Stetoskop

009d31baba73f19400e042f9caea615b

Jordan menatap langit sore yang saat itu tidak ditemani matahari. Tanpa terasa tahun 2017 sudah menginjak bulan kesepuluh, langit mulai suka memamerkan kelabunya.

Ia menunduk, menyentuh masing-masing jari dengan telunjuknya, menghitung pelan masa berkabung hatinya.

“Genap setahun,” ujarnya.

Setahun yang lalu, Jordan memutuskan untuk meninggalkan Aubrey saat gelombang cintanya sedang pasang.

“Sebuah keputusan yang berani,” kata sahabatnya waktu itu.

“Berani, tolol, bunuh diri, tidak ada bedanya. Namun, aku merasa waktu itu aku membuat keputusan yang paling waras,” ujarnya menanggapi reaksi sahabat yang tidak memercayai bahwa Jordan telah meninggalkan orang yang paling dicintainya itu.

Lima tahun penuh kemunafikan sudah ia rajut bersama Aubrey, emoticon smiley hingga taburan kata-kata cinta dan rindu yang beranak pinak menjadi bumbu hubungan palsu itu. Sebenarnya Jordan sadar, mencintai Aubrey tak kalah menyedihkan dibanding  kematian-kematian harapannya setiap kali ia hendak tidur. Namun, tetap saja ia abai, Jordan memilih intuisi–atau napsu–yang berpura-pura menjadi nurani.

Puntung rokok belum ia lepas dari jarinya, padahal api sudah membakar sebagian filter cokelat di dalamnya. Seperti harapannya, waktu untuk menyala sudah habis. Maka malam itu ia memutuskan untuk membabat cintanya. Ia tak kuasa melihat kebersamaan Aubrey dengan keluarga kecilnya.

Selamat tinggal, Aubrey, tulisnya pada sebuah surel.

Satu tahun penuh Jordan berjuang melepas harapan, memotong batang cinta yang sedang berbuah lebat. Tak terhitung lebam dan gores yang tertoreh pada pualam hatinya. Namun, sedikit pun ia tak menyesal pun tak menyalahkan. Luka itu, dia sendiri yang membuatnya.

Bermalam-malam ia terjaga dari tidur, harapan yang ia bunuh berubah menjadi momok yang menguntitnya. Ia melawan! Ia mengingkari! Lelaki itu menolak untuk mengeluarkan air mata, haram katanya! Butiran air mata yang seharusnya jatuh disulapnya menjadi tulisan seterang bulan purnama. Jutaan rindu yang mengendap di tubir hatinya, ia sulap menjadi puisi. Semua  bersumber pada Aubrey.

Namun, ia tidak sadar jika cintanya pada Aubrey masih tumbuh diam-diam. Ia lupa mencabut akarnya.  Dengan mengingkarinya, ia sebenarnya memupuk cinta itu, membuatnya bertunas kembali sekaligus membunuh dirinya sendiri secara perlahan. Bayangan Aubrey seperti lilitan ular sanca, tidak ada gunanya ia memberontak. Aubrey semakin kuat mencengkeram saat ia semakin melawan, bergerak berarti mati.

“Biarkan saja, Jo. Biarkan cinta itu mati dengan sendirinya. Berhentilah berjuang.” Kewarasannya hampir saja hilang ketika ia mendengar kata-kata itu. Begitulah nurani, ia menjadi juru selamat saat keadaan sedang kritis.

Jordan menggeser pintu balkon, lalu masuk ke dalam ruangan apartemenya karena awan kelabu yang menggantung hampir ambrol. Udara di dalamnya menghangat, ia melepas jaket dan melemparnya sembarangan. Ia berdiri di ujung lengan sofa, lalu membiarkan gravitasi menariknya, terempas dalam pelukan sofa beledu berwarna anggur.

