Hari Kelima #7daysKF

statik.tempo.co

Siapa yang ingin saya temui dalam waktu dekat ini? Kenapa?

Ada banyak sih, Ricky salah satunya. Dari keluarga besar, dialah yang paling dekat dengan saya. Saya dan Ricky punya banyak kesamaan, zodiaknya sama, pun sifat-sifatnya. Ricky suka traveling, saya juga. Dengan dia saya bisa bercerita banyak hal, termasuk yang bersifat pribadi dan rahasia. Perbedaan kami cuman dua, dia lebih ganteng dan religius-sedikit-fanatik. Kalau saya … saya ganteng juga sih, tepi lebih ke spiritualitas dari pada religius. Namun sayangnya, Ricky dan saya jarang bertemu. Komunikasi kami hanya melalui whatsap. Natal tahun lalu dia berencana ke Surabaya, tetapi begitu dia dapat tugas dari gereja untuk menjadi misdinar dia sekonyong-konyong membatalkan kepergiannya ke Surabaya.

Kedua, mantan saya (kalau bisa dibilang mantan sih—mantan orang yang saya sayangi hahahhaha). Kenapa? Karena saya rasa ada yang belum selesai antara saya dengan dia. Pertemuan terakhir dengannya adalah Desember yang lalu dan saya masih belum bisa move on meskipun sudah menghapus jejaknya di mana pun. Cuman satu yang masih saya simpan, sertifikat seminar miliknya masih ada di jok belakang mobil saya, ketinggalan.

Namun jujur, keinginan saya bertemu dengannya sama besar dengan keengganan saya. Pasalnya, saya sudah menemukan hal-hal yang—mungkin—akan membuat saya disrespect terhadapnya. Namun, saya juga tidak bisa bohong kalau saya rindu dengannya. Halah 😦

Ketiga, Chantal Dellaconcheta dan Susan Bachtiar. Karena saya ngefans benar sama mereka. Pfft.

Advertisements

Hari Keempat #7daysKF

tomi-top

Kelakuan konyol yang seharusnya tidak saya lakukan di masa lalu.

Mengirim surat pada gebetan saat kelas 6 SD.

Meskipun dikenal sebagai badut sekolah, sebenarnya saya pemalu. Saat kelas 6 SD saya memberanikan diri untuk menulis sebuah surat cinta pada gebetan saya. Sebenarnya bukan surat cinta juga sih, lha cuman selembar sobekan kertas dengan tulisan Jo & Farida. Sobekan kertas itu saya masukkan pada buku pelajarannya.

Mungkin nasib sedang sial, teman sebanagku saya memergokinya dan mengambil sobekan kertas itu lalu mengoperkannya ke seluruh kelas sambil berteriak-teriak, “Jo naksir Farida!”.

Keesokan harinya, di dinding sekolah ada tulisan besar-besar berbunyi ‘Jo cs Farida’. Entah apa makna huruf c dan s yang mereka pahami waktu itu, yang pasti urusan cinta-cintaan gitu lah. Akibat dari tulisan itu, Farida tidak ngomong sama saya sampai hari kelulusan tiba. Mungkin dia malu.

Bergaul dengan Tommy.

Sewaktu SMP kelas dua, saya mengalami krisis yang lumayan berat. Masalah keluarga belum juga selesai dan membuat bocah 13 tahun semacam saya limbung. Di sekolah, saya bergaul dengan Tommy, berandalan kelas yang nakalnya minta ampun. Setiap hari saya, Tommy dan teman-teman berandalannya kumpul di rumah Tommy. Apa lagi kalau tidak nonton bokep. Dari Tommy, saya mengenal Topi Miring, vodka murahan yang sering ditenggaknya. Namun, untungnya saya tidak ikut-ikutan minum dan Tommy pun memaklumi karena penampakan saya yang masih lugu dan bocah banget.

Hampir tiap malam saya diajak mengamen dari rumah ke rumah. Dari Tommylah saya belajar main musik. Setiap minggu pasti ada dua hari yang kami guakan untuk bolos, tentu saja di rumah Tommy yang hanya tinggal bersama kakak laki-lakinya. Rekor bolos saya adalah 2 minggu berturut-turut absen dari kelas. Puncak kenakalan kami terjadi saat saya menemani Tommy minum di kantin sekolah. Rupanya ada yang melapor dan parahnya, meskipun saya tidak ikut-ikutan minum, saya ikut digelandang dari kelas ke kelas dengan mengalungi botol kosong Topi Miring bersama Tommy.

Bapak saya dipanggil guru BP dan WaliKelas. Dengan ancaman dikeluarkan dari sekolah, jika mengulangi perbuatan itu lagi, saya disuruh membuat surat pernyataan penyesalan. Sesampai di rumah, drama pun terjadi. Tidak. Bapak saya tidak menghajar saya. Beliau membeli dua botol Topi Miring dan mengajak saya duduk di balkon rumah.

“Kalau kamu pingin minum, Bapak temani.” ujarnya sambil menenggak vodka murahan itu. “Tetapi dengan syarat kamu harus mengabiskan sebanyak yang Bapak minum.”

