Pengakuan Dangkal Penulis Mula

35c129cc1201effc1b94080cabb232bb

Dahulu, saat awal mulai menulis, saya selalu merasa hina ketika masuk ke toko buku. Bagaimana tidak? Mata saya dicolok oleh pajangan buku-buku best seller setiap kali saya masuk toko buku. Dalam hati, saya ingin menjadi salah satu penulis yang bukunya nampang di pintu masuk toko buku besar.

Saya kemudian membeli salah dua atau tiga buku best seller itu dan membacanya di rumah. Dan ternyata, saya tidak suka. Pada waktu itu saya tidak bisa menjelaskan kenapa saya tidak suka.

Suatu ketika, saya membaca sebuah blog yang mengulas tentang sebuah buku. Buku tua karya Ahmad Tohari. Saya hanya membaca sekilas ulasan-ulasan tadi. Saat jalan-jalan di sebuah pasar kaget, saya menemukan buku itu di lapak buku bekas seorang lelaki tua. Ajaibnya, saya menyukai buku itu, sekali lagi saya tidak tahu kenapa saya menyukainya.

Ada pertanyaan yang timbul. Bagaimana bisa Mbah Ahmad Tohari bisa menulis seluwes itu? Bagaimana bisa dia mengungkap budaya aneh yang tidak pernah saya dengar menjadi sebuah tulisan? Bagaimana saya tidak bisa beranjak dari tempat duduk ketika saya membaca buku itu? Dan bagaimana-bagaimana yang lain.

Saya mulai belajar menulis berbekal pertanyaan ‘bagaimana bisa’ yang timbul saat saya membaca buku yang saya sukai. Dari proses belajar yang cukup lama, saya menemukan jawaban pertanyaan ‘bagaimana bisa’ tersebut.

Teknik menulis, membangun plot, variasi alur cerita, pendalaman karakter, pemilihan diksi, setting cerita, rasa cerita, dan nyawa cerita adalah jawaban pertanyaan ‘bagaimana bisa’ yang selalu timbul saat membaca buku bagus.

Sejurus kemudian, saya bergabung dengan komunitas menulis Dimensi Kata. Komunitas ini adalah wadah remedi dan pengayaan proses belajar saya. Teman-teman komunitas memberitahu kekurangan saya, apa yang harus dibenahi sekaligus memuji kelebihan saya. Mereka unik dengan segala kemajemukannya. Satu hal yang pasti, mereka idealis.

Dalam sebuah diskusi grup antar anggota Dimensi Kata, terlontar pertanyaan; apa tujuanmu menulis. Waktu itu saya jawab, ingin mempunyai sebuah buku dan menjadi best seller. Sangat komersil? Mungkin.

Saya merasa mendapat penguatan sekaligus tamparan saat membaca essai AS Laksana yang dishare oleh salah satu anggota Dimensi Kata. Dalam esai itu disebutkan :

… sebuah buku atau sebuah tulisan yang baik akan memiliki kekuatan untuk menghajar kita, atau mengguncang pemikiran kita. Kita perlu memperbanyak bacaan-bacaan seperti itu karena pada saat terguncang itulah kita menikmati momen kreatif. Tulisan-tulisan demikian akan membuat kita sejenak terperangah, namun apa yang disampaikannya mungkin akan melekat sangat lama dalam benak, dan ia membuat kita berpikir. – Jawa Pos, 5 Mei 2013.

Saya merenungi tujuan saya menulis. Benarkah saya ingin punya buku yang mejeng di deretan best seller?

Ternyata tidak.

Saya jadi tahu, kenapa saya tidak bisa menikmati buku yang saya beli dari rak best seller tapi justru mengagumi buku loakan milik Ahmad Tohari? Ternyata buku bagus itu tidak selalu best seller, dan buku best seller itu tidak selalu bagus.– Ini yang sekarang saya pahami.

