Sang Maestro

 

DRzp7TcUEAABPec

“Novel itu kan sudah saya tulis lama sekali, tetapi kenapa masih banyak yang minat? Menurutmu kenapa Jon? Ya sudah kamu kupanggil Jon saja,” kata Pak Tohari di beranda rumahnya begitu selesai menandatangani novel Ronggeng Dukuh Paruk yang saya bawa dari Surabaya.

Dengan gelagapan saya menjawab sekenanya, “Ya mungkin karena dalam novel itu ada prosesi bukak klambu, Pak.”

Tentu saja, jawaban konyol saya membuat beliau terpingkal-pingkal. Lalu sejurus kemudian beliau berkata setengah menagih, “Mana tulisan kalian? Mana bukunya? Dibawain tidak?”

Kami pun menyerahkan antologi cerpen Dimensi Kata  “Pencuri Mimpi” yang kami rilis beberapa waktu yang lalu, tentu saja dengan tanda tangan dari saya dan Tutut sebagai perwakilan Dimensi Kata. (Zeth, Nara, Thiya, Elqi, Mak Dem, Dan, silakan iri!)

Saya masih belum percaya jika siang itu, 24 Desember 2017, saya bisa bertemu dengan sang maestro sastra, Ahmad Tohari. Lelaki berpeci itu sangat bersahaja, menyambut saya dan dua orang teman (Tutut dan Dilla) dengan hangat. Rasa lelah perjalanan kereta tanpa AC dari Surabaya ke Purwokerto menjadi hilang seketika. Begitu juga punggung tangan yang terbakar matahari karena perjalanan motor 1,5 jam dari Purwokerto ke Jatiasih pun tidak terasa. Rumah Pak Tohari begitu adem, banyak pepohonan rindang di halaman depan rumah bercat putih tersebut. Di samping rumah, ada sebuah Taman Kanak Kanak dan perpustakaan, terpisah oleh jalan kecil menuju rumah belakang, tempat salah satu anak beliau tinggal.

Setelah bertukar buku, Pak Tohari meminta izin untuk menjalankan sholat Dhuhur. Bu Tohari keluar dan menemani kami dengan membawa teh hangat dan makanan kecil. Dari istri Pak Tohari, kami mengetahui kesibukan rumahnya. Ternyata, selama ini banyak sekali tamu-tamu yang datang untuk bertemu dengan beliau. Sebelum kedatangan kami, ada rombongan pelajar dari Jerman yang datang dan ingin bertemu Pak Tohari.

Wajah cerah Pak Tohari kembali menemuia kami. Tak disangka-sangka, Pak Tohari mengajak kami makan siang. Astaga, sungguh saya merasa mendapat kehormatan yang luar biasa, dijamu dan duduk semeja dengan lelaki yang tulisannya menginspirasi saya.

Di meja makan, kami bertukar cerita.

“Boleh saja kalian menulis apa yang ada dalam kepala kalian, tentang imajinasi-imajinasi. Tapi kalau saya boleh titip, tulislah kritik sosial, sebab jarang sekali saya temui anak muda yang mau mengkritik melalui fiksi. Kebanyakan mereka larinya ke genre a,b,c,d. Siapa lagi kalau bukan kalian? Ayo Jon, kamu nulis kritik sosial,” kata Pak Tohari.

Lah dalah, kok saya lagi yang ditunjuk? Lalu saya ingat, saya pernah menulis tiga cerpen yang berisikan kritik sosial, salah satunya ada dalam Pencuri Mimpi. Saya pun menceritakan kepada beliau dengan norak semangat.

“Kamu pernah baca cerpen saya yang berjudul Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” tanya Pak Tohari. “Saya menulis itu sewaktu saya marah dengan *menyebut nama oknum dewan yang terhormat. Sebenarnya, idenya sederhana. Ada keluarga pemulung yang tinggal di Jakarta, si anak kebelet pipis. Mau kencing di tempat tidur, tidak boleh karena kena punggung ibunya. Lalu si anak pindah ke pojokan, tidak boleh juga karena kena buntelan ibunya.”

“Lalu, si anak kencing di mana, Pak?” tanya Tutut.

“Ya, saya bilang (melalui karakter ibu) kamu boleh kencing di mana saja di Jakarta. Lalu saya sebut daerah-daerah tempat cecunguk-cecunguk Jakarta tinggal. Dan rupanya, si ilustrator itu menangkap apa yang saya maksud. Maka jadilah sampul kumpulan cerpen seperti yang kalian lihat sekarang (gambar langit berbentuk pantat dengan air menetesi landmark Jakarta).”

Dalam hati saya bilang, boleh juga nih ditiru!

Saya pun menceritakan kegiatan saya. Ya, tentu saja draft novel terbaru saya dan komunitas Dimensi Kata.

“Di dalam Dimensi Kata, setiap Senin kami mengulas cerpen. Lalu, sebulan sekali, tiap anggotanya ditantang untuk menulis dengan topik tertentu. Kami pernah mengulas cerpen Bapak yang judulnya Tawa Gadis Padang Sampah.”

