Kelir Slindet – Novel Review

kelirslindet

Saya lihat buku ini di dalam ralam rak bacaan salah satu teman di goodread.com.
Menarik, dari segi judul.
Entah apa arti dari frasa tersebut, sampai sekarang saya masih belum tahu. Saya hanya tahu arti kata ‘kelir”. Yang pertama, berarti latar putih dalam pagelaran wayang kulit. Arti kedua adalah warna. Sedangkan arti kata “slindet” sendiri saya tidak tahu.

Novel ini mengambil latar tanah Indramayu. Terus terang saya tidak tahu bagaimana rupa daerah tersebut, tetapi dari pendeskripsian latar yang baik, saya bisa membayangkannya. Yang menarik dari novel ini adalah pemilihan diksi. Kata-kata daerah yang dipakai asing di telinga, tetapi mengasyikkan untuk dibaca. Telembuk, adalah kata yang terngiang di telinga saya sepanjang saya membaca. Artinya adalah pelacur.

Penulis rupanya mengerti, bagaimana mengikat pembaca pada ceritanya. Seks, tidak yang lain. Entah mengapa, jika berhubungan dengan selangkangan, manusia seperti terpaku di tempat, enggan ke mana-mana, dan penulis memanfaatkan naluri alamiah manusia ini dengan baik dalam novelnya. Novel ini kental dengan pertunjukan tarling, semacam dangdut pantura dengan goyang erotis yang khas (menyerempet ke hal-hal yang berbau seks lagi). Bahkan, pada akhirnya sang tokoh utama pun berakhir tak jauh dari situ; tarling erotis.

Dari awal, cerita sudah dibuka dengan kemunculan gadis ayu berusia empat belas tahun bernama Safitri, ibunya seorang telembuk dan ayahnya doyan menelembuk. Kisah cintanya dengan Mukimin, anak Kaji Nasir yang di masa lalu mempunyai hubungan rahasia dengan Saritem, ibu Safitri, diangkat menjadi kisah yang baik. Walaupun pada akhirnya menyisakan misteri yang … membuat saya geregetan.

Safitri menjadi senter cerita. Dengan kisahnya, penulis berusaha mengangkat cerminan masyarakat pinggiran yang punya cita-cita sederhana; mengentas kemiskinan dengan cara apa pun. Saritem yang menginginkan anaknya menjadi menantu orang kaya, para perempuan Cikedung menjadi TKI (sedangkan suami mereka ongkang-ongkang di rumah bermain judi). Juga, para haji yang bertujuan mencari kekayaan–disebut sebagai Kaji Nyupang–ada pula dalam cerita ini.

Sebagai peminat novel berkonflik masyarakat pinggiran, saya menyukai setiap detil yang disampaikan penulis. Cara menyampaikan latar yang hidup, penokohan, dan warna tulisan, semuanya saya suka. Meskipun terkesan agak menjemukan, tetapi saya tetap menikmatinya. Saya mengakalinya dengan membacanya secara bertahap, tidak dalam sekali duduk.

Yang tidak saya sukai dalam novel ini adalah banyaknya karakter tidak penting yang masuk dalam cerita. Andai saja si penulis hanya memfokuskan cerita pada beberapa tokoh, cerita ini akan lebih menarik.

Sekarang tentang ending cerita. Jujur saja novel ini tidak memberikan akhir cerita yang berkesan. Di dalam sebuah diskusi anggota Dimensi Kata, kami pernah membicarakan topik ini, dan salah satu yang masuk dalam otak saya adalah; ending suatu cerita yang baik akan menimbulkan kesan yang dalam di pikiran pembacanya. Dalam novel ini saya tidak mendapakan kesan yang seperti itu.

Bukan lantaran novel ini diakhir dengan misterius, menggantung. Itu sah-sah saja, tetapi menurut saya, untuk cerita yang seperti ini seharusnya penulis memberi ending yang jelas, tidak membiarkan pembaca menerka-nerka seperti layaknya cerita bergenre misteri. Saya tidak tahu, mungkin ada alasan lain si penulis mengakhiri ceritanya dengan cara seperti ini, tetapi sebagai pembaca saya kurang suka. Ending ini tidak cocok digunakan dalam cerita Kelir Slindet.

Namun demikian, saya memberi bintang 4/5 dalam review saya di goodread.com

Advertisements