Disorientasi Kanan Kiri

Suatu sore saya janjian dengan teman untuk makan malam. Sebut saja Mawar.. (kok kayak korban perkosaaan ya).. Ganti, ganti! Sebut saja Arnold, aka Raflesia Arnoldi.. hm.. sounds good.

Si Arnold ini belum pernah ke rumah saya jadi saya kasih alamat rumah. Saya pikir si Arnold ini tau cara cari rumah saya, tapi ternyata tidak. Setelah memasuki daerah saya, dia nelpon. “Eh Jo, gw udah sampe lampu merah dekat terminal Bratang, gw belok kanan ato kiri?” Saya nggak menjawab, terdiam, lalu berteriak dengan lantang : “kiri!” dan percakapan terputus.

Beberapa lama kemudian telpon berbunyi lagi, dari Arnold.

“Jo, gw udah sampe Superindo yang dekat sungai, ge terus atau puter balik?”

“Superindo? Daerah situ ga ada Superindo kali..”

“Gw udah belok kiri dari prapatan tadi, trus udah lewatin dua kampus, trus ada sungai.. ”

“Lho harusnya nggak ada kampus, gak ada superindo”

Saya mikir keras dan baru sadar dan kalo saya salah kasih instruksi. Dari traffick light seharusnya dia belok kanan, menuju rumah saya.. bukan belok kiri yang malah menjauhi rumah saya. Otak saya sudah menggambarkan peta virtual posisi teman saya dan tau kalo harus bilang ke kanan tapi yang keluar dari mulut adalah kiri. Jadinya : teman saya nyasar.

Saya sering bingung antara kanan dan kiri terutama jika ditanya secara spontan atau dalam keadaan tertekan/ pikiran kemana-mana. Saya sering asal nebak aja kanan dan kiri. Kalo jadi navigator saya lebih suka bahasa tarzan pake tangan (nunjuk-nunjuk arah) dan ini terbuti ampuh. Dan kalau posisi saya yang nyetir saya juga mengharapkan hal yang sama dari navigator saya : Jangan bilang kanan kiri, cukup tunjuk arah aja pakai tangan.

Teman saya sering ngamuk karena jadi korban salah arah saya, entah itu note yang saya buat lewat email, sms, atau apapun yang sifatnya indirect. Oleh karena itu saya lebih memilih menggunakan mata angin sebagai penunjuk arah jika saya harus menjelaskan sebuah lokasi. Buat saya Utara, Selatan, Timur, Barat jauh lebih mudah dan masuk applicable untuk otak saya daripada kanan dan kiri. Tapi sayangnya, teman-teman saya tidak banyak yang paham dengan arah mata angin… #menderita.

Tidak ada yang salah dengan fungsi organ saya. Saya hanya tidak terbiasa dengan kanan kiri. Saya tahu yang mana kanan dan yang mana kiri, tapi tidak secara spontan dan aplikatif. Saya butuh waktu untuk berpikir dan memetakannya dalam citra visual yang ada di kepala saya #halahbahasanya!

Teman-teman saya suruh saya pakai jam tangan. Dan itu tidak berhasil, otak saya ngerti.. tapi mulut saya kacau. Otak bilang kanan, yang keluar dari mulut malah kiri. Ah, saya malah stress.

Image

6 thoughts on “Disorientasi Kanan Kiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s