Biji-bijian

warisan

Minggu sore kemaren saya belajar tentang kehidupan bersama mentor saya, Billy Lantang. Topik yang dibahas kali ini adalah biji-bijian.

Saya penyuka soto, entah itu daging ayam atau sapi. Saya paling suka memberi soto saya kecap manis 1/2 sendok makan, koya yang banyak dan kucuran jeruk nipis. Saya paling sebal jika saya harus memeras sendiri jeruknya, bji-biji jeruk nipis itu kadang masuk dalam mangkok dan terkunyah jika saya tak melihatnya. Rasanya pahit-pahit sepat, mengganggu banget. Sial, kenapa sih jeruk ini ada bijinya?

Pernah berpikir kenapa ada biji dalam buah yang kita makan? Kenapa nggak semua buah dibuat tanpa biji saja, kayak semangka gitu? Coba bayangkan pepaya tanpa biji, jeruk tanpa biji, mangga tanpa biji. Pasti saya nggak susah-susah memeras jeruk dan kelolosan bijinya. Semoga ada rekayasa genetik untuk ini.

Tapi mentor saya bilang harus ada biji dalam buah, supaya kita bisa menanam kembali. Makna yang lebih dalam, seperti mentor saya bilang, setiap apa yang kita punya semestinya ada yang ditabur dan ditanam kembali agar ada kontinuitas.

Apa yang kita punyai? Contoh sederhana adalah penghasilan kita. Dalam setiap berkat yang kita terima, ada biji yang harus ditanam. Hey, tapi bagaimana dengan orang yang tidak punya penghasilan, kaum papa, atau jobless?

Menabur, bukan melulu materi. Kenapa pepaya diberi biji yang kecil-kecil tapi banyak sedangkan mangga diberi satu tetapi ukurannya hampir setengah dari bagiannya? Prinsip menabur dasarnya adalah kualitas, bukan kuantitas. Tuhan tidak menuntut kita menabur dengan besaran dan benih yang sama. Apa yang kita punyai? Mobil, motor, sepeda, meja, piring? Ring a bell? No? Bagaimana jika waktu, empati, dengkul? Pasti semuanya punya. Sharing waktu dengan keluarga, teman, mendengar keluh kesah mereka, cheering them up, atau menggunakan dengkul kita untuk berlutut setiap pagi mendoakan orang-orang yang kita kenal secara spesifik, atau jika punya waktu lebih lama berdoa untuk sesuatu yang massive, perdamaian dunia misalnya heheheh… tapi kayaknya ini terlalu muluk, yang realistis saja lah cari sendiri. Itu adalah contoh taburan kita juga.

Apa yang kita tabur apakah segera bisa kita panen? Oh man…. lupakan pikiran picik itu. Jangan pernah mengingat hal-hal baik yang sudah kita tabur. Itu namanya itung-itungan sama Tuhan. Seharusnya kita malu kalau mengharapkan panenan. Sejatinya, kita sudah mengambil lebih banyak dari hak kita, kita berhutang banyak pada Yang Punya Hidup.

Mentor saya pernah makan jambu dan membuang bijinya di halaman rumah. Setelah beberapa tahun biji itu tumbuh menjadi pohon besar, menjadi tempat tukang becak bernaung, burung bersarang dan jambu gratis bagi anak-anak kampung yang kebetulan melintas. Kisah itu adalah analogi, kadang apa yang kita tabur, panenannya malah bukan untuk kita. It doesn’t matter karena sesungguhnya itulah prinsip menabur, menjadi berkat buat orang lain.

Lagi, masih ingat kisah hamba yang diberikan talenta 10 keping, 5 keping, dan 1 keping? Saat si tuan kembali, masing-masing hamba itu melaporkan apa yang sudah mereka lakukan pada pemberian tuannya. Ada yang dipuji tuannya karena pengelolaan yang baik sehingga hasilnya berlipat kali tapi ada juga yang menyimpannya rapat-rapat sehingga talenta yang diberi itu tidak berkembang, hamba itu dimarahi habis-habisan. Nyatanya, bukan hasil yang Tuhan utamakan tetapi kemauan untuk melakukannya. Jangan sampai apa yang kita punya diambil, karena kita tak pandai mengelola dan tidak mau berbagi.

Jadi, mulailah kita menabur. Semua yang kita punya saat ini hanyalah atribut. Jangan pernah merasa memiliki, bahkan hidup yang kita hidupi saat ini juga bukan milik kita.

Minggu, 10 April 2016.

Thanks To JC and Billy Lantang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s