Late Post – League Grip The Road Surabaya 2016

IMG_20160628_081602
Ready to race
League Grip The Road sudah berlangsung pada 29 Mei 2016 lalu. Dan berlangsung dengan sangat sukses.
Nampaknya persiapan dari League begitu matang. Mulai pendaftaran hingga hari H diadakannya event ini, terbilang cukup terorganisir. Pendaftaran online yang tidak begitu rumit, pengambilan racepack yang mudah – saya suka warna race teenya yang berwarna hijau – sangat membantu peserta. Juga pada saat dilangsungkannya race, panitia bekerja dengan baik. Ada tempat untuk berfoto narsis yang bertuliskan nama-nama peserta, juga finisher tee dari League yang kece.
Seperti tema yang diusung selama ini, which is History and Chalenging, rute GTR 2016 di Surabaya melewati beberapa tempat bersejarah. Mall Grand City menjadi titik start dan finish GTR 2016 ini, kemudian menapaki rute yang melewati gedung RRI, jalan Tunjungan, Hotel Mojopahit juga ikon heroik kota Surabaya; Monumen Karapan Sapi, Monumen Bambu Runcing, Monumen Kapal Selam, dan patung Gubernur Suryo.
Udara panas kota Surabaya juga menjadi tantangan tersendiri bagi peserta, tetapi tanah heroik Surabaya seolah juga memberi daya juang ekstra sehingga tidak menyurutkan semangat pelari yang turut serta.
Yang patut dibanggakan adalah, Tabitha Sri Wahyuni yang mewakili komunitas Kenddos tempat saya bergabung, berhasil menjadi finisher pertama perempuan. Yay!
With Kendos at Convention & Exhibition
Kendos rep – Sri Wahyuni the 1st female finisher
Secara keseluruhan, event ini berlangsung sukses.
Saya berharap event cemerlang seperti ini dilangsungkan tahun depan. Semoga masih di Surabaya juga.

 

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

The Credit

PO SI PAGAR

Setalah buku Dear Mama dicetak – kebetulan judul tulisan saya “Selendang Drupadi” menjadi judul utama buku tersebut – tulisan saya yang lain kembali naik cetak, bersama teman-teman penulis di Storial.co.

Buku ini berjudul “Si Pagar dan Cerita Lainnya”, mengisahkan kehidupan sehari-hari dengan sudut pandang benda mati. Ada lima belas cerita yang ditulis oleh sepuluh penulis, yakni; Shindy (si pemrakarsa, the core of the project), Nanda, Rere, Cim, Zulham, Jein, Dila, Ahmad, Yuyun dan saya.

Ada cerita unik di balik tulisan saya dan buku ini. Awal Februari lalu, saya membaca tulisan Shindy yang berjudul “Si Pagar”. Saya terkesima, betapa unik ide tulisannya. Pagar, benda mati yang sehari-hari ada bersama manusia menjadi saksi kisah cinta dua insan – Arundari dan Gema. Saya tergelitik untuk menulis kisah dengan ide yang sama. Shindy yang super kreatif, memberikan ide-ide benda mati yang bisa digunakan sebagai subjek. “Jo, coba lihat barang di dekatmu,” katanya, “mulailah dengan kamarmu.” Saya lihat kamar saya. Ada bantal, sarung, telepon genggam, kipas angin tapi semuanya itu tidak memberi saya ide untuk menulis.

Menjelang tidur, saya buka laptop utuk mengecek sosmed sekalian main game sampai ngantuk, kebiasaan sebelum tidur. Dan tiba-tiba ide itu muncul. This is brilliant! Saya mulai menulis sebuah cerita dengan sudut pandang…. sebuah laptop.

Saya menyelesaikannya malam itu juga dan memberitahukan Shindy. Dia menyambut gembira dan merekrut saya untuk menjadi kontributor, bersanding bersama ‘Si Pagar’. Saya kebinigungan untuk memberi judul tulisan ini – FYI sesaat sebelum tidur, saya menyimpan format tulisan saya dengan nama ‘Laptop Si Unyil’. Ah, masak tulisan ini diberi judul itu? Saya baca lagi tulisan saya dan akhirnya menemukan celah untuk memberi dia nama – DOBY.

