teramat dalam dan bila sembuh akan membekas. 

Somehow, seperti itulah kira-kira saya. Dulu, emak saya pernah bilang, “Kalau lo jatuh cinta jangan kasih semua cinta yang ada… sisain buat diri lo” Saya nggak tau maksudnya apa, belakangan saya baru sadar kalo sebenarnya emak saya itu tau bener gimana saya. Trus beliau juga bilang “Kalo lo patah hati, jangan bikin hati lo seperti batu. Tapi buat hati lo seperti kuncup bunga yg suatu saat bisa mekar lagi”.. Mak mak… emang saya bisa ngatur2 gitu?

Jiwa keartisan seorang Pisces berbanding lurus dengan kegalauan. Ini teori yang saya temukan  untuk piscesan. Waktu saya sedang jatuh cinta, saya bisa menulis berlembar-lembar syair dan prosa cinta. Begitu juga saat patah hati, saya bisa berhari-hari galau dan main piano lagu2 galau sambil misuh-misuh.

Trus saya nulis gini ada hubungannya sama apa? HAhahahha… saya malu cerita… P

Hanya Sebuah Kisah

Saya bukan penganut cinta yang memerlukan perayaan. Hm, bukan karena tidak kepengen, tapi lebih pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk mempublikasikan relationship saya. Di negeri yang dindingnya saja bertelinga, sangat riskan untuk mengumbar model hubungan yang penuh polemik seperti milik saya. Urusan yang seharusnya berada di ranah haram bisa melesat ke lintasan publik yang semuanya dianggap halal untuk diperbincangkan.

Sebuah drama satir cinta tentang saya mungkin akan masuk box office bila difilmkan di Hollywood tapi mungkin akan diblock oleh FPI yag lebih berkuasa dari Mukhlis Paeni, bila difilmkan di Indonesia. Memang kisah saya tidak setragis Romeo dan Juliet, sebahagia Cinderella dan Sang Pangeran, tidak serumit Tristan dan Isolde, atau semegah Rama dan Shinta atapi saya yakin kisah saya memperkaya perjalanan hidup, well at least hidup saya sendiri.

Kelemahan saya ada pada mata, saya mudah sekali jatuh hati pada fisik yang indah namun dengan mudah pula bosan seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini sering terjadi, tapi tidak dengannya. Seorang manusia berdarah Sunda begitu memukau saya yang saat itu masih hijau. Bermata sedikit sipit, beralis tebal, bersuara lembut namun ada ketegasan dalam tiap tuturnya. Cara pandangnya untuk menapaki hidup begitu membuat saya terkesima. Dengannya, serasa saya menemukan belahan jiwa saya.

Beberapa tahun berjalan, tautan ini juga mengalami pasang surut seperti layaknya hubungan lain. Sampai pada suatu saat, dia memutuskan untuk memasuki sebuah pintu komitmen bernama pernikahan. Tidak dengan saya, tapi dengan yang lain. Saya mengerti apa keputusannya. Ideologi yang dianutnya berubah menjadi dongeng. Cerita dan pemahaman tentang perjalanan hidupnya meluruh mengikuti aliran norma. Tidak ada lagi keteguhan memegang prinsip, semuanya terkalahkan dengan stigma hidup sebagai manusia normatif.

Saya berusaha mengerti, masih, sampai sekarang. Dan sedikit banyak keputusannya juga membuat saya berfikir ulang tentang pandangan saya tentang prinsip menjalankan hidup. Saya masih mencari-cari pengganti dirinya. Mata saya masih lemah, saya sering terkesima dengan penampilan fisik seseorang tapi sejalan dengan itu, hati saya makin kuat, mencari kemurnian jiwa yang bisa berjalan dengan saya, seperti dirinya, dulu.

Renungan Insomnia, Surabaya 2013

 

SONY DSC

Live your Life

Pertanyaan yang belum terjawab sampai sekarang – secara ilmiah, tentu saja – adalah : Apakah hidup itu?

