Semoga Punguk Tak Lagi Merindukan Bulan

16965989-368-k579150

Renjana ini sudah pada puncaknya.

Aku mencintaimu sejak ratusan purnama lalu. Di setiap purnama yang terbit, cintaku tumbuh sehasta. Jika hari ini kutukarkan jumlah purnamanya dengan galah, mungkin sudah bisa kubuat tangga dan menapakkan kakiku di bulan, tempatmu berada.

Namun aku sangsi, setelah sampai di bulan, apakah kau menerimaku dengan tangan terbuka? Maka kuceritakan rinduku pada sang punguk, agar dia tak sendirian mengharap purnama. Masa demi masa, menjadi kisah berbalut doa yang kusemogakan.

Sang Punguk mengedikkan sayapnya saat kuceritakan kisah pertamaku. Aku berada di padang rumput, memelukmu dari belakang. Kuciumi aroma tubuhmu, kau mengelak ingin berhenti tapi aku tak ingin lepas. “Sebentar saja,” aku menukas, dan kau pun pasrah. Entah kau masih ingat kisah ini atau tidak.

Aku menceritakan kisah kedua. Kita memilih kereta secara acak, jadwal terdekat. Sesegera itu kita memutuskan untuk berkelana. Bangku keras kereta besi dan bau pengap peron ekonomi tak menyusutkan gairah. Aku suka rambutmu yang berbau matahari, aku suka bulir-bulir keringat di dahimu. Kemana pun, tujuan tidak masalah. Yang kuinginkan hanya sebuah perjalanan bersamamu.

Kali ini sang punguk menggeser kakinya ke dahan lain, menjauhiku.

Kisah ketiga bergulir. Kali ini tentang cinta segitiga aku-kamu-Tuhan. Aku suka melihatmu berbasuh air wudlu, wajahmu nampak bercahaya dan kau siap berkencan dengan Tuhanmu. Kau pun suka melihatku memegang rosario, siap menghadap Tuhanku. Kau bilang aku mirip Michael, si archangel. Tapi selama ini tak pernah ada kencan bersama, aku-kamu-Tuhan. Kamu tak pernah mau jika kuajak mengunjungi rumah Tuhanku, aku pun enggan jika kau ajak mengunjungi rumah Tuhanmu. Padahal, Tuhan kita sama, hanya rumahnya yang berbeda.

Mulutku berbusa bercerita, tetapi sang punguk malah terbang pergi. Mungkin ceritaku barusan agak menyeramkan.

Tak ada lagi yang mendengar kisah cinta ini. Kini aku meringkuk menggantikan si punguk. Memandangimu yang kini hanya berjarak selempar baju. Terlihat, namun tak terengkuh. Kini kutahu perasaan si punguk, tersiksa. Kuharap dia tak lagi merindukan sang bulan.

Aku mencintaimu, aku sangat berharap bisa bertemu denganmu di purnama ketujuh.

 

Advertisements

I Can’t Find Good in Goodbye

CmmZqlMUkAEE9d1.jpg

Kekasih saya pernah heran, bagaimana saya bisa merasa sangat kehilangan ketika saya harus berpisah dengan seseorang atau sesuatu, padahal saya seorang traveler.

Mungkin menurutnya perpisahan dan pertemuan bagi seorang traveler adalah hal yang tidak akan membawa kesedihan karena seringnya terjadi, analoginya sama kayak seorang dokter yang nggak akan muntah melihat darah atau mayat, karena tiap hari dokter bergaul dengan itu. Well, I tell you, I’m not that kind of traveler.

Kata orang there’s a good in goodbye, tapi saya tidak pernah menemukannya. Perpisahan selalu menyisakan PR berhari-hari, bahkan berbulan-bulan lamanya, to deal with. Pertengahan April, saya memutuskan untuk melepaskan cinta saya. Saya sakit berhari-hari lamanya dan berujung pada sinusitis karena banyaknya cairan dalam rongga hidung- entah ingus atau cairan apa yang tidak bisa keluar. Saya harus dioperasi minggu ini.

Minggu lalu, saya dikejutkan dengan kabar sulmate saya yang akan pindah ke Batam. Saya pura-pura kuat. Tapi tiap malam saya berdoa buatnya dan bayangan kehilangan dia mengantui saya, tiap malam, sampai sekarang.

Lalu, beberapa hari yang lalu. Setelah lebaran berkumpul dengan sepupu-sepupu saya, my partners in crime saat saya masih kecil, saat kakek-nenek masih hidup, saya harus merelakan mereka kembali ke kotanya, menjalankan hidup dan meninggalkan saya di sini. Ada lubang dalam hati saya, ketika mengantar mereka ke bandara.

Tadi pagi, pertemuan singkat dengan teman baik yang mampir berkunjung menemui saya, hanya beberapa jam, meninggalkan sesak yang luar biasa dalam dada saya saat saya mengantarnya kembali ke stasiun Pasar Turi.

Ketika saya berpisah dengan orang-orang yang mengisi hati saya, saya tidak menemukan kebaikan dalam perpisahan itu. Mungkn baik untukmereka, tapi tidak untuk saya. Saya sangat kehilangan.

 

Minal Aidin wall Faidzin, teman-teman.

Mohon maaf lahir dan batin.