Balada Tante Dian dan Para Brondongnya

IMG_9818

Di tempat kost ada anak baru, namanya Alvino. Kira-kira udah sebulanan yang lalu dia jadi penghuni baru Mukani’s Chamber sekamar berdua sama temannya. Saya sih tidak begitu notice dengan anak-anak baru, secara saya jarang ada di kost di “jam-jam normal”. Alvin ini anak Banyuwangi yang baru aja tamat pendidikan dan sedang magang di PLN Surabaya. Usianya baru 20 tahun. Nah, suatu kali kunci pintu pagar kost macet dan saya nggak bisa masuk. Saya telpon Bu Mukani, si penjaga kost tapi nggak diangkat. Mungkin dia lagi caper ke tetangganya dan gak mau diganggu. Akhirnya si Alvin datang dan terjadilah percakapan geje seputar kunci dan gembok.

Sejak saat itu Alvin mulai sering ngobrol sama saya, main ke kamar saya dan sering ngasih makanan. Entah kenapa dia kok jadi lengket gitu. Mungkin bener kata Dian Sumengmeng, saya punya bakat untuk dilengketi sama brondong. Nggak di komunitas lari, nggak di mana pun.

Balik lagi ke Alvin, selama ini saya sering lihat pintu kamarnya tertutup. Dia seringnya berada di dalam kamar dengerin musik atau main hp. Waktu saya tanya kenapa nggak pergi main? Dan saya agak kaget sama pengakuannya. Dia nggak tahu jalan Surabaya dan nggak tahu mesti main kemana. Yang dia tahu hanya Sutos – kost dan jalan menuju ke kantornya. Yaelah, nak! Hari gini mainnya cuman Sutos doang? Sejak saat itu saya bertekad untuk menggaulkannya. Maksudnya menjadikan dia anak gaul. Jadilah saya ajak dia main ke matchbox, trus ke cafe-cafe kecil tempat anak gaul Surabaya nongkrong di seputaran jalan kacapiring, area klampis, dan banyak lagi.

“Mas, kenapa nggak dari dulu ya kita kenal?”

“Lha kamu ngapain di kamar mulu?”

“Aku takut sama nyamuk mas, kulitku sensitive sama gigitan nyamuk”

“Lha kan bisa ngobrol sama tetangganya kalo pas sempat”

“Aku takut sama kamu mas, aku lihat kamu orangnya serius. Di depan laptop mulu kerjaannya, mau nyapa itu takut.”

Wkwkwkwkwkwk.. sumpah aku ngakak. Kamu kira aku gendruwo? Mukaku memang seseram itukah? Shit, kayaknya aku musti lebih sering pasang muka ramah. Saya baru sadar, kalo sekilas si Alvin ini mirip sama Ricky, adik saya. Tapi kata Dian Sumengmeng, fansnya Ricky, Si Alvin ini kw 5-nya Ricky. Wkwkwkwkwkwkkw…

Dan ngomong-ngomong masalah fansnya Ricky, ada kejadian awkward semalam. Abis kerja, Dian ngajak saya makan. Nah, saya ada ide untuk ngajakin Alvin biar Dian ketemu langsung sama kw-5nya Ricky ini. Seperti biasanya, si Alvin main ke kamar dan ngobrol-ngobrol masalah traveling. Dan dalam omongan ini saya selipkan nama Dian, Ricky, dan tak lupa kisah kekaguman Dian pada Ricky (khususnya) dan brondong lain (pada umumnya).

Waktu Dian datang, saya ajakin Alvin untuk ikut makan. Tapi seketika itu juga air mukanya berubah. Dia insist untuk nggak ikut meskipun dipaksa-paksa, malahan dia lari ke kamar ketakutan dan mengunci pintu. Aku ketawa nggak ketulungan lihat polahnya Alvin yang takut sama sosok Dian.

“Vin.. Alvin.. ayok ikut” saya ketok-ketok pintu kamarnya

“Aku tidur mas!’ teriak Alvin dari dalam kamar yang terkunci (masih nggak mau keluar kamar).

Sampai pagi ini saya masih ketawa-ketawa ngakak kalo ingat peristiwa semalam. Saya bisa bayangkan pikiran Alvin ke Dian. Sesosok tante pemakan brondong yang siap menculik brondong-brondong lugu. wkwkwkwkwkwkwkwk

Advertisements

Just trash.

TCI-060914-PASSIONPAYCHECK

Mungkin saja saya kuliah salah jurusan. Atau memang hidup saya yang labil?

