Playing God

God

Apraisal di tempat kerja saya berlangsung di pertengahann tahun. Kebetulan saya bekerja di sebuah sekolah internasional (yang sekarang dilarang memakai istilah internasional setelah kasus JIS – entah apa hubungannya). Apraisal ini menentukan nasib karyawan tahun depan. Mulai dari penempatan area bekerja sampai dengan kenaikan gaji, mulai dari pemutusan kontrak kerja hingga kenaikan pangkat.

Saya bersama manajer lain “Playing God” di masa-masa ini, dalam ruang lingkupnya masing-masing. Saya pribadi sempat senewen. Objektifitas saya dibenturkan dengan berbagai kepentingan, yang paling berat adalah benturan ‘titipan kebijakan’ direksi.

Saya mengerti sepenuhnya, dalam dunia korporasi ada level-level penentu kebijakan. Setiap karyawan punya wewenang yang dibatasi oleh koridor jabatan. Memang seharusnya seperti itu dan saya nggak masalah. Tapi kalau attitude pemangku jabatan sudah keterlaluan, itu yang jadi masalah- setidaknya buat saya. Saya mau bercerita tentang atitude para tuhan kecil di tempat saya bekerja.

Di ruangan saya ada 5 karyawan setingkat manajer. Satu orang memegang divisi pre-elementary, 3 orang elementary, dan 1 orang memegang support dan bisnis. Saya sebenarna malas bergaul dengan mereka. Pertama, pekerjaan kami tidak bersinggungan banyak, kedua saya tidak suka drama yang mereka lakonkan. Kami punya grup WA yang sangat nggak asik. Saya banyak diamnya, pernah suatu kali satu orang kirim meme bergambar menteri Susi dan kapal karam dengan tulisan ‘Yang Nggak Pernah Komen di Grup Tenggelamkan Saja’ – dalam hati saya bilang, GFYS.

Tanpa saya sadari, setiap hari saya mendengar apa yang mereka bicarakan. Seperti tadi pagi, mereka sedang staffing – menempatkan siapa, di mana. Dengan lagak seperti penentu nasib, mereka dengan gampangnya membuat joke-joke yang rasanya kurang patut didengar. Maksud saya, ini tentang kenyamanan seseorang – tentang atmosfir bekerja dan lain-lain yang nanti mempengaruhi kinerja karyawan. Jangan dibuat main-main lah.

Sumpah saya dibikin eneg dengan tingkah mereka yang sok berkuasa, nggak sadar kalau mereka juga hanya karyawan, hanya saja levelnya sedikit lebih tinggi. Saya tadi sempat agar marah dan mulut saya ‘kecolongan’ nyinyir, “Jangan gitu lah, kalian nggak ingat dulu pernah seperti mereka?” – Lalu suasana mendadak sunyi.

Stop playing God, because you are not a god.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s