Hanya Sebuah Kisah

Saya bukan penganut cinta yang memerlukan perayaan. Hm, bukan karena tidak kepengen, tapi lebih pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk mempublikasikan relationship saya. Di negeri yang dindingnya saja bertelinga, sangat riskan untuk mengumbar model hubungan yang penuh polemik seperti milik saya. Urusan yang seharusnya berada di ranah haram bisa melesat ke lintasan publik yang semuanya dianggap halal untuk diperbincangkan.

Sebuah drama satir cinta tentang saya mungkin akan masuk box office bila difilmkan di Hollywood tapi mungkin akan diblock oleh FPI yag lebih berkuasa dari Mukhlis Paeni, bila difilmkan di Indonesia. Memang kisah saya tidak setragis Romeo dan Juliet, sebahagia Cinderella dan Sang Pangeran, tidak serumit Tristan dan Isolde, atau semegah Rama dan Shinta atapi saya yakin kisah saya memperkaya perjalanan hidup, well at least hidup saya sendiri.

Kelemahan saya ada pada mata, saya mudah sekali jatuh hati pada fisik yang indah namun dengan mudah pula bosan seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini sering terjadi, tapi tidak dengannya. Seorang manusia berdarah Sunda begitu memukau saya yang saat itu masih hijau. Bermata sedikit sipit, beralis tebal, bersuara lembut namun ada ketegasan dalam tiap tuturnya. Cara pandangnya untuk menapaki hidup begitu membuat saya terkesima. Dengannya, serasa saya menemukan belahan jiwa saya.

Beberapa tahun berjalan, tautan ini juga mengalami pasang surut seperti layaknya hubungan lain. Sampai pada suatu saat, dia memutuskan untuk memasuki sebuah pintu komitmen bernama pernikahan. Tidak dengan saya, tapi dengan yang lain. Saya mengerti apa keputusannya. Ideologi yang dianutnya berubah menjadi dongeng. Cerita dan pemahaman tentang perjalanan hidupnya meluruh mengikuti aliran norma. Tidak ada lagi keteguhan memegang prinsip, semuanya terkalahkan dengan stigma hidup sebagai manusia normatif.

Saya berusaha mengerti, masih, sampai sekarang. Dan sedikit banyak keputusannya juga membuat saya berfikir ulang tentang pandangan saya tentang prinsip menjalankan hidup. Saya masih mencari-cari pengganti dirinya. Mata saya masih lemah, saya sering terkesima dengan penampilan fisik seseorang tapi sejalan dengan itu, hati saya makin kuat, mencari kemurnian jiwa yang bisa berjalan dengan saya, seperti dirinya, dulu.

Renungan Insomnia, Surabaya 2013

 

SONY DSC

2 thoughts on “Hanya Sebuah Kisah

  1. just let it flow bro.
    anything happen for a reason rite?
    jangan memaksakan sesuatu harus ada hanya karena harus, tapi sesuatu harus ada karena hati menginginkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s