Kenapa Saya Galau Di Minggu Malam?

Image

Ini jawabnya… Semalam saya ngobrol sama ibunya anak-anak… Dari diskusi nama jabang bayi yang kata teman saya (yg mendapat wangsit dari mimpi siang bolongnya) berjenis kelamin perempuan, sampai cerita-cerita masa kecil. Yang paling seru adalah ngoomongin masalah Phobia. Sampai sekarang, dia takut sama kulit telur (phobia yang aneh)…

Menjelang malam sebelum tidur saya pikir-pikir lagi, kenapa ada phobia ya? Apa trauma yang saya alami sehingga tiap minggu malam ada acara galau week, gelisah dan perasaan tidak nyaman. Saya runut-runut lagi… apa kejadian di Minggu malam selama saya masih kecil sampai beranjak dewasa, yang kira-kira membuat saya tidak merasa nyaman.

Sambil mendengarkan lagu pengantar tidur, akhirnya saya ingat kejadian di masa saya SD kelas 4. Waktu itu ada drama keluarga sehingga saya terpaksa “dititipkan” ke salah satu teman ibu saya. Namanya ibu Debora, usianya mungkin sama dengan ibu saya dan sudah berteman sejak lama. Ibu Deborah dan suaminya belum dikaruniai anak. Memang dari dulu pasangan ini sering meminta saya untuk menjadi anak asuhnya, tapi ibu saya selalu menolak dengan halus… Saya sering diberi hadiah, seperti mainan dan baju Natal.. Ibu saya tahu benar, ibu Deborah tulus menginginkan saya tapi ibu saya selalu meredam keinginannya… sampai suatu saat ibu dan bapak saya ada masalah dan dengan terpaksa ibu saya menitipkan saya ke ibu Deborah ini.

Pucuk dicinta ulam tiba, saya diboyong ke rumahnya… waktu itu saya masih kelas 4 SD. Antara saya takut dan kasihan dengan ibu saya, saya menurut. Jujur saat itu saya nggak kerasan, saya pengen kembali ke rumah saya. Pada saat itu saya dalam masa sangat menikmati masa kanak-kanak saya. Saya baru saja punya sahabat baru yang cocok, si Rahmat dan Nunung yang suka ngajarin saya banyak hal baru. Mereka lebih tua dari saya, tentunya banyak lebih banyak pengalaman dalam bermain. Mulai dari cari ikan kecil di got buat makanan ikan Lohan, main dingdong, nyolong belajar naik motor milik kakaknya si Nunung, liatin kartu remi bokep, sampe jagain kambing dagangannya Pak Jafar menjelang idul adha. Saya juga harus meninggalkan Boy, anjing milik saya yang terpaksa harus ditinggalkan karena keluarga baru ini rumahnya gak memungkinkan untuk memelihara anjing.

Setiap Sabtu sepulang sekolah, saya balik dan tinggal di rumah orangtua saya lalu minggu malam saya akan dijemput kembali ke rumah ibu Deborah. Weekend adalah waktu yang saya tunggu-tunggu. Saya bisa main dengan Nunung dan Rahmat, juga anjing saya. Meskipun keadaan keluarga saya masih belum “normal” saya nggak ambil pusing. Sebagai kanak-kanak, yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya supaya saya bisa bermain dengan Rahmat dan Nunung selama mungkin, tanpa harus tidur siang.

Minggu malam adalah saat yang paling menakutkan, saat saya dijemput dan harus kembali ke rumah bu Deborah. Rasanya pengen nangis dan nggak mau kembali, tapi saya takut menyakiti hati mereka. Selama masa saya diungsikan, jangan pernah ditanya, berapa kali saya berusaha untuk menggagalkan penjemputan di hari Minggu malam itu. Mulai dari pura-pura sakit, menggembosi mobil bu Debora (tentu dngan bantuan Rahmat dan Nunung) sampai sembunyi di rumah Rahmat. Tapi semua usaha itu gagal. Saya masih harus ikut dengan mereka tiap MINGGU MALAM. Begitulah, minggu malam membuat seorang bocah menjadi sangat gelisah, ada semacam ketidakbahagiaan yang pasti akan datang selama seminggu ke depan. Saya sedih, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Beberapa kali saya jatuh sakit, mungkin akumulasi dari rasa tidak bahagia yang selama ini sudah saya rasakan. Saya ingin cuti dari status anak asuh mereka… saya ingin kembali jadi anak normal, bermain dengan teman yang benar-benar teman saya, bukan dengan mainan plastik dan teman-temanyang saya tidak suka. Mungkin Tuhan mendengar doa saya, menjelang satu tahun bersama mereka, ibu Debora masuk RS… rupanya program pancingan mereka tidak berhasil, anak dalam rahim mereka harus diaborsi karena tumbuh di luar kandungan. Antara senang saya dikembalikan ke rumah dan sedih-kasihan lebih tepatnya dengan kondisi ibu Debora.. saya kembali ke rumah saya. 