Pak Tohari tampaknya agak kaget mendengar ceritanya direview oleh kumpulan penulis seperti kami. Katanya kemudian, “Boleh-boleh … kalian kirim ulasan kalian kemari, nanti saya masukkan dalam buku saya yang mau terbit.” Sesaat beliau terdiam dan tertawa. “Lah, naskahnya sudah masuk percetakan. Bagaimana coba? Telat kamu ke sini!”

Entah sungguhan atau enggak, tetapi permintaan Pak Tohari membuat dada saya membusung. Seorang Ahmad Tohari, mau membaca ulasan dari penulis-penulis muda yang ada dalam Dimensi Kata. That’s something!

Kami pun berpindah dari ruang makan ke beranda depan.

“Pak, ada teman saya yang bilang, sesama pengagum Bapak, namanya Aditia Yudis. Baca tulisannya Ahmad Tohari itu bikin adem. Bagaimana bisa ya, Pak? Bagaimana cara bikin tulisan adem seperti itu?”

“Menulis itu harus itu harus baik, benar, dan anggun. Tulisan itu harus logis, kalau logis pasti benar. Menulis baik dan benar itu mudah. Kalian-kalian ini pasti sudah menulis baik dan benar? Nah, anggun ini yang agak susah. Kalian harus berlatih. Tidak mudah memang membawa tulisan itu bisa sampai ke pembaca dalam bentuk lain, tapi kalian harus terus mengasah diri, membuat tulisan kalian menjadi anggun.”

Saya sebagai penulis muda hanya manggut-manggut. Betapa perjalanan saya sebagai seorang penulis masih harus diasah dan terus diasah. Saya mendapati diri saya sangat kerdil di hadapan penulis besar ini.

“Pak, apakah Dukuh Paruk itu benar-benar ada?” tanya saya kemudian.

“Tidak, itu cuma imajinasi saya. Kamu tahu apa artinya paruk?”

Saya menggeleng.

“Paruk itu tempayan, gerabah, orang sini menyebutnya Paruk,” jelasnya.

“Seperti layah, periuk dan alat-alat dapur dari tanah liat?”

“Betul!” jawabnya, “Tapi pernah ada yang kemari dan mengaku dari Dukuh Paruk. Dia menunjukkan KTP dan memang ada sebuah dukuh yang namanya Paruk.”

“Di mana, Pak?”

“Di dekat-dekat sini. Saya juga heran, ternyata dukuh itu ada dan bukan dalam pikiran saya saja.”

“Lalu, tentang Ronggeng Dukuh Paruk yang diangkat ke layar lebar. Itu bagaimana prosesnya, Pak?”

“Kamu udah nonton belum, Jon?”

Saya kembali meringis, tidak mengiyakan atau membantah–padahal saya belum nonton hingga sekarang. Alasannya? Karena takut kecewa tidak sebagus novel yang saya baca.

“Banyak penulis yang marah-marah karena karena film yang dibuat tidak sama persis dengan novelnya. Apalagi penonton yang sudah membaca novelnya. Itu tidak perlu!” tukasnya. “Film dan novel itu berbeda. Saya penulis, dia sutradara. Media kami pun berbeda, ya salah kalau menuntut kesamaan dari film dan novel. Itu beda! Sama sekali beda.”

“Terus, Bapak enggak apa-apa?”

“Ya enggak apa-apa, kamu pikir saya marah-marah? Tidak, saya bebaskan orang film berkarya, karena saya sadar film dan novel berbeda.”

Penjelasan Pak Tohari membuat saya seperti mengalami dejavu. Beberapa hari sebelumnya, saya membuat sebuah meme bertuliskan don’t judge the book by its movie. Dan di hadapan Pak Tohari saya diingatkan kembali, dua media itu berbeda meskipun komoditinya sama. Tidak layak untuk marah-marah pada film jelek yang diangkat dari sebuah novel bagus.

Sebenarnya, kami ingin terus ngobrol, apalagi Pak Tohari menyinggung dunia pendidikan yang menyepelekan bahasa ibu. Saya yakin, obrolan kami akan menarik, tetapi  kami sadar, Pak Tohari butuh istirahat.

Waktu dua jam di sana serasa hanya lima menit dan kami pun mohon diri.

Dalam perjalanan pulang saya masih terngiang dengan pertemuan istimewa tadi. Rasanya, saya  seperti orang paling norak sedunia. Mulut saya tidak pernah mengatup karena kagum. Cerita beliau saya dengar dengan saksama, walaupun kadang lewat (karena saya masih sangat excited). Untung saja rumah Pak Tohari bersih dan tidak ada lalat, kalau iya, bisa-bisa mulut saya kemasukan seekor atau dua ekor karena selalu mangap.

Saya berdoa, semoga Pak Tohari selalu diberi kesehatan, panjang umur, agar bisa menulis lagi novel yang keren.

FYI, Tulisan ini saya buat dengan gaya komunikasi yang lebih kurang sama dengan saat saya berbincang dengan Ahmad Tohari. Terasa tidak kaku? Tentu saja, karena sejak awal Ahmad Tohari menempatkan diri sebagai seorang yang hangat dan apa adanya, tidak memasang dinding dan protokol yang membuat saya sungkan atau tidak menjadi diri saya sendiri.

 

Advertisements

2 thoughts on “Sang Maestro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s