La(gi-la)gi Jogja

c4zpxolvcaantrj

Jodoh.

Definisinya menurut KBBI daring :

jo.doh

  1. n  orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan: berhati-hatilah dalam memilih —
  2. n  sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang; pasangan: mana — sepatu ini
  3. a  cocok; tepat: ia telah meminum obat itu, tetapi tidak —

Namun, saya punya definisi lain; usaha semesta untuk mewujudkan keinginan kita.

Saya merasa punya sifat yang sedikit ambisius, yah bisa dikatakan apa yang saya ingini sebisa mungkin harus saya wujudkan. Sering saya dengar sentimen negatif tentang sifat ini. Teman-teman saya mengernyitkan dahi atau memasang mimik tidak senang saat ada yang bilang ‘ambisius’ padanya.  Apakah sifat ini begitu menyebalkan?

Well, sebenarnya itu tergantung sudut pandang masing-masing orang. Buat orang yang hidupnya mengalir mirip ‘plung-lap’ seperti saya, sifat ini membantu saya mengejar goal (yang nggak pernah saya buat secara serius) dalam hidup.

Misal, saya ingin punya sepatu canvas bermerek. Maka saya akan menabung, cari perbandingan harga di online shop, sampai diet makan indomie tiap malam. Apakah sifat ambisius saya menyebalkan? Lebih menyebalkan mana jika saya nyolong sepatu di masjid biar dapat sepatu canvas bermerek yang saya pengen?

Untungnya, sifat ambisius saya ini kebanyakan bersinergi dengan semesta. Saat saya ngiler dengan sepatu kanvas bermerek dan dut saya cekak, tiba-tiba teman saya ngajakin jalan ke mal, dan di salah satu toko, sepatu yang saya pengen lagi diskon dan duit yang saya punyai cukup dengan harga sepatu setelah diskon. Jadilah saya beli sepatu itu.

Nah, kira-kira seperti itulah definisi jodoh menurut saya.

Sudah setahun saya aktif menulis fiksi. Kebetulan saya cocok dengan portal kepenulisan storial.co. Seperti layaknya medsos, saya juga berinteraksi dengan penulis lain di portal tersebut, beberapa di antaranya sudah sangat akrab dan saya pengen banget bertemu dengan mereka in real life.

Saya selalu antusias jika ada teman yang main ke kota saya dan ingin menemuinya. Sebaliknya juga, saya ingin bertemu dengan teman-teman yang kotanya saya kunjungi. Kebetulan, bulan Juni ini saya berencana ke Jogjakarta, dan bulan Maret saya menghabiskan libur Nyepi di Bali.

Di Jogja, saya pengen ketemu penulis storial yang tinggal di sana. Nah, kebetulan, Nara, penulis idola saya di storial tinggal di Jogja. Di Bali, saya sudah mengontak Nux, teman storial yang tinggal di Gianyar.

Kebetulan, di storial ada kompetisi menulis fiksi yang diambil dari album INTERSISI Musikimia. Hadiahnya, tentu saja tiket nonton + akomodasi dan transportasi dari dan ke Jogja. Saya pun mencoba ikutan.

Tanpa disangka, saya menjadi salah satu pemenang dalam kompetisi itu, dan coba tebak siapa pemenang selain saya? Dia adalah Nux, yang tinggal di Bali. Yap, Nyepi nanti saya nggak perlu ganggu dia beribadah untuk bertemu. Eh tapi tunggu dulu. Konser Musikimia ini di Jogja, itu artinya saya bisa bertemu dengan Nara dan kawan-kawan lain di Jogja, tidak perlu menunggu Juni saat saya ke Jogja nanti.

Saya cuman mringis dan bilang, ini jodoh. It was great to see them in Jogja. Nara, Luthfi, bahkan Ulfa jauh-jauh datang dari Solo biar bisa kopdar anak storial. Jumat malam yang seru di Secret Garden. Keesokan harinya, saya baru bertemu dengan Nux, Steve (CEO Storial.co) dan Mas Ega (CEO Nulisbuku.com) di Grand Tjokro.

Sebagai penikmat musik, saya suka nonton konser. Biasanya saya ada di antara ratusan penonton tribun atau festival. Namun, kali ini Storial dan Musikimia memberi pengalaman baru bagi saya; mengetahui sibuknya backstage para artis dan kru yang terlibat dalam sebuah konser. Saya diajak berinteraksi dengan anggota Musikimia. Mas Fadli, Mas Yoyo, Mas Rindra, dan Mas Stevan baik bener. Mas Ega dan Mas Yoyo ngobrol bahasa suroboyoan dan membuat orang seback-stage roaming.

It was a great experience. And, I thank to Jesus for this opportunity.

cc : Nara, Nux, Musikimia, Storial, Luthfi, Ulfa, Steve, Ega.

Kalau ingin baca tulisan saya yang memenangi kompetisi ini, silakan klik tautan ini

 

Advertisements