Obrolan Warung Kopi

43950ef91b56a8cce8ddf2a89d3dfede
Pada sebuah sore di warung kopi, saya ngobrol santai dengan sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Kami pun bertukar cerita.
“Ritual apa yang kaulakukan sebelum menulis?”
Saya mengernyit, bingung dengan ritual yang dimaksud. Ngepet kah? Minum air kembang kah?
Dia berkata lagi, “maksudku, apa kamu tidak menciptakan lingkungan yang mendukungmu berkonsentrasi? Misalnya mengurung diri dalam kamar, atau pergi ke tempat khusus?”
Saya menggeleng, “Itu tidak pernah bisa saya lakukan. Saya ingin, tetapi selalu gagal.”
Saya pernah sok-sokan seperti itu. Dulu pernah mencoba menyepi untuk menulis, menyewa sebuah kamar kost di lantai tujuh di sebuah apartemen di bilangan kertajaya. Saya berhasil menyelesaikan berapa paragraf sebelum terdistraksi oleh suara-suara astral di kamar sebelah yang berhasil membuat saya berhenti menulis dan turun ke bawah untuk berenang.
Kemudian, saya mencoba pergi ke hutan mangrove di daerah Medokan Ayu, saya pikir tempat itu bisa membantu saya menyelesaikan tulisan yang terbengkalai. Dalam bayangan saya, bunyi-bunyian burung liar akan bagus sebagai backsound saya menulis. Nyatanya tidak. Di sana saya malah menyaksikan orang pacaran dengan hati yang pilu, maklum … saya seorang jomblo. #plak
Saya pun pernah mencoba ke cafe, pada suatu petang. Niat saya memang untuk menulis karena sudah di ambang deadline. Saya sengaja memilih cafe terpencil dan jauh dari jangkauan teman-teman. Dalam bayangan saya, saya akan duduk di pojok jauh dari keramaian dan ditemani secangkir kopi. Namun, lagi-lagi gagal karena setan-setan itu bisa tahu keberadaan saya. Akhirnya kami ngobrol gak karuan. Sepertinya, mereka menanam GPS dalam tubuh saya.
Metode oportunist style pun pernah saya coba. Saya membawa laptop saat liburan. Bisa diibilang ini adalah kerjaan paling gagal selama saya menulis. Selain berat laptop yang saya bawa, kamar hotel juga terlalu nyaman untuk menulis … sebagian waktu liburan saya pakai untuk mendengkur.
Teman saya kemudian bercerita, ada penulis yang bermeditasi sebelum menulis. Katanya agar mendapatkan ide. “Apa kamu juga melakukannya?” tanyanya.
Saya menggeleng lagi. Tidak berhasil, boro-boro mencapai fokus. Begitu mata terpejam, pikiran saya langsung tertuju pada sepatu yang saya pengen beli on line shop. Atau kalau tidak, terdistraksi oleh ayam gurinngnya ipin upin …. Oh Man!
Setelah saya runut lagi, sebenarnya saya tidak perlu membangun atmosfir untuk menulis. enarnya sih pernah saya berencana untuk membuat ritual sebelum menulis, saya mau gigit leher ayam cemani sampai putus. Namun, saya batalkan. Saya takut dituntut plagiat oleh pemain kuda lumping dan band metal tahun baheula.
Saya bisa menulis di mana pun dan dalam keadaan apa pun, asal saya sehat dan sendirian, tidak ada begundal yang mengajak saya ngobrol. Saya punya kebiasaan rutin selama weekdays kecuali Rabu. Sepulang kantor saya ngopi di warkop dekat rumah. Ngobrol dengan pemiliknya atau pengunjung lain. Selanjutnya, saya pulang dan mandi. Keluar dari kamar mandi saya sudah bersarung dengan rambut yang basah, FYI saya keramas tiap sore—bukan karena abis sunnah rasul, tetapi karena rambut saya gatal kalo nggak keramas. Kemudian main game frozen sebentar (serius! frozen yg kayak candy crush itu) lalu mulai menulis, tentu saja dengan ditemani Surya 12 yang setia. Kira-kira sampai jam 11 malam, lalu satu jam sebelum tidur saya pakai buat main Clash of Clan dan Clash Royal, chatting dan ngecek sosmed.
Saya libur menulis saat weekend, dan saya pakai bersosialisasi.
Lalu kapan pacaran?  
Saya pun tidak terganggu dengan keadaan lingkungan, selama nggak ada kebakaran, tetangga punya hajat, atau musim kawin kucing. Saya tetap bisa menulis, pun kalau kondisi kamar kayak kapal pecah, atau rapi jali tidak ada pengaruh.
“Lalu ide menulis datang dari mana?” tanyanya kemudian.
Untuk cerpen, biasanya ide itu datang dari warkop dan obrolan dengan penghuninya, setelah nonton film, atau membaca buku. Tetapi, kebanyakan ide itu datang dari apa yang saya lihat, bukan yang saya alami—kecuali beberapa tulisan roman yang terinspirasi dari orang yang saya cintai, yang sekarang sudah …. Ah sudahlah.
Namun ada kasus khusus pada penulisan novel saya terakhir, idenya datang dari bayangan masa kecil saya saat liburan sekolah yang selalu saya habiskan di rumah nenek. Nanti saya cerita pada tulisan khusus tentang novel ini.
Untuk tulisan panjang, biasanya saya memikirkan lanjutan cerita saat saya sedang mandi. Entahlah, saat rambut saya basah terguyur air, rasanya ide-ide itu berlompatan ke sana kemari. Kadang saking banyaknya, tercecer satu-dua ide yang kemudian hilang sebelum saya catat.
“Pernah bingung di tengah jalan?” tanyanya lagi,—writing block—maksudnya.
Tentu, selain karena negara api menyerang, kebanyakan karena hal-hal yang saya ingin sertakan dalam tulisan—yang sebenarnya tidak penting jika itu tidak ada. Kadang saya harus mengubah suai plot untuk itu, dan saya enggan memulainya dari mana.
Untuk tulisan pendek, biasanya sih saya ambil tema dari tantangan grup menulis saya, Dimensi Kata. Nah, cerita apa yang saya tulis untuk tema itu? Ini yang biasanya jadi masalah seperti yang saya katakan tadi, saya bisa mengambil adegan dari potongan film, atau membaca dari buku penulis fafvorit saya.
Hari sudah menjelang malam, dan kopi dalam cangkir sudah berganti sebanyak dua kali. Saya lihat teman saya ini belum puas bertanya.
Lalu sebelum pulang dia menuntaskan rasa penasarannya, “Jadi, kapan novelmu terbit?”
Dan esoknya dia ditemukan jadi mayat.
Advertisements