What is Coming is Better than What is Gone

1a5db5092d1e187cab5877cac0b514fd.jpg

Kereta kehidupan yang saya tumpangi sudah berada di perlintasan. Sebentar lagi, dia akan melalui stasiun terakhir di jalur 2017 dan melanjutkan perjalanannya di rel 2018.

Time flies.

Saya baru tahu makna frase di atas. Beberapa tahun lalu, saya masih melihat gambar wajah unyu saya ditempel pada lembar ijazah kelulusan perguruan tinggi, di sebelahnya tercap stempel universitas tanda saya sudah tamat belajar. Akhir-akhir ini, ketika saya mematut diri di depan cermin, saya tidak lagi melihat wajah unyu, polos, dan rapi seperti dalam foto hitam putih ijazah. Ada pria berpenampilan berantakan, berjanggut, dengan bibir sedikit hitam karena nikotin, dan rambut acak-acakan—tetapi tetap keren–di balik cermin. Hey, ke mana perginya wajah unyu yang sempat terabadikan dalam pas foto ijazah itu? Saya menghela napas.

Fine, saya beranjak tua. Kereta kehidupan yang saya tumpangi sepertinya semakin cepat berjalan.

Namun, saya boleh menghibur diri, kan? Maka saya ambil pepatah: age is only a number, saya renungkan dalam-dalam. Saat makan, minum, menjelang tidur, bahkas saat boker. Sialnya, kata-kata itu kurang sakti, sama seperti kata-kata motivasi Mario Teguh yang belepotan tinja. Tidak mempan! Saya masih tetap merasa tua.

Ya sudahlah. Just embrace it.

Desember 2017. Biasanya sih, di penghujung tahun, umum jika orang-orang membuat refleksi. Merenungkan kembali apa yang sudah dicapai atas resolusi yang dibuat di tahun sebelumnya.

Itu untuk orang yang membuat resolusi.

Kalau saya? *roling eyes

Saya tipe orang yang mengalir, tidak punya resolusi khusus. Hari berganti minggu, lalu berganti bulan, dan akhirnya tahun berganti. Selama itu, saya hanya menjalani dengan sungguh-sungguh apa yang saya suka.

Jika dilihat ke belakang, dua tahun ini saya menikmati dunia kepenulisan, khususnya fiksi. Saya ingat, Desember 2015, saya mengawali debut (debut! Yaelah…) sebagai penulis fiksi. Saya mencoba ikut lomba menulis dengan tema “Dear Mama” di Storial, sebuah portal daring untuk penulis fiksi. Waktu itu saya tidak sadar, betapa babak belurnya tulisan saya. Tanpa mengetahui kaidah menulis fiksi dengan baik, dengan percaya diri saya kirim tulisan saya. Menurut saya (waktu itu) tulisan saya sudah sangat bagus (pede dan enggak tahu malu beda tipis sih.).

Dan anehnya, saya jadi finalis–atau apa ya? Saya lupa, pokoknya karya saya dibukukan oleh nulisbuku.com. Senangnya bukan main! Sebulan, dua bulan, enam bulan lamanya saya belajar menulis beberapa cerita pendek, memperbanyak bacaan yang bagus. Saya mendapat bimbingan dari dia, yang tidak usah saya sebut namanya, yang tidak bosan-bosan membaca dan membedah tulisan saya. Dari dia, saya mendapat banyak ilmu dan tahu bagaimana menulis dengan baik. Hingga pada suatu saat saya memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya karena satu dan lain hal. Di situ, saya kehilangan nakhoda dalam menulis. Namun untungnya, setahun kemudian, saya dipertemukan dengan para penulis berbakat dengan idealisme tinggi, jebolan kemudian.com (salah satu portal menulis daring yang bagus untuk referensi), lalu kami pun membentuk komunitas menulis Dimensi Kata.

Tersebutlah Dan Iswanda, Zeth, Nara, Elqi, dan Kartika Demia. Di Dimensi Kata, saya kembali ditempa habis-habisan.  Jika biasanya tulisan saya dibedah dengan cara halus dan penuh kasih sayang oleh dia yang tidak tersebut namanya, anak-anak Dimensi Kata membuat babak-belur tulisan saya dengan cara yang sadis. Benar-benar mengasah mental dan hati. Mereka seperti penjunan dan saya sebagai tanah liat. Saya dibanting, dipukul, disiram air, dihancurkan hingga lembut dan hampir membuat saya menyerah–oke, kalau yang ini berlebihan. Namun, berkat mereka, saya menjadi penulis yang jauh lebih baik dan berkembang pesat. Usaha mereka tidak sia-sia. Tanah liat yang waktu itu merasa sudah bagus diubah menjadi periuk yang berguna dan lebih indah. Saya menemukan gaya menulis saya di Dimensi Kata dan saya pun bisa menulis dengan lebih, lebih, lebih baik lagi, meskipun belum sempurna.

