Cinta Tak Kan Usai

Di malam sesunyi ini, aku masih s’orang diri
Tiada teman yang menemani seperti dulu
Kala kau di sampingku
Mampukah dirimu kasih membendung perasaanku
Yang seakan tiada batas lagi
Kesadaranku hilang terlalu jauh
 
Pernah kita merasakan bersama
Ciuman di tengah gerimis hujan
Sampai mentari bersinar lagi
Seakan s’galanya tiada ‘kan berakhir
 
Percayalah kepadaku semuanya belum berakhir
Kita akan bersatu lagi
Sebagaimana keyakinan diriku 
 

Tulisan ini random, tentang cinta yang belum usai sebuah pasangan. Comment will be ignored.

Berurusan dengan cinta yang belum usai itu memang sulit. Kata orang, cinta dan benci itu batasnya tipis sekali, sebuah peristiwa bisa mengubah cinta jadi benci atau sebaliknya. Tapi ada kalanya omongan ini tidak berlaku bagi beberapa orang.

Pertengkaran, teriakan, atau perbuatan yang sengaja dilakukan pasangan untuk menyakiti hati satu sama lain, misalnya : selingkuh; bahkan tidak dapat melunturkan cinta yang ada. 

Mungkin karena saking lamanya mereka berhubungan sehingga cinta mereka bisa begitu kuat. “Lama” di sini tentunya bukan secara khronos (time) tapi koiros (moment) dengan pasangan, tidak intens, tapi sangat berkualitas. Ada rasa ketergantungan dan toleransi yang luar biasa yang mengalahkan rasa sakit hati. Dengannya, dia menemukan banyak kecocokan. Meskipun ada tapi sangat minim dan masih bisa ditoleransi, minor problem.

Mereka suka menentang takdir… Pada umumnya orang-orang akan bicara : Ya sudah, kawin saja. Sudah… mereka sudah kawin, tapi masing-masing dengan orang lain. Nah.. kalo begini urusannya jadi panjang kan? Hueheheheheheh….

Ah sudahlah…

 

Image

Advertisements

Tidak Bermaksud Rasis

Blog ini saya tulis saat saya lagi merah padam, pengen nonjok orang, pengen misuh. Tapi daripada urusan panjang…. lebih baik saya nulis, menganalisa dan sebagainya. Cuk, Fnck!!

Hari pertama kerja sudah ribut sama bule. Sebagai office manager, tanggungjawab saya untuk mempersiapkan operasional sekolah begitu tahun ajaran dimulai.  Urusannya sepele, eh tapi gak bisa dibilang sepele juga sih. Barang-barang kelasnya belum dapat, sementara yg lain udah dapat. Lha kok bisa? Ternyata dia copas requisition form dari kelas lainnya. Dan disitu masalahnya, mungkin pihak purchasing ngira itu double requisition jadi yg diproses cuman satu doang.

Pas pada hari H si bule ini mencak2 dengan muka merah, karena keperluannya belum dipenuhi. Saya dong yang jadi sasarannya. Wajar. Gw diam aja, sambil gw cari tau apa yang terjadi. Biar gak jadi keributan, gw kontak orang gudang untuk ngasih keperluan dia, as an emergency situation. I know this is wrong, gw yakin guru lain bakalan protes kalo tau kejadian ini. Tapi, ya sudah daripada ribut, gw telen aja, toh nanti kalo misalnya sampai ke telinga bos, solusinya bakal sama : get the things she wants ASAP tanpa melihat maslahnya gimana.

Bule, tidak selalu benar. tapi banyak yang bela. Ini hanya ada di Indonesia. Repot kalo masyarakatnya sudah bule minded. Bule itu serasa agung banget, pinter dan semua yang dilakukan amazing. Padahal kalo udah bergaul lama sama bermacam-macam bule… gak semuanya itu bener. Banyak bule bodoh, cerewet, dan mau menang sendiri.

Mau contoh? Bule tuwek, elek, tapi bawa brondong cantik, karena mindset orang Indonesia sendiri yg bilang punya pasangan bule itu “sesuatu”. Bule pindah agama, wih.. langsung dah stasiun TV rame2 berebut bikin acara buat dia. Bahkan buat wisata pun, bule selalu dinomersatukan. Orang lokal dianggap gak penting, padahal sama-sama bayar pake duit.

Gw gak benci bule, gw cuman ngelus dada sama kebanyakan orang Indonesia yang menganggap bule itu dewa…

 

 

 

Merayakan Kematian

Buat sebagian orang kematian mungkin adalah hal yang menakutkan. Saya pun berfikir seperti itu, kadang-kadang..  Yang membuat saya ngeri dan ogah membayangkan adalah proses menuju kematian. Dengan cara apa saya mati? Apakah karena sakit? usia? atau kecelakaan?

Tapi begitu ingat bahwa ada kehidupan setelah mati yang lebih baik dari kehidupan yang sekarang saya hidupi, saya tidak lagi takut mati.

Saya punya cita-cita, jika saya mati saya akan mendonorkan jasad saya, semua anggota tubuh saya. Entah itu nanti bisa dipakai lagi untuk melanjutkan hidup orang lain atau pun untuk cadaver.

Tidak akan ada upacara penguburan, saya hanya minta teman-teman dekat dan sodara saya mengatur sebuah assembly kecil di sebuah ruang pertemuan yang cozy bercat coklat muda dengan penerangan yang terang. Tidak ada karangan bunga bela sungkawa, hanya kumpulan foto kegilaan saya dengan teman-teman selama saya masih hidup.. banyak memenuhi dinding ruangan! Dan mereka tidak boleh ada yang menangis. Semua harus bahagia dengan mengenang kisah-kisah gila yang kami alami selama hidup, bercerita tentang kegilaan kami.

That’s it, itu cara saya merayakan kematian saya. Kalo kalian? Pernah berpikir tentang itu nggak?

Image