Selamat Ulang Tahun, Flinn

62b7fa0f8c7924a05989c81686e1c89b

Jari-jariku mulai bergetar. Kuhimpit kedua tanganku di antara belahan kaki, berharap jari-jari kecil dalam sarung tangan ini menghangat. Bangku kayu ini pun tidak menolong. Kupikir guruku salah ketika meyebut kayu adalah penahan panas yang baik, aku masih kedinginan. Kurasa bangku ini malah memanfaatkanku jadi pengering bilahnya yang  basah.

Sudah setengah jam aku memandang gerbang hitam, menunggu penghuninya muncul. Ruas-ruas jariku mulai kaku, sial! Seharusnya aku membawa mantel yang lebih tebal. Mataku mulai melihat debu-debu salju turun, membayang dari latar hingga kemudian mencuri fokus mataku. Mereka turun, seperti panari balet dari kapas. Meliuk, berputar, dan kadang berhenti. Di depanku.

Gerbang hitam tergeser berbarengan dengan derit gesekan besi kering, membuat kupingku sakit dan penari-penari kapas itu enyah.

“Linda? Apa yang kaulakukan di situ?”

Aku berdiri dan melambaikan tangan, membalas sapaan penghuni rumah bergerbang hitam dengan kikuk. Aku tahu dia heran melihatku duduk di bangku, hampir terkubur salju. Biasanya aku langsung masuk rumahnya melalui celah gerbang atau memanjat pagar.

Flinn menghampiriku–aku tahu dia Flinn meskipun syal tebal menutupi leher dan sebagian wajahnya–dengan memicingkan mata.

“Apa yang menahanmu di sini?”

Bola mataku menggeser, dari wajah merahnya ke arah bangku lalu berhenti pada sebuah bungkusan biru yang menjadi teman duduk selama setengah jam lalu. Sepertinya aku berhasil menuntun pandangan matanya. Manik biru di dalam sipit matanya kini juga mengarah pada dudukan bangku.

“Selamat ulang tahun, Flinn.”

Dia menurunkan syal kelabu yang menutup wajahnya, membuat senyum manisnya terpapar sempurna, terlihat sangat bahagia.

“Thanks Lin. Kurasa, aku tahu apa isinya.”

“Silahkan merusak kejutan dengan tebakanmu, Bodoh.”

Kucium pipinya saat dia menggoyang-goyang kotak biru kadonya. Oh Tuhan, aku mengharap dia memeleng sedikit–membuat  kecelakaan bibir bertemu bibir terjadi.

Namun dia bergeming.

“Seharusnya kamu tak perlu repot, Lin.”

Aku mengedik.

Repot katamu? Bahkan jika aku mati beku menunggumu keluar dari gerbang hitam bukan masalah, Flinn.

Sepatu dalam kotak itu adalah satu-satunya cara agar aku bisa melihat senyumnya. Aku tahu ini salah, tapi deretan gigi putih yang menyertai lesung pipitnya membuat pagar nalarku rusak. Bulan ini adalah saat yang tepat untuk memberi apa yang dia impikan tanpaku merasa canggung–ulang tahunnya yang kedua puluh enam.

“Ayo masuk!”

Tangan kekarnya memeluk pundakku, membawaku ke dalam.

Pinggang, Flinn … lingkarkan lenganmu di pinggangku, bukan di pundak.

Seutas senyum menunggu di beranda. Flinn melepas peluk dan menyerahkanku pada lelaki yang serupa dengannya–yang lantas menyambutku dengan ciuman di bibir dan pelukan di pinggang.

Tak kalah hangantnya, aku pun membalas peluk dan cium Ricky, tunanganku.

Namun ….

Palung hatiku masih mengharap. Orang  yang memeluk dan menciumku adalah Flinn, bukan Ricky, abangnya.

Advertisements