Pencuri Mimpi

DIhrYqSVwAA9pn9

Selamat ulang tahun, Dimensi Kata!

Terima kasih sudah memberi saya tempat untuk bernaung, terima kasih juga buku Pencuri Mimpi yang sudah hadir dalam setahun peringatan berdirinya komunitas menulis fiksi ini.

Sebagai ucapan terima kasih, saya akan menulis beberap hal yang menggores ingatan saya selama saya berada dalam komunitas Dimensi Kata.

Sudah setahun berlalu saat saya bergabung dengan komunitas menulis Dimensi Kata. Memang tidak mudah untuk melanggengkan sebuah komunitas, membuatnya konsisten dan berkesinambungan. Dalam setahun, sudah banyak anggota yang keluar masuk. Ada yang terlalu sibuk, tetapi ada juga yang dikeluarkan karena tidak mampu mengikuti aturan yang bisa dibilang lumayan ketat, termasuk saya. Saya pernah beberapa kali dikeluarkan dari keanggotaan karean lalai menjalankan tugas.

Practise makes perfect, itu benar. Namun, bagaimana cara membuat anggotanya rajin berlatih, itu yang menjadi tantangan. Dimensi Kata salah satu komunitas yang menerapkan cara ‘kejam’ agar anggotanya rajin berlatih. Bayangkan saja, setiap minggu, anggotanya diminta untuk membawakan sebuah cerpen dan mengulas pokok-pokok bahasan. Mulai masalah elemen fiksi, teknik penulisan, gaya bercerita, hingga—yang paling sulit—menakar rasa tulisan itu sendiri. Selain itu, sebulan sekali, kami juga diminta untuk menulis sebuah cerpen tantangan yang tiap bulanya selalu berbeda. Berat bukan?

Jujur, di dalam komunitas ini saya belajar banyak. Saya ‘dipaksa’ untuk keluar dari zona nyaman dan bereksperimen dengan gaya baru. Saya ingat betul, bagaimana hancurnya tulisan saya saat mengetengahkan tulisan tantangan cerpen arkais. Mulut-mulut silet teman-teman mencukur tulisan saya, habis hingga gundul. Saya malu, sumpah. Namun, di balik kemaluan saya (er… kok terdengar aneh ya) saya menyadari kelemahan saya dan menjadi pelecut untuk lebih maju.

Tidak jarang pula adanya gontok-gontokan dalam anggota, tetapi untung saja tidak sampai menumpahkan darah. Itulah dinamika, tanda jika komunitas kami hidup.

Kembali lagi ke ulang tahun Dimensi Kata yang pertama. Setelah dirembuk, kami sepakat untuk membukukan karya-karya kami. Kebetulan salah satu anggota kami, mendapat fasilitas ISBN  gratis dan jasa layout. Maka, kami pun bergotong royong menerbitkan buku tersebut. Singkat kata, buku tersebut sudah terbit dan telah sampai di rumah kami masing-masing.

Dan ini cerita bagian harunya.

Buku itu sampai di tangan saya dengan bungkus yang manis, seperti kado natal. Saya memandangi lama buku itu, tak sampai hati membukanya. Dalam kepala saya mulai tercipta gelembung-gelembung ilustrasi perjalanan buku ini. Bagaimana kami saling mengoreksi tulisan kami, deadline yang tak kunjung habis, diskusi-diskusi panjang tentang desain sampul, pembuatan video teaser, hubungan dengan percetakan, hingga urusan logistik yang berdarah-darah—kurirnya nyungsep waktu nikung!

Memang, bagi saya buku ini bukan buku saya yang pertama. Namun, buku ini menjadi yang paling punya banyak cerita. Dimensi Kata adalah komunitas yang membuat saya jatuh cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s