Timbangan Alam

Nature-scale

pic source : http://www.ideasforus.org/blog/big-idea-nature-is-more-valuable-than-all-human-activity/

Hidup yang kita hidupi sekarang ini sesegera mungkin akan berakhir. Seumpama biduk yang melaju ke hilir, suatu saat akan sampai di muara, saat Sang Khalik akan mengambil kembali biduk kita dan memberikan pada orang lain, generasi setelah kita, untuk menikmati perjalanan di atas sungai kehidupan.

Seperti kata Ralph Waldo Emerson, sastrawan US, bahwa hidup sejatinya adalah perjalanan, bukan tujuan. Layaknya perjalanan, kita akan bertemu dengan banyak orang dan berinteraksi dengan mereka. Ada beragam kepentingan dari orang-orang yang kita temui, mulai dari kepentingan sepele sebagai mahluk sosial yang berwarna putih hitam sampai kepentingan sebagai yang lebih berpolemik sebagai mahluk kompleks yang berwarna abu-abu.

Kepentingan-kepentingan itu membawa kita pada sebuah neraca, untung rugi. Kita menimbang segala sesuatu dengan neraca ini. Setiap orang mempunyai dacin yang berbeda skalanya, ada yang ekstrim dikalibrasi setiap kali akan digunakan namun ada juga yang hanya menggunakan perkiraan saja.

Dan ternyata, alam semesta juga mempunyai timbangannya sendiri. Mari kita tengok sebentar transaksi alam semesta dan manusia. Dari sekian dekade ke belakang, transaksi yang dilakukan oleh ke dua belah pihak begitu fantastis. Di mulai dari revolusi industri di Inggris Raya, saat manusia melakukan tawar menawar dengan alam semesta, mengambil sumber daya alam dengan begitu hebatnya dengan mengatasnamakan teknologi. Tanpa sadar, manusia juga harus menerima hasil barter atas apa yang diambilnya: kengerian alam.

Bencana di Nepal secara kasat mata terlihat tidak adil, namun sesungguhnya itulah saat di mana manusia membayar (entah sebagian, entah pelunasan) atas transaksi yang sudah dilakukannya pada alam. Tidak ada yang bisa menghindar saat jatuh tempo itu datang.

Kita tidak tahu siapa yang berhutang pada alam dan dari jaman apa mereka melakukannya. Namun sebagai manusia yang bertanggungjawab sudah selayaknya kita bertransaksi lebih bijak untuk kelangsungan kelestarian masing-masing pihak. Nepal mungkin adalah transaksi dengan alam dalam skala besar, namun kita bisa melakukan transaksi-transaksi yang berskala kecil dengan lebih bijaksana. Ambil apa yang diperlukan, beri sesuai dengan apa yang kita ambil. Tidak hanya dengan alam, namun juga dengan sesama manusia karena pada intinya hidup itu adalah keseimbangan dalam sebuah perjalanan.

2 thoughts on “Timbangan Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s