Dan malam itu saya minta ampun, menyerah dan berjanji enggak bakal mengulanginya lagi setelah puyeng meminum dua botol kecil Topi Miring. Sejak saat itu saya enggak berteman dengan Tommy lagi dan kembali ke jalan yang benar, jadi anak baik-baik.

Hari Ketiga #7DaysKF

IMG_1198Tentang Kehilangan

Mau yang mana dulu nih? Kehilangan materi saya pernah. Kehiangan cinta? Pernah dong. Kehilangan sahabat juga pernah. Kehilangan hewan peliharaan? Beberapa kali.

Saya bingung mau bahas yang mana, tetapi baiklah, saya mau cerita yang paling saya ingat; kehilangan anjing peliharaan. Dua kali saya mengalaminya, pertama saat saya masih anak-anak dan kedua saat saya sudah dewasa.

Sewaktu masih kecil, saya mempunyai seekor anjing yang saya temukan terluka di pinggir jalan. Waktu itu saya memohon-mohon pada ibu untuk mengijinkan memeliharanya. Saya sadar waktu itu tidak memungkinkan untuk memeliharanya, karena ada masalah dalam keluarga. Namun, karena saya gigih akhirnya ijin itu turun. Saya namai anjing itu Boy, itu pun atas saran ibu.

Setahun lebih saya bersahabat dengan anjing berwarna hitam itu. Saya mencintainya, pun teman-teman saya. Saya ingat betul, di tahun pertama kebersamaan kami, saya dan teman-teman merayakan ulang tahun Boy. Sepotong sosis murahan saya beli dan menaruh lilin di atasnya, sebagai kue ulang tahun. Kami memakai topi pesta yang terbuat dari kardus bekas dan membeli minuman kaleng dan kue-kue dari tabungan.

Sebagai anak-anak, kami dan Boy mempunyai masa-masa yang menyenangkan. Hingga pada suatu kali, saya harus diungsikan ke rumah kerabat. Tidak mungkin membawa Boy karena lingkungan rumah keluarga yang saya tumpangi menajiskan binatang itu. Hampir setiap hari menangis karena merindukannya. Mungkin Boy juga merasakan hal yang sama. Hati saya hancur saat mengetahui Boy mati sebulan kemudian. Cinta pertama saya pada makhluk selain manusia kandas.

Kali kedua saya kehilangan anjiing adalah setelah dewasa. Waktu itu saya baru menempati tempat baru, di luar kota. Saya pikir, saya bisa memelihara lagi seekor anjing untuk menemani saya berolah raga. Saya kesengsem dengan ras golden retriever, maka saya membelinya seekor dari breeder dan saya beri nama Hugo. Seiring waktu berjalan, saya mulai sadar jika sering tidak berada di rumah. Lalu, datanglah Carlos, seekor anjing kecil yang tingkahnya amit-amit, untuk menemani Hugo selama saya tidak di rumah.

Hampir lima tahun lamanya mereka menemani saya. Keterikatan satu dengan yang lain sangat kuat. Seperti kebanyakan anjing, mereka mengerti apa yang saya alami tanpa saya berkata-kata. Pernah suatu kali saya marah karena masalah kantor, sewaktu sampai di rumah mereka menyambut saya seperti biasa. Namun, setelah itu mereka duduk dengan tenang dan tidak mengajak saya bermain seperti biasa, bahkan sampai makan malam pun mereka masih diam. Biasanya pada jam-jam seperti itu, Hugo selalu menggigit tempat minumnya dan meletakkannya di samping saya—mengingatkan kalau waktunya minum susu.

Tidak ada rasa sedih yang menyamai kehilangan hewan piaraan, tepat di usianya yang keenam, Hugo mengembuskan napas terakhirnya. Saya dan Carlos berduka, lebih-lebih saat melihat Carlos yang sering melolong, mencari Hugo. Hingga sekarang saya masih ragu untuk memelihara anjing lagi. Saya masih belum siap untuk mengalami kehilangan untuk yang kesekian kalinya.

 

Saya Terlalu Dimanja

isn't it funny

Sudah satu semester bergulir sejak pergantian tahun. Selama itu pula saya sudah beberapa kali bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kamu lakukan enam bulan ini?

Saya kebingungan menjawabnya.

Seminggu yang lalu, saya baca-baca lagi cerpen yang saya buat. Saya tersenyum sendiri saat membaca tulisan saya. Dari belasan judul yang saya tulis, beberapa di antaranya berkisah tentang sebagian kecil perjalanan hidup saya. Ada yang tertuang dalam satu cerita, ada yang memburai di sebuah paragraf, ada pula yang terletak dalam satu baris kalimat. Rupanya tanpa sadar, saya merekam kehidupan saya di sana.

Bulan Januari lalu, saya menabrak pengendara motor. Saya share kejadian itu di twiter dan banyak yang menanggapi. Dari beberapa tanggapan, ada satu yang mencuri perhatian saya. Ada yang bilang , kalau kejadian seperti itu, tinggal siapa yang ngotot duluan aja pasti dia yang menang. Saya pernah lihat orang marah-marah adu argumen di pinggir jalan setelah tabrakan. Pengen sih melakukan itu, tetapi itu tidak mungkin saya lakukan, karena ada kepercayaan bilang ‘motor selalu benar’.