Sampai saat ini pakar biologi hanya bisa menerangkan sebatas ciri-ciri mahluk hidup, ahli bahasa juga masih berkutat pada ciri-ciri makhluk hidup. Ilmu psikologi juga tidak bisa mendefinisikan apa yang dimaksud hidup itu, dia hanya berkutat tentang permasalahan hidup itu sendiri. Tidak satupun cabang ilmu yang bisa mendefinisikan hidup secara ilmiah.

Sementara, yang ada hanya tafsiran bebas dari filsuf-filsuf yang esensinya sangat subyektif. Dan paling mentok adalah hukum agama yang tidak perlu dipertangungjawabkan kebenaranya secara ilmiah, tinggal yakin dan percaya saja.. itu dasarnya.

Baiklah, sekarang secara pribadi saya mau menguraikan hidup itu seperti apa. Kalau menurut saya, hidup itu… entahlah saya ragu menuliskannya…

HIdup itu… masa bodo dengan definisinya. Kalo bagi saya hidup itu bagaimana cara menjalankannya. Buat saya, hidup itu seperti sebuah lintasan lari yang maha luas. Karena setiap manusia adalah pesertanya maka line yang ada paling tidak sekitar 2 milyar paths. Tiap-tiap path sangat unik; bisa naik dan turun, bisa mulus dan terjal, bisa lebar dan sempit dan tidak ada yang sama antara path satu dan lainnya. Panjang lintasannya tidak terbatas dan bentuknya juga selalu berbeda. Uniknya, laju yang ditentukan tiap peserta adalah sama; 24jam/hari. Dan satu lagi, garis finishnya transparan! Para peserta tidak tahu kapan mereka mencapai garis finish. Di saat peserta mencapai finish, itulah akhir dari kehidupannya; kematian. Dan pathnya akan dilanjutkan oleh peserta lain, yang berarti sebuah kelahiran, kehidupan baru.

Jika dilihat rata-rata jatah hidup manusia adalah 60 tahun, berarti ada 21.900 hari atau 525.600 jam. Dikurangi jam tidur yang rata-rata adalah 8 jam/ hari maka waktu aktif kita adalah 394.200 jam alias 16.425 hari alias 45 tahun hidup aktif. Not that much huh?

Yang saya inginkan adalah hidup sehidup-hidupnya di usia aktif ini… Saya ingin hidup sungguh-sungguh. Melihat apa yang ada dengan sungguh-sungguh, menatap wajah saudara saya, teman-teman saya, matahari pagi, hujan, dan pekatnya malam. Saya ingin mendengarkan suara orang lain dengan sungguh-sungguh, meskipun kadang tidak mengenakkan buat telinga saya. Saya juga ingin merasakan dan menikmati apa yang dirasa oleh kulit dan mulut saya.

Saya juga ingin bepergian sesering mungkin dan menghabiskan waktu bersama teman-teman, terbahak-bahak sampai perut sakit, bercerita yang seru-seru dan duduk diam menikmati semesta.

Saya juga ingin terus bermimpi, merencanakan hal-hal yang gila dan terlihat mustahil. Trip ke New Zealand dengan Juple dan Acen, pergi ke daerah terpencil seperti Togean dan Poso bersama teman-2 traveling saya Juni nanti. Membuat buku indie tentang perjuangan hidup ibu saya, atau mengirim demo piano saya ke perusahaan rekaman. Bahkan suatu kali secara spontan, saya ingin nyanyi di pub… nggak masalah saya nanti bakalan dilempar botol. I’ll take the risk. Saya juga ingin jatuh cinta dengan sungguh-sungguh… 🙂

Jadi, bagaimana hidup kalian? apakah kalian juga ingin hidup dengan sungguh-sungguh? Seperti pepatah yang pernah saya dengar; life is short, laugh a lot, forgive instantly, don not regret what you have done, see more places, make a lot of friends.

Beautiful_Sunset_by_BradyV