I am just a lucky bastard, kalau saya boleh mengibaratkan diri saya sendiri.

Bagaimana tidak? Kualitas tulisan saya jauh jika dibandingkan dengan penulis-penulis yang sudah tenar, yang sudah menelurkan banyak buku dan mempunyai fan base yang cukup signifikan. Namun, dalam kurun waktu dua tahun, sebagai penulis mula, saya sudah punya nyali untuk mengikutkan tulisan saya dalam berbagai kompetisi. Bahkan, salah satu novel saya yang berjudul “Kembang Kawisari” dipinang oleh dua penerbit major dan dua penerbit indie dalam waktu bersamaan. Mungkin tahun 2018, novel “Kembang Kawisari” bisa nongol di Gramedia dan toko buku lainnya di seluruh Indonesia. Mohon doa restunya.

Dalam kurun waktu yang sama, bersama Shindy Farahdiba dan teman-teman lain, kami menerbitkan buku “Si Pagar dan Cerita Lainnya”. Beberapa saat kemudian, di ulang tahun pertama Dimensi Kata, kami menerbitkan buku “Pencuri Mimpi” di bawah panji Dimensi Kata. Yang katanya, sih, katanya—baru kemarin saya tahu—cerita saya yang berjudul “Karno dan Benderanya” paling disukai oleh moderator kemudian.com. Aha!

Dua cerita saya pun menjadi pemenang dalam kontes menulis yang diadakan oleh Storial. Tulisan saya yang berjudul “Kisah Genduk dan Gandes” menjadi pemenang dalam lomba menulis cerita anak, sedangkan tulisan saya yang berjudul “Lukisan Yang Tak Pernah Selesai” menjadi juara kedua dalam lomba menulis Storial dan Musikimia. Selain itu, novel saya yang berjudul “Melodi Musim Semi” saat ini juga sedang nangkring di webnovel Indonesia.

Di penghujung tahun 2017, saya membuat sebuah novel lagi untuk dilombakan dalam gelaran Bulan Nulis Novel Storial. Ini adalah pagelaran menulis tergila yang pernah saya ikuti. Bayangkan saja, dalam waktu satu bulan, novel harus diselesaikan dengan jumlah kata minimal 50.000. Jujur, mengikuti event ini sangat berat, tetapi saya suka tantangannya. Menjelang lima hari menuju dead line, akhirnya saya berhasil menaklukkan tantangan itu dengan jumlah kata sekitar 52.000. What an achievement!

Saat ini pun, saya sedang menunggu peluncuran buku antologi cerpen “30 Things I Want To Do”, karya kolaborasi saya bersama 19 penulis lain yang dilirik oleh penerbit major. Saya tidak menyangka, jika buah cinta saya akan lahir menjadi buku. Oh, dear! Seandainya saya bisa berbagi kebahagian bersama dia. 🙂

Waktu saya menulis tulisan ini, di sebelah saya ada kalender duduk yang menyisakan satu lembar bulan, setelah itu si kalender akan masuk ke tong sampah untuk diganti dengan kalender baru. Saya renungkan lagi, betapa yang punya hidup sudah membuat pemandangan di dalam gerbong kereta kehidupan yang sedang saya tumpangi sangat berwarna. Di dalamnya saya bertemu dengan banyak manusia baru; penulis, editor, haters (ya! saya punya haters sebagaimana selebritas pada umumnya #plak!). Selain itu, juga kisah cinta yang lumayan drama, bittersweet pertemanan, kebodohan yang membawa saya dalam masalah, kehilangan, dan banyak lagi.

Sekali lagi saya bingung, resolusi apa yang akan saya susun untuk tahun 2018? Saya tertawa dalam hati. Ah, biarlah yang punya resolusi tetap beresolusi, sedangkan saya? Saya akan tetap menjalani apa yang saya suka dengan sungguh-sungguh sambil berharap yang terbaik akan terjadi. Tentu saja, dengan mengucap syukur pada Gusti Yesus setiap hari.

I just believe, what is coming is better than what is gone.

Jadi, apa resolusi kalian di tahun 2018 kalau boleh tahu?

Selamat Natal dan Tahun Baru!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s