Latar pendidikan saya hanya menyumbang sekian persen dari pekerjaan saya sekarang yaitu berkomunikasi dengan bahasa Inggris, yang menjadi kewajiban untuk semua karyawan. Sedangkan pekerjaan yang menyangkut masalah manajemen, desain, dan keuangan saya dapatkan secara otodidak. Untung saja kantor tempat saya bekerja mengapresiasi dengan baik apa yang saya lakukan dan kerjakan. Entah motifnya untuk pengembangan SDM ataukah mumpung ada yang mau ngerjain? Hahahah…

Saya nggak pernah berfikir untuk mendesain sebuah kantor. Pekerjaan ini saya ambil ketika saya terpesona dengan kantor google yang kece itu, beberapa tahun silam. Hingga akhirnya saya berani mengajukan desain kantor untuk priincipal dan admin team di tempat saya bekerja. Tata ruang dan furniture saya yang kerjakan. Voila! Kapan lagi bisa membelanjakan uang orang sekehendak kita. Jadilah kantor minimalis dan semua orang suka. Saat ini saya sedang mengerjakan proyek perpustakaan. Saya merefurbish foyer dan tata ruang di dalamnya.

Saya juga tidak pernah berfikir untuk membuat lay out sebuah newsletter. Ketertarikan saya pada dunia desain grafis bermula ketika saya berteman dengan salah satu mahasiswa jurusan desain. Saya lihat hasil karyanya dan cara dia bekerja. Saya jadi tertarik. Sejak itu, mulailah saya belajar beberapa software, belajar fotografi secara benar dan membeli peralatan perang yang cukup menguras kantong saya pada saat itu. Alhasil, saya memberanikan diri untuk mengelola newsletter di tempat saya bekerja. Dan saya tidak keberatan pekerjaan saya bertambah.

Lalu saat ini saya sedang fokus pada pembenahan house keeping di unit saya. Kali ini agak sulit, karena berhubungan dengan manusia. Pengelolaan manusia menurut saya agak berat. Langkah awal saya adalah membenahi sistem yang ada. Namun namanya juga bekerja dengan manusia, butuh sesuatu yang lebih. Sabar lebih, pengendalian emosi lebih, kemampuan mendengarkan lebih, dll. Sebaik apa pun sistemnya, namun jika SDM yang melakukannya tidak konsisten, maka akan sia-sia. Perubahan yang saya lakukan ini agak membuat kehidupan sosial saya lebih dramatis. Saya dianggap cerewet, jahat, mata-mata yahudi, dll. Pokoknya yang jelek-jelek lah. Kali ini bukan saya yang mengajukan diri, tapi lebih ke pekerjaan yang dipercayakan kepada saya, job desc saya selain mengelola keuangan unit. Nah lo!

Berbicara masalah finansial. Pekerjaan utama saya adalah mengelola keuangan untuk unit saya. Mulai dari supply sampai audit. Kalo ini tidak terlalu berat karena ini adalah makanan saya sehari-hari meskipun background pendidikan saya tidak mendukung.

Jadi kesimpulan yang bisa saya ambil dari apa yang saya tulis di atas adalah, bahwa manusia punya kemampuan untuk melakukan sesuatu yang tidak dikuasainya. Entah terpaksa atau entah karena memang suka. Eh, tapi kalo urusan cinta bisa diaplikasikan juga nggak ya?

 

 

#endingnya ngehek banget wkwkwkwk

 

BMBM (BII MayBank Bali Marathon) – in a glance

Oke, ada 30 menit sebelum meeting. Saya mau menulis tentang event lelarian yang baru saya ikuti weekend lalu. Bali Marathon atau yang lebih umum disebut BMBM oleh para pelari adalah event pertama saya di kelas half marathon.

Pengalaman seru di event seru sebagai virgin HMer, bisa dibilang tak ternilai. Mengingat saya bukan atlit, bukan pro yang lari karena ada target. Lari bagi saya adalah kegiatan iseng yang keterusan. Dulu, alasan pertama saya lari adalah pengen punya perut sixpacks seperti punya sodara temen saya yang taruna AL itu. Dia dulu menyarankan untuk lari tiap hari biar perut sixpacks kayak sodaranya. Setelah sekitar enam bulan berlari, bukan perut sixpacks seperti anggota TNI AL yang saya dapat tetapi berkurangnya timbunan lemak di badan. Nomer celana saya turun 2 tingkat dan sayangnya (atau untungnya?) saya keterusan lari sampai hari ini.

