Suka-Suka Storial

55lLhmU-

Entah mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang banyak maunya seperti saya. Ada sekian banyak daftar yang harus saya punyai atau lakukan dari saya kecil. Entah latah atau bagaimana, saya selalu punya banyak hal yang berbeda untuk dilakukan. Saya mengagumi orang yang berprestasi dan saya ingin seperti mereka, entah bisa entah tidak. Saya pikir hasil adalah perkara yang lain, yang penting saya bisa ‘mencicipi’ hidup ala idola saya.

Dimulai saat saya lihat kompetisi nyanyi di televisi. Saya pikir keren sekali jika bisa bernyanyi dan jadi juara. Saya mulai ikut kompetisi; tingkat RT. Waktu itu saya masih belum akil, jadi suara saya masih okelah buat tingkat RT. Saya menang, hadiah berjibun berupa alat tulis dan buku. Saya berhenti nyanyi saat suara saya pecah, rasanya malu kalau dengar suara sendiri.

Lalu saya kesengsem sama om Bubby Chen. Bukan karena saya suka genre musiknya, tapi lebih pada kepiawaiannya main piano. Sial aja om Bubby punya fans abal-abal seperti saya, pasalnya saya nggak ngerti jazz sama sekali. Saya nabung untuk beli yamaha PSR yang suaranya out of tune, tapi lumayanlah buat berlatih. Saya pernah les piano sebentar, tapi nggak tahan sama guru piano yang jahatnya melebih ibu saya. Dengan latihan tiap hari, akhirnya saya bisa main alat musik itu walapun harus pake partiture kemana-mana. Bahkan, sekarang saya punya grup band yang sudah berusia 6 tahunan. Namanya apa? Moron Five. Terdiri dari 3 lelaki dan 2 perempuan imbisil.

Saat kuliah, saya punya sahabat karib lain jurusan. Saya di sastra Inggris, dia di Desain Grafis. Saya sering diajak melihat pameran, salah satunya fotografi. Saya suka dengan foto-foto lansekap karya Denik G. Sukarya. Pelan-pelan saya belajar foto dari karib saya dan setelah piawai, saya membeli sebuah kamera DSLR untuk saya sendiri dan mulai berkarya. Prestasi saya sejauh ini, karya saya dipamerkan di Konsulat Jenderal Indonesia untuk Jerman.

Sewaktu duduk di sekolah dasar, saya juga mengajukan diri untuk ikut Porseni dengan katagori menulis. Awalnya mulanya seperti ini.

Saya tergolong siswa yang rajin ke perpustakaan, bukan untuk mencari resources, tapi untuk membaca majalah Kawanku seri terbaru langganan sekolah. Di situ ada cerpen kiriman pembaca, dan saya sangat menikmatinya. Di rumah pun, tak jarang saya mencuri baca majalah ibu saya, membaca tulisan “Oh, Mama, Oh, Papa” yang ceritanya kadang bukan untuk usia saya. Saya juga melahap buku kakak laki-laki saya. Salah satunya adalah “Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai.” Saya nggak ngerti apa isinya, tapi saya tetap membacanya.

Timbul keinginan untuk bisa menulis dan menghasilkan karya tulis. Porseni adalah kesempatan saya. Saya melamar menjadi peserta pada guru saya.

Saat semua peserta menulis cita-cita dan angan-angannya, saya malah menulis perpusatakaan sekolah saya dengan lebay dan detil, – yang saat saya dewasa, sadar  ternyata itu naskah deskriptif -. Dan dengan tulisan itu saya jadi pemenang di Kabupaten Bogor. Tapi kalah di tingkat kota, karena guru saya nggak mau ngelatih saya. Dia bilang tulisan saya udah bagus, padahal enggak. Fak.

Saya meninggalkan menulis fiksi dan berpindah ke blog. Saya lebih menceritakan pengalaman-pengalaman traveling saya di blog itu. Saya mencoba menulis fiksi lagi setelah membaca-baca flash fiction milik… ah sudahlah. Dia piawai sekali membuat cerita. Saya pernah dibuatkan tulisan, nodong kado lebih tepatnya, saat saya ulangtahun. Saya sangat suka. Saya mencoba membuat sebuah tulisan, alasannya sih mau dikirim ke majalah. Saya minta dia membacanya, lalu dia bikin koreksinya. Begitu terus, sampai saya tahu kesalahan-kesalahan saya. Tanpa sadar saya berguru ke dia. Akhir-akhir ini, waktu saya tanya bagaimana perkembangan menulis saya, dia bilang; pesat. #blushing.