Setelah itu, banyak penulis lain yang ikut bergabung menjadi kontributor, totalnya sepuluh orang. Animo pembaca pun terbilang sangat bagus. Dari catatan counter ada lebih dari tiga ribu orang yang sudah membaca tulisan-tulisan kami.

Awal bulan Juni, Shindy memberi kabar bahwa tulisan-tulisan kami akan dibukukan. Shindy mulai membuat konsep dan timeline untuk peluncuran buku kami. Shindy membuat grup di Line dan Twitter, lalu kami mulai membahas kelahiran buku ini.

Penulis-penulis dalam buku “Si Pagar Dan Cerita Lainnya” ini multi talent sekali. Nanda, yang piawai dalam videografi kami percayai (lebih tepatnya voluntering dirinya setelah kami todong) untuk membuat teasernya. Shindy dan temannya membuat sampul buku. Sedangkan saya? Cuman urun ide daong. Hahahaha.

Akhirnya, buku ini bisa naik cetak. Untuk memesannya, bisa klik tautan ini. Oh iya, semua keuntungan dari penjualan buku ini akan kami donasikan untuk amal. Jadi, ini kesempatan baik untuk memiliki buku keren sekaligus beramal. Mumpung Ramadhan.

 

Catatan pribadi:

Saya kehilangan guru menulis dan teman diskusi beberapa bulan yang lalu. Tapi saya mendapatkan gantinya, tidak satu tapi dua – dan mungkin akan bertambah lagi. Terimakasih untuk Shindy dan Adit.

Playing God

God

Apraisal di tempat kerja saya berlangsung di pertengahann tahun. Kebetulan saya bekerja di sebuah sekolah internasional (yang sekarang dilarang memakai istilah internasional setelah kasus JIS – entah apa hubungannya). Apraisal ini menentukan nasib karyawan tahun depan. Mulai dari penempatan area bekerja sampai dengan kenaikan gaji, mulai dari pemutusan kontrak kerja hingga kenaikan pangkat.

Saya bersama manajer lain “Playing God” di masa-masa ini, dalam ruang lingkupnya masing-masing. Saya pribadi sempat senewen. Objektifitas saya dibenturkan dengan berbagai kepentingan, yang paling berat adalah benturan ‘titipan kebijakan’ direksi.

Saya mengerti sepenuhnya, dalam dunia korporasi ada level-level penentu kebijakan. Setiap karyawan punya wewenang yang dibatasi oleh koridor jabatan. Memang seharusnya seperti itu dan saya nggak masalah. Tapi kalau attitude pemangku jabatan sudah keterlaluan, itu yang jadi masalah- setidaknya buat saya. Saya mau bercerita tentang atitude para tuhan kecil di tempat saya bekerja.

Di ruangan saya ada 5 karyawan setingkat manajer. Satu orang memegang divisi pre-elementary, 3 orang elementary, dan 1 orang memegang support dan bisnis. Saya sebenarna malas bergaul dengan mereka. Pertama, pekerjaan kami tidak bersinggungan banyak, kedua saya tidak suka drama yang mereka lakonkan. Kami punya grup WA yang sangat nggak asik. Saya banyak diamnya, pernah suatu kali satu orang kirim meme bergambar menteri Susi dan kapal karam dengan tulisan ‘Yang Nggak Pernah Komen di Grup Tenggelamkan Saja’ – dalam hati saya bilang, GFYS.

Tanpa saya sadari, setiap hari saya mendengar apa yang mereka bicarakan. Seperti tadi pagi, mereka sedang staffing – menempatkan siapa, di mana. Dengan lagak seperti penentu nasib, mereka dengan gampangnya membuat joke-joke yang rasanya kurang patut didengar. Maksud saya, ini tentang kenyamanan seseorang – tentang atmosfir bekerja dan lain-lain yang nanti mempengaruhi kinerja karyawan. Jangan dibuat main-main lah.

Sumpah saya dibikin eneg dengan tingkah mereka yang sok berkuasa, nggak sadar kalau mereka juga hanya karyawan, hanya saja levelnya sedikit lebih tinggi. Saya tadi sempat agar marah dan mulut saya ‘kecolongan’ nyinyir, “Jangan gitu lah, kalian nggak ingat dulu pernah seperti mereka?” – Lalu suasana mendadak sunyi.

Stop playing God, because you are not a god.