Sudah Siap Bercinta

Tubuh manusia tahu kapan waktunya jatuh cinta, baik secara psikis maupun secara biologis. Secara periodik, tubuh kita memproduksi hormon-hormon yang membuat kita siap bercinta. Bila seseorang merasa dirinya indah walaupun tidak berkaca, senyum spontan saat bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya, percaya diri yang meningkat.. itu tanda-tanda tubuh sedang dipengaruhi hormon cinta. Tanpa kita sadari, tubuh kita mengeluarkan scent yang khas, yang membuat kita lebih menarik dan sensual.

Tapi sayangnya kesiapan tubuh untuk jatuh cinta tidak selalu dibarengi dengan keberuntungan. Saat kita siap untuk jatuh cinta, seringkali tidak ada objek yang tepat sebagai sasaran panah digdaya cinta. Entah itu tidak ada objek yang menarik hati, cinta bertepuk sebelah tangan, dan sebagainya.

Ah, seandainya manusia itu seperti singa…  Setiap kali pejantan dikuasi hormon cinta, dia bisa langsung ngehek dengan hareemnya. Tapi sayangnya kita bukan kawanan singa yang cintanya cuman sebatas ngehek-selesai. Manusia dilengkapi perasaan yang juga mengendalikan cara kita bercinta. Tebar-tebar pesona, memberi dan diberi perhatian, ungkapan-ungkapan cinta, cemburu-cemburuan, trus pertengkaran kecil, romantisme… sampai ke tahap-tahap selanjutnya yang rumit.

Balik lagi ke keberuntungan yang tidak selalu didapat saat kita siap jatuh cinta. Ada banyak kejadian yang bisa saya ceritakan. Saat kita siap bercinta, tentu orang lain juga bisa melihatnya. Untung bila yang melihat itu target kita, tapi kadang yang bukan target kita sering lebih sensitif menangkap sinyal-sinyal tubuh yang sedag jatuh cinta. Jadinya ya gitu deh…

Lebih parah lagi jika kita sudah siap bercinta tapi tidak menemukan target yang tepat, jadilah kita playboy cap kapak… tebar-tebar pesona tanpa tujuan. Believe me, keadaan seperti ini akan membuat kita dicap sebagai laki-laki flamboyan atau perempuan gatal. And we cannot help it. Itu diluar kontrol kita (kecuali emang terlahir seperti itu).

Ahh… kacau kalau sudah begini Image

Advertisements

Don’t start this war, please…

Sekali lagi logika dan nurani dibenturkan… Sangat keras. Dua pendulum yang berbeda kiblat itu kembali meregang, bersiap menunggu momentum tabrakan sambil terus menabuh genderang perang karena sebuah pemicu; hadirnya masa lalu.

Koloseum batin sudah tidak digunakan bertahun-tahun, menganga terbuka merindukan luka. Mungkin Semesta, Sang Begawan perang sedang kesepian, dia ingin sedikit bermain dengan perang ringan; menguji kekuatan dua muridnya : logika dan perasaan. Apakah setelah sekian lama, peta kekuatan itu berubah. Dia ingin tahu.

Sang begawan menggunakan umpan berupa masa lalu yang indah, ditempatkannya dia di saat yang tepat. Saat ini.

Persiapan perang sudah dimulai begitu masa lalu hadir. Benteng logika mulai membangun reruntuhannya dari kekalahan perang sebelumnya. Dan sang pemenang dari pertempuran terakhir, perasaan, dengan pongahnya menebar spionase, meretas syaraf dan mulai menguasai indera, menghitung kans kemenangan sambil sesekali meneropong keadaan masa lalu.

Sang begawan sepertinya sudah memasang taruhan; siapa yang akan menang dalam pertempuran kali ini. Tak kalah pongah, bertingkah seolah-olah dia yang mengendalikan takdir. Menang kalah bukan masalah. Tidak ada urusan. Yang penting dia disuguhi sebuah pertempuran yang mengibur.

Wahai Perasaan, semangatmu patut diacungi jempol, tapi kamu terlalu membabu buta. Kemenangan-kemenangan yang kamu peroleh itu fana. Dan pada akhirnya tidak bermakna.

Dan kau Logika, strategi petempuranmu terlalu kuno. Kamu tidak inofatif mencari cara mengalahkan musuhmu dengan jitu. Kamu tidak cakap dalam berunding, kata-katamu loyo.

Pada akhirnya, kemenangan bukanlah apa-apa. Siapapun yang menang adalah pemenang pertempuran semu. Kosongkanlah medan pertempuran segera, jangan tertarik dengan umpan masa lalu dari sang Begawan.
Kasihanilah aku, biarkan aku damai untuk sejenak.Image