Seperti kata-kata AS Laksana dalam essainya, buku bagus akan mengguncang pembacanya, membuat pembaca menikmati momen-momen kreatif. Bagi saya, momen-momen kreatif ini terjadi saat muncul pertanyaan ‘bagaimana bisa’ dalam benak saya. Pertanyaan seperti ini banyak muncul ketika saya membaca tulisan Ahmad Tohari, Pram, Dee, Ayu Utami, Seno Gumilar dan penulis-penulis favorit saya lainnya. Tapi, tidak pernah saya dapatkan saat saya membaca buku best seller yang saya baca (sekali lagi ini adalah perspektif pribadi).

Mungkin sudah waktunya saya merevisi tujuan saya menulis, dari mempunyai buku yang bisa mejeng di rak best seller, menjadi : mempunyai buku/ tulisan yang bisa membuat pembaca menikmati momen-momen kreatif.

 

Surabaya, 19 Januari 2017.

Johanes Jonaz.

 

 

Advertisements

Give Away Valentine – Kembang Kawisari

c2bssaxuoaeswbm

Saya lagi nulis novel di sebuah platform kepenulisan. Sudah setetengah tahun berjalan, tentang cerita perempuan bernama Trimasih yang hidup di lereng Gunung Kawi-Kelud, di sebuah perkebunan.

Sudah lebih dari 30 bab tanpa terasa sudah saya tulis sejak Agustus 2016 dan sudah dibaca sepuluh ribu lebih pembaca.

Untuk menyambut hari kasih sayang, saya punya sesuatu untuk dibagikan sebagai pertanda kecintaan pada pembaca Kembang Kawisari.

Caranya gampang, tulis sebuah cerita roma dengan seting pedesaan yang kental (tidak harus desa di Jawa) dengan menggunakan nama karakter yang ada di novel Kembang Kawisari.

Tulis cerita kalian di media daring yang bisa diakses dengan mudah; WordPress, Blogspot, Storial, Watpadd, tumblr, atau jika kalian merasa lebih nyaman dengan email, bisa mengirimkan ke johanes.jonaz@yahoo.com

Unggah tautan tulisan kalian di twitter dengan hastag #GAValentineKembangKawisari dan mention @johanesjonaz atau tinggalkan link tulisan kalian di kolom komen blog ini.

Tiga penulis beruntung akan mendapatkan masing-masing sebuah voucher gramedia senilai @ Rp. 100.000 + buku Si Pagar dan Cerita Lainnya, Tiga Dunia, dan sebuah syal ikat dari Nusa Tenggara Timur (akan diacak, tidak bisa memilih hadiah).

Eh, sebentar. Saya juga punya dua bungkus kopi kawisari untuk pembaca.

Bagi yang meginginkan kopi dari kebun di mana Trimasih bekerja, cukup memilih bab favorit dan tulis alasan kenapa kalian memilih bab tersebut di kolom komen. Misal : Kalian memfavoritkan bab Warung Yu Karni, maka di kolom komentar bab Warung Yu Karni kalian bisa menulis alasan kenapa kalian menyukai bab tersebut. Tambahkan hastag #GAValentineKembangKawisari di akhir komentar. — Sayangnya jika ingin meninggalkan komentar dan memilih bab, kalian musti daftar jadi member storial dulu 😦

Ada 2 komentar terbaik yang akan dipilih dan berhak mendapatkan masing-masing satu bungkus kopi jawa kawisari.

Periode Give Away dimulai 11 Januari – 13 Februari. Pemenang akan diumumkan pada hari kasih sayang, 14 Februari 2017.

Ada yang kurang jelas? bisa tanya-tanya ke saya lho.

Selamat menulis dan bersenang-senang!

Serendipiti

Tahun baru kali ini saya gagal melihat hutan pinus. Perkaranya sepele, adik saya menggantikan tugas pelayanan di gerejanya. Sebagai gantinya, saya diajak teman ke Malang untuk menghabiskan malam pergantian tahun.