Awal Januari lalu saya menemukan platform storial. Tempat berkumpulnya para penulis se Indonesia. Umurnya baru seumur jagung, tapi saya betah di sini. Saya membaca banyak karya yang bagus, super bagus, biasa-biasa saja, jelek, tapi jarang sekali saya nemu tulisan jelek sekali. Saya belajar banyak dari review-review dan kritik yang diberikan pada tulisan saya. Saya juga meninggalkan kritik dan saran untuk tulisan yang saya baca yang kadang terasa ‘jahat’. Ah, biarlah mereka berpikiran saya jahat. Saya nggak kenal mereka, nggak ada niatan untuk jahatin mereka. Menurut saya, kritikan yang membangun, meskipun menyakitkan, lebih berharga daripada pujian normatif.

Saya juga mulai mengenal tipe-tipe penulis. Ada yang pandai membuat ide cerita dan merangkai plot, ada yang piawai memilih diksi dan meyusun kalimat, ada yang tulisannya serupa John Green dan gaya terjemahan novel asing, ada yang ceritanya susah ditebak, ada yang kekorea-koreaan, ada juga yang kekanak-kanakan.

Mungkin karena pihak storial melihat saya aktif di sana, saya pernah ditawari untuk bergabung dengan team editor storial. Dengan terpaksa saya menolaknya. Pertama, saya masih belajar. Kedua, saya masih ingin menikmati menjadi penulis. Ketiga, saya orangnya tipe mbalelo tidak mau ikut aturan dan tidak suka dipaksa-paksa, apalagi dipaksa membaca.

Ada banyak tantangan di storial yang memacu penulis-penulis mula untuk berkarya. Storial mengadakan kompetisi menulis #dearmama, menulis perjalanan sampai yang terakhir adalah kompetisi menulis dengan tema elegi. Yang terakhir ini saya yang menggagas. Awalnya cuman proyek pribadi yang saya tulis di wall saya, sebuah kesalahan. Saya salah menyebut judul novel terakhir Dee dengan Elegi Embun Pagi, sedangkan yang benar adalah Inteligensi Embun Pagi. Saya menantang pembaca storial untuk membuat tulisan dengan tema elegi, dengan maksud agar sewarna dengan novel Dee yang saya kira judulnya Elegi Embun Pagi. (Nampaknya saya waktu itu terlalu banyak dengerin lagu Ebiet G. Ade).

Tak berapa lama kemudian saya dihubungi pihak storial, meminang ide saya untuk dijadikan proyek mereka. Saya mengiyakan, tapi belum sadar kalau Elegi seharusnya adalah Inteligensi. Nasi sudah jadi bubur, akhirnya proyek tetap diteruskan dengan tema yang sama. Tak disangka, peminatnya banyak. Selama tenggang waktu dua minggu, lebih dari 50 karya masuk dan saya harus membacanya, karena pihak storial menuntut saya untuk menjadi salah satu juri. Untung dulu saya bikin tantangan flash fiction, bukan novel atau puisi. Kan bisa bonyok saya.

Sudah delapan kisah yang saya muat di storial, kebanyakan nggak ada yang suka sama tulisan saya. Dari 2000 lebih anggota storial, tulisan saya hanya dibaca 300 orang, see secara statistik saya tidak diminati! Mungin tema yang saya angkat tidak menarik; seperti komunis, budaya etnis tionghoa, perselingkuhan, wayang, dan terakhir horror komedi. Tapi biarlah. Saat ini saya lagi mempersiapkan sebuah tulisan bertema LGBT. Saya sedang riset dan menentukan formula yang bisa diterima oleh siapa saja. Satu lagi, saya mau bikin tantangan untuk penghuni storial menulis cerita dengan karakter utama sang antagonis. Semoga bisa.

Kalau mau gabung jadi penulis fiksi, bisa gabung di www.storial.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s