Can’t Wait

848a2858e47930370d13c2e36ffb5bdb

Katanya, seorang penulis bisa dikatakan penulis jika sudah melahirkan sebuah buku.

Bulan lalu, sepulang dari Bali setelah event MayBank Bali Marathon, saya mendapatkan kabar sukacita. Salah satu tulisan saya dipinang oleh seorang editor cantik dari Jakarta. Lourine Tobing.

Saya hampir tidak percaya. My book? Yang itu? Seriously? Lourine tertarik dengan tulisan yang saya unggah di sebuah situs kepenulisan bernama Storial.co,  di mana dia menjadi salah satu editornya.

Sekali lagi, saya tidak percaya. Bagaimana mungkin anak bawang yang baru serius menulis fiksi di akhir tahun 2015 ini dipinang karyanya.

Naskah awal hanya satu babak, berkisah tentang pemain biola dan penari yang terpisah oleh jarak dan prioritas. Satu hidup di Paris, menjadi penari kenamaan, satunya lagi ada di Sydney menjadi konduktor hebat. Sebenarnya tulisan ini adalah proyek saya dengan orang yang –pernah atau masih–saya cintai.

Saya menulisnya di bulan Maret-April 2015, saat saya sedang kangen-kangennya dengan dia. Secara teknis, tentu saja masih bocor di sana-sini dan butuh tambal sulam. Tetapi, teman-teman yang pernah membaca naskah awal dan membandingkannya dengan yang sudah saya rombak bilang : naskah awal memang buruk, tapi mengena di hati. Ya, saya memang menulisnya dengan hati.

Dia dengan sabar mengkritisi tulisan saya, menyarankan tambalan mana yang perlu dan menunjukkan kelemahan-kelemahan saya dalam menulis. Saya belajar banyak dan dia bilang perkembangan menulis saya sangat pesat. Thanks for being my mentor.

Sayangnya, saya tidak bisa lagi menulis dengannya karena satu dan lain hal. Namun, saya dipertemukan oleh beberapa orang berbakat yang berusaha mengasah kemampuan saya dalam menulis. Tuhan mengirim tak hanya satu, tapi sepuluh orang guru pengganti sekaligus.

Tak disangka, naskah yang hanya selembar dan mengendap berbulan-bulan berhasil saya kembangkan menjadi delapanbelas bab dengan menambah konflik dan penggalan cerita dari naskah utama. Tokoh utamanya pun saya ubah, bukan lagi Lantang dan Gandes, tetapi Wildan dan Sundus yang saya ambil secara random dari nama penulis storial, simply because I like those names.

Sebentar lagi, buku ini akan terbit … tentu saja dengan penyempurnaan yang menyebabkan bertambahnya bab. Saya bekerja keras untuk membuat buku ini sempurna, meninggalkan proyek saya yang lain dan fokus bekerja untuk buku ini.

Tapi, cerita sukses nggak akan dibilang sukses jika tidak ada halangan. Itu juga berlaku buat saya, puji Tuhan saya mengalaminya. Pada bab akhir penulisan, laptop saya tersiram air karena kecerobohan saya. Akibatnya, semua data hilang, termasuk draft-draf novel lain yang sedang saya kerjakan. Logicboargnya mampet, menyebabkan tuts keyboard tidak bisa digunakan. Tapi, sekali lagi, Tuhan tidak membiarkan saya tergeletak. Soulmate saya yang sedang berada di Batam berbaik hati meminjamkan laptopnya sampai nanti saya punya uang untuk membeli laptop baru.

Berbekal laptop pinjaman, saya kembali menulis ulang cerita–yang untungnya masih melekat di kepala saya.

Buku berjudul Melodi Musim Semi akan bertengger di gadget kalian dalam bentuk e-book dalam waktu dekat. Tak hanya itu, Sang Editor Cantik juga menawarkannya pada major publisher untuk dibuat versi cetaknya–masih dalam proses bersama tulisan-tulisan lain. Satu lagi kejutan! Saya berdoa yang terbaik untuk itu, semoga tembus.

Dan … tak lama lagi saya bisa menulis dalam profile saya: Johannes Jonaz, a writer, the author of Melodi Musim Semi.🙂

Sebelum memutuskan menulis blog ini saya merenung. Betapa berharganya saya di mata Tuhan. Saya bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Kemampuan menulis saya pun tidak bisa disejajarkan dengan penulis-penulis lain yang mumpuni dan sudah melahirkan banyak buku. Tapi nyatanya, Tuhan mengangkat saya sedemikian rupa. Saya masih senyum-senyum jika ingat pinangan itu, Lourine bilang kompensasinya receh. Tapi saya nggak melihat itu, saya lebih melihatnya sebagai pencapaian dalam hidup, aktualisasi diri.

Thanks JC!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s