Hm… saya langsung telpon lagi ibunya anak-anak memceritakan kisah ini yang mungkin menjadi sebab saya trauma minggu malam… 

 

Advertisements

Another Sunday Night

Image

Saya benci baca novel atau lihat film yang endingnya breath-taking.. karena begitu selesai membaca atau nonton film itu saya mulai melantur, bermimpi tentang kehidupan khayalan layaknya novel terjadi dalam kehidupan saya. Walaupun berat pada awalnya dan penuh liku, tapi suatu saat pasti dapat yang manis-manis… Pasti! 

 

Hidup sesungguhnya bukan seperti film atau novel yang semua pendukungnya sudah tahu bagaimana endingnya.. bahkan, dalam novel, angin pun juga bisa tahu kapan berembus dan kapan berhenti. Hidup itu… misteri. Memang ada sebagian orang yang percaya masing-masing manusia sudah punya garis hidup. Entah itu nasib atau takdir.. jangan tanya bedanya .. saya nggak tahu. Hm.. atau jangan-jangan istilah ini hanya buatan semata, sebagai dalih atas hidup yang susah ditebak ini. Who knows…

 

Minggu sore menjelang malam adalah waktu yang sangat menakutkan buat saya. Sepanjang hidup, saya dihantui oleh sindrom minggu malam. Nggak tahu kenapa saat pergantian minggu menjadi saat yang paling berat; ada beban untuk memulai Senin. Saya pernah diskusi dengan emaknya anak-anak, kenapa saya bisa begitu… sama halnya juga dengan dirinya yang takut sama kulit telur. Ternyata ada trauma masa kecil yang mempunyai efek sampai saya dewasa. Nanti saya cerita kenapa saya takut minggu malam, dan kenapa dia takut kulit telur… di lain tulisan.

 

Balik lagi ke masalah hidup… Sejak pisah dengan emaknya anak-anak, saya memulai hidup dengan point of view yang lain. Saat itu memang banyak pilihan; dari mulai jalan di tempat, move on, atau kombinasi dua-duanya. Nggak usah saya bilang saya pilih yang mana, tapi yang saya tegaskan di sini adalah setiap pilihan pasti ada konsekuensinya… 

 

Sebagai manusia yang sudah dewasa, tentu saja saya paham dengan konsekuensi yang akan timbul dari keputusan yang saya ambil. Selama ini saya masih bisa kompromi, walaupun kadang naik turun dan kadang sampai pada titik….. bosan. Parahnya, titik kebosanan ini akhir-akhir ini seringnya mampir di hari minggu malam… which is the most “demsit” situation dari semua hari yang ada. 

 

Seperti kemaren malam, saya sangat gelisah. Tahu rasanya makan buah mentah kebanyakan? Seperti itu rasanya perut saya… Mau keluar sekedar memanipulasi otak kok ya pas hujan. Baca buku, dari menit pertama sampai menit ke 60 hanya dapat dua halaman karena pikiran saya nggak konsentrasi. Nonton TV.. ah saya benci TV! Teman? kalo saya lagi seperti ini lebih baik saya nggak ngobrol sama teman… kesian mereka ngobrol sama zombie. Dan… saya mulai menyalahkan takdir dan nasib… kesian mereka.

 

Sampai hampir pergantian hari dari Minggu ke Senin, saya masih mondar mandir di temani rokok… entah berapa batang kemaren yang saya habiskan. Sampai akhirnya badan saya kecapean dan tertidur di kursi kayu di ruang tengah… sampai pagi. Akibatnya hari ini saya masuk angin..