Malang memang tak pernah menjemukan. Selalu ada yang baru setiap kali saya ke sana. Tema liburan kali ini adalah kuliner dan mengunjungi cafe-cafe unyu yang bertebaran di Malang.

Sebelumnya saya mau cerita. Dalam beberapa tahun belakangan ini, ada pergeseran pola traveling saya. Biasanya saya suka berburu tempat-tempat ekostis yang jarang dijamah manusia. Saya selalu menjadi leader dan paling antusias bikin itinerary. Traveling yang saya pilih pun bersifat low budget dan backpakcer.

Namun, saya nggak tahu sebabnya akhir-akhir ini antusiasme untuk menjadi organisator dalam berpetualang menurun drastis.

Saya lebih suka mencari tempat yang cozy. Entah itu hotel unik dengan pemandangan yang bagus, atau sekedr makan di tempat yang enak. Cara bepergian pun saya lebih suka yang praktis dan mudah, meskipun berat di ongkos.

Seperti liburan ke Malang kali ini. Saya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, mengikuti teman saya dari cafe ke cafe atau tempat makan satu ke tempat makan yang lain. Mencoba restoran-restoran hotel dan menu andalan mereka.

Mungkin, ini ada hubungannya dengan kesukaan menulis yang menenggelamkan saya setahun belakangan. Saya jadi lebih suka berinteraksi dengan manusia. JIka tidak sedang menulis, saya selalu ke warung kopi untuk sekedar mendengar pengunjung kopi bercerita. Ada tukang becak, salesman, pegawai toko, atau penjual pulsa. Mereka punya certa macam-macam, dan saya suka mendengarnya. Dari sana, saya mendapatkan ide untuk menulis.

Saat traveling pun, saya lebih suka dengan obrolan-obrolan ringan dan candaan sederhana yang bikin perut mulas dan mata berair, menghabiskan waktu dengan mendengarkan mereka bercerita di kamar hotel, atau di beranda sebuah cafe dari pada melihat pemandangan alam seperti yang sudah-sudah.

Ada yang menarik saat saya mengunjungi hotel Tugu. Ketika memilih menu, saya tercengang dengan menu kopi yang mereka sajikan. Kopi Jawa Kawisari. Saya seperti mendapat durian runtuh. Kebetulan saya sedang menulis sebuah novel dengan latar perkebunan Kawisari. Tentang seorang gadis bernama Trimasih dan Sinten dengan konfliknya sebagai perempuan dan buruh peetik kopi. Otomatis pikiran saya jadi ke mana-mana. Saya langsung memesan kopi kawisari dari cafe hotel itu.

Ketika saya menghirup aromanya, saya terbawa pada nostalgia masa kecil. Saat saya berkunjung ke perkebunan Kawisari. Aroma kopi itu mengingatkan saya pada almarhum nenek saya, inspirator sekaligus satu-satunya narasumber dari novel yang sedang saya tulis. Saya bukan orang yang bisa menyembunyikan perasaan, teman-teman saya tahu itu. Saya seperti bocah yang menemukan mainan favoritnya. Ada haru dan kegembiraan yang tak terlukiskan.

Seketika itu juga saya gencar menanyai karyawan dan menyebut nama orang-orang yang sekiranya masih hidup yang bisa saya temui di Kawisari. Saya ingin mewawancarai mereka sekaligus melepas kangen pada masa kecil. Namun sayangnya, tidak satu pun karyawan hotel mengerti apa yang saya bicarakan.

Saya membeli satu bungkus kopi Kawisari. Setiba di rumah, saya langsung menyeduhnya. Demi Tuhan, ini serendipiti yang menyenangkan sekaligus membuat sedih. Beberapa waktu lamanya suasana hati saya kacau, tetapi saya mendapat suntikan yang luar biasa untuk menyelesaikan buku saya. Godspeed.