Cerita Tentang Kanan dan Kiri

12427993651935592484Parking_icon.svg.hi.png

Kekurangan saya sudah jadi rahasia umum; saya pasti gagap jika spontan harus menentukan arah kanan dan kiri, seperti kisah yang saya tulis beberapa waktu lalu. Oke, ada kejadian konyol lagi kemarin. Ini kisahnya.

Beberapa hari ini saya menyibukkan diri dengan seabrek kegiatan yang bisa dibilang penting-nggak penting. Pokoknya kalau ada yang ngajak pergi saya iyakan saja, biar nggak ada kesempatan buat saya menganggur dan diam sendirian. Pada intinya saya harus sibuk. That’s all. Sampai-sampai inang kost saya berpikir saya ke luar kota karena saya tidak pernah kelihatan di kost beberapa hari ini.

Sesibuk apa? Mulai dari ngobrol dengan teman ampe berbusa, marathon nonton film di XXI, ngopi dan terlibat obrolan gak nyambung dengan penghuni warkop ampe subuh, hingga menjadi the most awkward alien di acara sebuah komunitas yang errr…..  anggotanya masih anak-anak kuliahan.

Ada kejadian lucu yang sewaktu menghadiri acara komunitas itu. Baru kali ini saya duduk bengong dengerin anak semester 1 kasih kuliah. Tapi bukan, bukan itu yang bikin lucu. yang barusan itu bikin bete. Kejadiannya sebelum itu. Jadi, setelah pulang kantor di weekend lalu, saya main sama temen. Ngobrol sampai malam. Celakanya, saya lupa bawa kunci rumah. Jadilah saya tidur di mobil sampai pagi. Begitu melek mata, ada whatsap masuk dari teman, ngajakin cari sarapan. Ya udah, saya mampir ke masjid buat cuci muka dan ganti baju. FYI, bagasi mobil saya udah kayak lemari. Ada sepatu, peralatan mandi, baju ganti, jadi biar pun saya nggak pulang nggak masalah, saya masih bisa keliatan kece.

Ajakan sarapan ini berakhir dengan jalan-jalan ngalor ngidul ngabisin bensin sampai saya ingat, saya ada janji untuk datang ke acara komunitas ini. Meluncurlah saya ke lokasi acara. Tempatnya agak susah buat parkir, sempit dan kebetulan ada banyak pengunjung jadi saya harus berusaha keras untuk dapat tempat parkir.

Akhirnya datanglah seorang tukang parkir dan mulai mendirect saya. Sebenarnya saya nggak butuh dia, tapi karena citra tukang parkir di kepala saya udah jelek, jadi saya biarkan dia bekerja. “Kanan, kanan, kanan, kiri, kiri, kiri.. Kanan, kanan, kiri. Terlalu mepet, Mas!”

Ah, sial! Mungkin karena saya lelah seharian di jalan membuat penyakit disorientasi kanan-kiri saya makin parah. Saya sampai tiga kali maju mundur untuk mendapatkan posisi yg baik, saya jadi uring-uringan sendiri. Akhirnay saya buka kaca jendela dan teriak sama tukang parkirnya, “Sudah, Mas. Gak usah kanan-kiri-kanan-kiri gak jelas. Kamu diam aja di situ.” Benar saja, setelah tukang parkir itu diam mematung karena shock ada sopir yang gak mau dikasih aba-aba, saya berhasil parkir mulus dengan sekali jalan.

Setelah itu saya mikir, kok kasihan ya si tukang parkir. Ini bukan salahnya, saya yang bodoh nggak ngerti kanan-kiri, akhirnya saya keluar dan membagi rokok saya padanya lalu membuat pengakuan. “Saya nggak paham kanan kiri, Mas. Maaf.” Si tukang parkir pun ngakak gak ketulungan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s