Jadi kalo saya bilang keberhasilan mencapai finish HM pada event BMBM dengan catatan waktu 3 jam 24 menit untuk jarak tempuh 21,17 km adalah big big bonus dari lelarian saya selama ini.

Boleh curhat dikit nggak ? Boleh ya? Hahahah… Ini tentang penyemangat saya memecahkan telor HM saya. Selain ada teman-teman seru dari komunitas lari yang berangkat bareng ke Bali, semangat untuk lari di BMBM ini terutama datang dari orang yang saya sayangi. Dari awal saya bertekad untuk lari buat dia. Jujur untuk jarak sejauh itu saya agak keder, secara selama ini rekor terjauh saya adalah 15 km dengan pace siput. Lutut saya udah soak dan nggak bisa diajak lari jauhan dikit. Dari cerita-cerita yang sudah pernah ikut event ini, medannya cukup mengerikan. Pagi menjelang race, saya ngobrol dikit sama dia lewat whatsap. Ternyata itu jadi mood booster banget. Isinya lucu, sedikit menghina tapi saya suka. Hahahah… I love you, beb!

Awal-awal start start saya ambil barisan paling belakang. Saya tahu, sebagian besar pesertanya adalah pelari alay (kayak saya enggak aja). Saya berlari barengan sama Putri dan Boi. Beberapa kilometer awal pace kami samakan. Sayangnya, semakin jauh kami nggak bisa lari sama-sama lagi karena kondisi fisik yang beda-beda. Entah di km berapa kita pisah, saya terpaksa meninggalkan Putri dan Boi. Menjelang kilometer ke 7, lutut saya yang sudah bermasalah mulai nyut-nyutan. Beberapa kali saya berhenti lari dan pilih untuk berjalan karena sakitnya yang luar biasa. Di kilometer 11 rasanya saya sudah mau nyetop ambulance, tapi untungnya tidak jadi. Saya ingat-ingat lagi alasan kenapa saya ikut lari di event ini. Saya mengurungkan niat untuk menyerah. Akhirnya, di tengah keputusasaan dengan lutut yang sudah tidak bisa diajak kompromi, Tuhan mengirimkan emak-emak yang ngasih saya semprotan pain killer (mungkin itu bu dosenmu Beb). Saya coba kembali melanjutkan perjuangan itu.

Beberapa kali saya dibalap sama teman-teman komunitas. Saya tetap berlari sambil menahan sakit yang gak berkurang biarpun dikasih pain killer. Lutut masih nyut-nyutan dan sekarang ditambah telapak kaki yang rasanya mulai menebal. Saya juga merasa ujung-ujung jari kaki saya sudah mulai ada yang melepuh. Tapi saya tetep stay warm, seperti pesannya, hiks. Saya masih mencoba lari pelan-pelan banget, kadang jalan agak kenceng bila dirasa sakitnya sedikit berkurang. Sampai di kilometer 18 ada si Kimmy yang manggil-manggil saya dari belakang dan dia pun jadi partner lari saya sampe garis finish. Saya dan Kimmy yang stay warm mulai akting seperti pelari pro, menyembunyikan kesakitan jika dirasa ada kamera yang nyorot kami. Dan jadilah foto-foto saya di BMBM, pasti ada Kimmynya- kayak paket two in one.

Begitu dapat medali, saya langsung duduk dan motoin medali buat dia. Gak peduli lagi kaki yang udah kaku, sakit di telapak kaki, pangkal paha, dan tungkai. I run for you Beb, and I did it. Tapi nih ya, yang rada ngeselin adalah dia bilang saya lebih lambat dari bu dosennya waktu dia tau catatan waktu saya. Suwun lho Beb..

Tapi saya suka banget ikut event ini. Event organisernya kece badai. Persiapannya luar biasa matang. Saya tidak perlu takut dehidrasi, karena di tiap 2 kilometer ada hydration station. Saya nggak perlu bawa hydrobag. Tahun depan mungkin saya mau ngambil yang FM. Tapi masih nunggu motivasi dulu dari kamu dan kalo bisa larinya sama kamu. Eh, tapi kalo kamu ikut aku ngambil 10K aja deh biar bisa tetep fit setelah race dan bisa jalan-jalan lebih lama sama kamu. Hihihihihiih…

PS : Aku punya dua jersey BMBM. One for me, one for you. Tapi aku nggak tau ngirimnya kapan 🙂 Tunggu nanti ya Beb.

IMG_3941797299641 IMG_4018526851643 IMG_24829224746829 IMG_24844137484115