Dan Terjadi Lagi

a838cde510ff731b749e71a467e82a27.jpg

Ada dua hal yang kubenci sekaligus kusuka dari musik; membuatku jatuh cinta sekaligus mematahkannya.

Semalam, aku duduk di barisan terdepan sebuah konser orkestra, sendiri dan berbekal kamera. Malam itu aku siap beraksi, memenuhi permintaan kawan untuk memotretnya. Dia menjadi solis orkestra itu.

Panggung sudah redup. Puluhan gadis bergaun hitam memasuki panggung dengan menenteng bermacam biola, menghampiri kursi dan stand partitur berlampu yang sudah diatur menurut kelompok intrumen yang mereka mainkan. Kemudian beberapa lelaki dengan instrumen tiup; saxophone, flute, trombone. Pemain harpa, piano dan perkusi masuk belakangan. Yang terakhir adalah konduktor.

Aransemen pertama dimainkan, sangat ritmis dan menggugah semangat. Lagu kedua didominasi oleh alat musik gesek. Puluhan violin, viola, cello, contra bass bersahut-sahutan mengiringi seorang solis bersuara merdu. Aku tenggelam dalam lagunya. Perhatianku tertuju pada pemain biola-konduktor-pemain biola, mengingatkanku pada sebuah cerita yang pernah kutulis; tentang Lantang dan Gandes, Melodi Musim Semi. Perasaanku menghangat, mengingatkan alasanku menulis kisah itu.

Aku menulisnya pada saat berada pada puncak rindu, padamu. Tulisan yang kutulis begitu buruk untuk standar sebuah novel, waktu itu. Namun, aku menulisnya dengan hati. Semua tumpahan perasaanku ada di situ. Aku merindukanmu, suaramu, candamu, isengmu–walaupun hanya dalam bentuk maya. Karena kau jauh di sana–.

Dadaku menghangat, ada senyum tersungging. Aku tak tahu perasaan macam apa ini. Yang aku tahu, aku pernah merindukanmu. Yang aku tahu, aku masih mencintaimu.

Suara flute mengalun lembut, membohongiku, membuatku mengira aku masih bersamamu saat ini. Mataku tertuju pada kelompok pemain biola. Kini aku melihatmu ada di sana, memegang biola dan tersenyum padaku. Ya, Tuhan … Aku sudah gila kah? Bahkan kamu saja tidak bisa memainkan gitar, apalagi biola.

Tapi aku begitu menikmati ilusi ini.

Hingga sebuah lagu mengalun, milik One Republic – Come Home. Aku tersentak, tanganku gemetar. Beberapa saat aku terpaku….

Hingga kuputuskan untuk keluar dari ballroom, menampar pipiku dan berusaha sadar jika aku kini tak besamamu lagi. Aku tertawa keras, menipu hati yang teriris-iris.

Semesta, permainanmu hebat!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s