Akhirnya saya memilih untuk menyelesaikan dengan cara damai. Saya berikan uang berobat dan KTP saya. Buntungnya, beberapa hari setelahnya, saya harus pergi ke Jogja. Nah, di sinilah kekurangajaran itu terjadi. Orang yang saya tabrak mendatangi rumah saya, memaki kakak saya dengan kata-kata yang tidak pantas sampai para tetangga datang. Bahkan teman yang waktu kejadian bersama saya mendapat getahnya, dia juga ikut diteror.

Beberapa tetangga menyarankan untuk melakukan persekusi—istilah yang lagi ngetrend untuk main hakim sendiri— untuk membalasnya. Apalagi, kakak saya punya kenalan baik seorang perwira. Dalam hati saya ingin melakukan saran mereka, tetapi saya ingat kata-kata mentor saya. Apa bedanya saya dengan orang yang saya tabrak kalau saya melakukan hal itu?

Selama saya di Jogja, berulang kali saya mencoba menghubunginya, tetapi telepon saya selalu ditolak, sms pun tidak dibalas.

Segera setelah saya sampai di Surabaya, saya datangi dia. Perkaranya sepele kenapa dia marah-marah, dia merasa tersinggung karena saya hanya sekali datang ke rumahnya setelah kejadian. Menurutnya, saya harus datang lagi dan lagi dan lagi hingga perkaranya selesai, bukan melalui telepon. Belakangan saya tahu jika dia sedang bermasalah dengan kartu kredit dan mencoba memerah saya. Pantas telepon tidak pernah aktif, rupanya dia takut diteror oleh debt collector.

Saya hampir tergoda untuk mendatanginya, menekan dengan bekingan si perwira, tetapi puji Tuhan saya tidak melakukannya. Akhirnya, saya berikan beberapa rupiah untuknya, tentu saja setelah melakukan negosiasi yang alot dan kalkulasi yang cermat.

Dari kejadian ini saya sadar. Tuhan menyertai saya dan membentuk saya menjadi perwira itu sendiri. Seorang perwira akan menyelesaikan masalahnya sendiri, tidak menyusahkan orang lain dan bertanggung jawab. Saya menuangkan kejadian ini menjadi sebuah cerita pendek berjudul Lintang Kartika, kapan-kapan saya share.

Enam bulan yang lalu, saya juga mengalami peristiwa besar. Tepat di akhir tahun, saya memutuskan untuk mengakhiri cinta saya pada seseorang. Berat memang, karena saya tidak pernah mencintai orang lain sebesar ini sebelumnya. Setelah terakhir bertemu dengannya, 12 Desember 2016, saya menimbang lagi hubungan saya. Jelas saya akan tidak bahagia. Orang bilang bahagia itu dilakukan, bukan dicari. Dan saya kesulitan melakukan kebahagiaan itu dengannya. Jadi, saya akhiri perasaan cinta saya padanya, sekaligus menutup hati pada siapa pun.

Saya menganggap, mencintainya adalah sebuah kesalahan. Berat? Jangan ditanya. Tidak perlu lah saya menceritakan usaha saya untuk melupakannya. Namun, sekali lagi saya tidak bergantung pada situasi dan kondisi yang saya alami. Saya pakai kehancuran hati saya untuk melakukan hal-hal yang baik. Saya menjadi penulis produktif di masa-masa sulit saya. Saya berhasil menyelesaikan novel yang sudah enam bulan tersendat-sendat, in sha allah sebentar lagi bisa dijumpai di toko buku. Beberapa kisah pendek juga saya tulis. Tidak berhenti di situ saja, Tuhan memudahkan dua proyek menulis keroyokan saya berhasil dibukukan. Satu dipinang penerbit major, satu lagi indie.

Saya pun diberi kesempatan untuk lebih banyak berbuat baik, menjadi manajer rejeki yang dipercayakan oleh Tuhan pada saya. Mentor saya bilang, kamu tidak berhak atas apapun yang kamu punyai, dan itu yang saya pegang. Kalau dalam kepercayaan saya, sebagai orang Kristen, ada hukum tabur tuai. Namun sekali-sekali saya tidak pernah memikirkan untuk menuai apa yang sudah saya tabur. Pemeliharaan Tuhan dan penyertaanNya selama saya hidup tidak akan pernah bisa disandingkan dengan apa yang sudah saya lakukan selama ini. Sekali pun saya tidak pernah berpikir melakukan kebaikan dengan motif menabur agar saya nantinya menuai. Saya melakukannya semata-mata karena saya punya hutang sama Tuhan, hutang yang tidak akan pernah lunas berapa banyak dan lamanya saya bayar.

Kemarin saya bertanya lagi pada diri saya, apa yang sudah kamu capai selama setengah tahun ini? Ternyata masih sedikit. Saya terlalu dimanja sama Tuhan dengan membentuk pribadi saya menjadi lebih kuat, menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan rendah hati.

Sumpah saya malu.