Saya Tidak Suka Stasiun Kereta Api

perjalanan_005-bw

Entah kenapa saya tidak suka stasiun kereta api… terutama stasiun kereta api kota kecil yang bentuknya masih kuno. Rasanya sesak di dada jika melihat stasiun bercat putih biru yang dindingnya masih terbuat dari bilah-bilah papan kayu, dengan pemandangan para penumpang yang lugu membawa bagasi mereka berupa tas jinjing dengan hiasan peniti di garis restletingnya yang sudah rusak parah. Apalagi jika melewatinya saat sore dan hujan ringan.. rasanya saya ingin turun dan menghambur bersama mereka, mengusap muka-muka lusuh dan mengintip harapan-harapan di balik tujuan mereka bepergian.

Sejak saya kecil, ibu saya selalu mengirim saya ke rumah nenek di sisi barat bahu gunung Kawi. Sejak berusia 8 tahun saya sudah melakukan solo traveling dari Surabaya menuju perkebunan Kawisari, tempat nenek saya tinggal. Saya di lepas di stasiun Wonokromo, lalu menumpang kereta api Penataran jurusan Blitar. Banyak stasiun yang disinggahi, mengingat yang saya tumpangi adalah kereta ekonomi. Saya memilih tidur sampai stasiun Malang karena menurut saya pemandangan dari Surabaya sampai Malang sangat menjemukan.

Setelah stasiun Malang, barulah pemandangan jadi begitu menakjubkan. Saya bisa melihat gunung Kawi, waduk Karang Kates dan terowongannya yang gelap, juga jurang yang dalam dibawah lintasan kereta yang saya tumpangi. Ada sejumlah stasiun yang saya lewati antara Malang dan Blitar, seperti Kepanjen, Ngebruk, Poh Gajih, Pakis Aji, Kesamben… sebelum saya turun di stasiun Wlingi. Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal saat melihat stasiun-stasiun ini. Saya sendiri tidak tahu kenapa. Ada rasa sedih, rindu, kehilangan, kekhawatiran, semuanya bercampur menjadi satu. Bagi saya, stasiun adalah tempat berpisah dan saya tidak suka itu.

Sepeninggal nenek saya, saya tidak pernah lagi pergi ke tempat-tempat itu. Sebenarnya ada rasa kangen dan ingin mengulang perjalanan masa kecil saya.. perjalanan antara Wonokromo-Wlingi. Saya rindu saat-saat saya harus menunggu kereta yang akan datang.. bermain di rel kereta api yang ujungnya lenyap ditelan cakrawala. Meraba lubang dinding kayu stasiun yang bercat putih dan biru… dan duduk dibawah pohon bougenvile yang tumbuh subur meninggi di samping stasiun sambil memperhatikan raut muka manusia-manusia lugu dan menarasikan pikiran mereka dalam batin saya.

Tapi saya terlalu takut untuk mengenangnya…

4 thoughts on “Saya Tidak Suka Stasiun Kereta Api

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s