Another Sunday Night

Image

Saya benci baca novel atau lihat film yang endingnya breath-taking.. karena begitu selesai membaca atau nonton film itu saya mulai melantur, bermimpi tentang kehidupan khayalan layaknya novel terjadi dalam kehidupan saya. Walaupun berat pada awalnya dan penuh liku, tapi suatu saat pasti dapat yang manis-manis… Pasti! 

 

Hidup sesungguhnya bukan seperti film atau novel yang semua pendukungnya sudah tahu bagaimana endingnya.. bahkan, dalam novel, angin pun juga bisa tahu kapan berembus dan kapan berhenti. Hidup itu… misteri. Memang ada sebagian orang yang percaya masing-masing manusia sudah punya garis hidup. Entah itu nasib atau takdir.. jangan tanya bedanya .. saya nggak tahu. Hm.. atau jangan-jangan istilah ini hanya buatan semata, sebagai dalih atas hidup yang susah ditebak ini. Who knows…

 

Minggu sore menjelang malam adalah waktu yang sangat menakutkan buat saya. Sepanjang hidup, saya dihantui oleh sindrom minggu malam. Nggak tahu kenapa saat pergantian minggu menjadi saat yang paling berat; ada beban untuk memulai Senin. Saya pernah diskusi dengan emaknya anak-anak, kenapa saya bisa begitu… sama halnya juga dengan dirinya yang takut sama kulit telur. Ternyata ada trauma masa kecil yang mempunyai efek sampai saya dewasa. Nanti saya cerita kenapa saya takut minggu malam, dan kenapa dia takut kulit telur… di lain tulisan.

 

Balik lagi ke masalah hidup… Sejak pisah dengan emaknya anak-anak, saya memulai hidup dengan point of view yang lain. Saat itu memang banyak pilihan; dari mulai jalan di tempat, move on, atau kombinasi dua-duanya. Nggak usah saya bilang saya pilih yang mana, tapi yang saya tegaskan di sini adalah setiap pilihan pasti ada konsekuensinya… 

 

Sebagai manusia yang sudah dewasa, tentu saja saya paham dengan konsekuensi yang akan timbul dari keputusan yang saya ambil. Selama ini saya masih bisa kompromi, walaupun kadang naik turun dan kadang sampai pada titik….. bosan. Parahnya, titik kebosanan ini akhir-akhir ini seringnya mampir di hari minggu malam… which is the most “demsit” situation dari semua hari yang ada. 

 

Seperti kemaren malam, saya sangat gelisah. Tahu rasanya makan buah mentah kebanyakan? Seperti itu rasanya perut saya… Mau keluar sekedar memanipulasi otak kok ya pas hujan. Baca buku, dari menit pertama sampai menit ke 60 hanya dapat dua halaman karena pikiran saya nggak konsentrasi. Nonton TV.. ah saya benci TV! Teman? kalo saya lagi seperti ini lebih baik saya nggak ngobrol sama teman… kesian mereka ngobrol sama zombie. Dan… saya mulai menyalahkan takdir dan nasib… kesian mereka.

 

Sampai hampir pergantian hari dari Minggu ke Senin, saya masih mondar mandir di temani rokok… entah berapa batang kemaren yang saya habiskan. Sampai akhirnya badan saya kecapean dan tertidur di kursi kayu di ruang tengah… sampai pagi. Akibatnya hari ini saya masuk angin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s