Ujung pandangannya menangkap sepasang sepatu biru yang membungkus kakinya, Ia memejam, lalu saling mengaitkan kedua tumit dan mendorong sepatu itu agar terlepas. Sepatu yang didapat dari Aubrey, sekali lagi menariknya pada pusaran masa.

“Sepatu apa yang kamu mau?”

Aubrey, dengan muka semasam jeruk, bertanya dengan nada kesal. Ia capek karena sudah setengah hari menemani Jordan yang tak kunjung menemukan sepatu yang cocok. Pramuniaga yang melayaninya pun tak kalah masam. Malam ini malam minggu, ia berharap toko segera tutup–yang seharusnya limbelas menit lalu–agar ia bisa bermalam panjang bersama pacarnya. Mungkin juga, pacar pramuniaga yang  sedari tadi menunggu di atas motor juga sudah melipat wajah, mengutuk pemilik toko karena pacarnya tidak segera pulang. Kasihan pemilik toko itu, dia menjadi bahan prasangka.

Jordan meringis, mengangkat kedua bahunya tinggi.

“Kita makan saja kalau begitu, lain kali kita cari lagi.”

Beberapa bulan kemudian, tepat di hari ulang tahunnya, Jordan mendapat kiriman. Sebuah kotak dengan bungkus kuning tergeletak di depan pintu, di atasnya ada sebuah surat dengan tulisan cakar ayam.

Selamat ulang tahun, Jo. Aku tahu sepatu ini tidak akan menyelesaikan kebingunganmu, tetapi aku mencoba memilihkan untukmu. Aubrey.

Jordan mendesah, lalu bangkit dengan pikiran yang semakin kacau. Aubrey benar, selama ini ia tidak pernah menentukan pilihan. Seperti di toko sepatu saat itu, Jordan membiarkan dirinya bermain-main dengan begitu banyak pilihan hingga … waktunya habis! Sepatu itu adalah pembuka tutup botol hatinya. Sindiran bagi Jordan agar ia tak bermain-main lagi dengan sebuah keputusan.

Ia berjalan tergesa menuruni tangga, kakinya berhenti di sebuah lemari kayu tempat ia menyimpan kenangan bersama Aubrey. Ia membuka lacinya perlahan.

Patung naga, buku penyihir, album Adelle, raket tennis …. Ia memandang satu-persatu benda itu. Masing-masing seolah punya lidah dan bibir, menceritakan penggalan-penggalan drama antara dirinya dan Aubrey.

Ia menarik sebuah kardus yang terbungkus rapi dengan pita kuning dengan kartu ucapan ulang tahun. Ia memungut kartu ucapan itu dan membukanya. Kartu itu masih kosong, ia belum sempat menulis satu kata pun.

Jordan merobek bungkusnya, sebuah stetoskop dalam plastik bening kini ada di tangannya. Lima bulan yang lalu ia pernah nekat untuk mengirimkannya ke alamat Aubrey, tepat di hari ulang tahun orang yang dicintainya itu. Jordan ingin kekasihnya itu memiliki stetoskop baru di tempat praktiknya. Namun, sekali lagi batal karena Jordan kembali bermain-main dengan pilihannya; mengirimkannya atau tidak.

Mengirimkan, berarti ia merobek segel pertahanannya dan kembali berkubang dengan hubungan yang tidak pernah ada kepastian. Ia terdiam hingga waktu habis, dan kado itu pun tergeletak begitu saja di dalam laci.

Sebuah pesan singkat masuk, menggetarkan telepon genggamnya.

 

Jo, stase forensikku selesai akhir Oktober ini, jadi kita ke Jogja?

Pengirim : Arini.

 

Jordan tertegun, saat ini ada seseorang yang sedang menunggunya membuka hati, mempersilakan untuk disinggahi. Ia lalu menarik napas dalam-dalam dan mengetik pesan jawaban;

Akan kukabari lagi.

Jordan

 

Sekali lagi Jordan bermain dengan pilihan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s