Afro Jo

IMG_0428

Berapa kali kamu melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya lalu spontan melakukannya tanpa berpikir panjang? Padahal efek yang kamu lakukan tidak bisa diubah, atau membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan ke keadaan semula.

Seingat saya, dua kali saya melakukannya.

Pertama saat saya melakukan perjalanan kontemplasi ke Munduk, Bali. Saat itu saya ingin lepas dari kehidupan kota dan hidup sebagai orang Bali. Seperti tulisan saya yang lalu, saya ikut menanam padi di sawah dari pagi hingga sore. Selama itu pula saya, pengarap sawah dan anaknya memakan nasi kiriman yang dikirim istri penggarap sawah, persis seperti cerita Pak Tani yang sering saya dengar

Saat ada warga yang berkesusahan, saya pun ikut serta melayat. Dan anehnya, tidak ada satu pun yang mengenali saya sebagai pendatang. Dikiranya saya adalah salah satu teman dari orang yang meninggal tersebut karena (mungkin) saya berpenampilan seperti pemuda desa pada umumnya yang emmakai udeng dan kain panjang.

Dan hal yang paling gila adalah saya mentato tubuh saya dengan gambar salib berornamen ragam hias bali. Saat saya di sana, saya banyak bergaul dengan pemuda setempat yang rata-rata bertato. Ketika saya bertanya tentang tato-tato di tubuh mereka, dengan berkelakar mereka berkata, “Tato itu semacam KTP bagi penduduk Munduk. Coba Bli Jo lihat, pemuda-pemuda yang sudah akil balik pasti bertato.”

Dan dengan spontan, saya pun minta ditato.

Hal spontan kedua baru saja saya lakukan hari ini. Saya mengubah gaya rambut saya menjadi afro. Ya, betul. Edi Brokoli, Lenny Kravitz, Lauryn Hill, Macy Gray, Wanda Sykes, you name it.

Gara-garanya, saya malas potong rambut dan rambut saya sudah terlalu panjang jika dengan model saya biasanya. Kemarin adalah hari terakhir liburan panjang – (saya bekerja di sebuah sekolah internasional di Surabaya) dan saya kebingungan harus merapikan diri. Akhirnya di saat-saat genting itu saya lihat poster bergambar model afro di kamar. Dan akhirnya saya minta teman saya mengantarkan saya ke salon dan membuat rambut saya seperti poster itu.

Hari ini adalah hari pertama semuanya bertemu dalam satu atap – 200 orang dan saya tampil dengan rambut afro di hadapan mereka. Bodohnya, saya nggak sadar di situ juga ada GM dan EP, bos besar. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Saya datangi mereka dan bersalaman. Kena SP kena SP aja, saya nggak ambil pusing.

Namun, ternyata apa yang mereka ajarkan – tetang open minded dan accept differences – bukan cuman teori. Mereka tidak terusik sama sekali dengan penampilan saya dengan keafroan saya, padahal … kolega-kolega saya merundung dengan sebutan yang aneh-aneh. Tapi, nggak ngefek lah kalo perundungan itu terjadi pada saya, saya justru membuatnya jadi lelucon.

Nanti saya post rambut afro saya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s