Ludruk Dan Jasanya Terhadap Novel Bakiak Maryam

bakiak.jpg

Saya baru saja menyelesaikan novel terbaru yang berjudul “Bakiak Maryam” di platform kepenulisan Storial.co.

Sebenarnya, draft itu sudah lama ada di otak. Hanya saja baru bisa dieksekusi setelah tim storial menawari kerjasama untuk program buku premium (berbayar). Dalam waktu dua bulan, sayadan lima belas penulis terpilih harus menyelesaikan novel dengan jumlah minimal kata 30.000 agar saat peluncuran program Premium Chapter, sudah ada novel yang bisa ditayangkan.

Saya menyadari. Saya adalah tipe penulis yang suka tantangan. Seperti bulan nulis November tahun lalu, saya yakin, Bakiak Maryam tidak akan selesai tanpa deadline dan rasa tertantang untuk menyelesaikannya tepat waktu.  dari Storial. Sebelum April beakhir, saya sudah menamatkannya. #prokprokformyself.

Saya mau menceritakan latar belakang saya menulis Bakiak Maryam, boleh kan?

Seperti yang selalu saya bilang, saya dibesarkan dalam keluarga penggemar seni. Ayah saya sering mengajak saya dan kedua saudara saya pergi menonton pertunjukan kesenian daerah. Tak terhitung berapa kali saya lelap dalam gendongan ayah saya saat pertunjukan usai. Wayang orang, ketoprak, wayang kulit,  dan sendratari, semuanya kami tonton. Saat di rumah, stasiun TV favorit keluarga kami adalah TVRI. Selain Flora dan Fauna, acara yang kami nanti adalah wayang orang.

Saat saya masuk dunia kerja, saya pulang dan berangkat kerja menggunakan bus. Bus yang saya tumpangi selalu lewat depan gedung pentas ludruk Irama Budaya. Hanya sebuah bangunan semi permanen, terletak di stren kali dan daerah yang lumayan padat. Konon, ludruk ini satu-satunya yang ada di Surabaya yang masih eksis dan rutin menggelar pertunjukan di gedungnya sendiri. Saya penasaran banget pengen duduk nonton di dalamnya. Grup ludurk ini tidak menjual karcis, tetapi sepenuhnya bergantung pada partisipasi penonton. Di akhir pertunjukan, seseorang akan mengedarkan sebuah kotak. Penonton akan memasukkan uang ke dalam kotak tersebut  seikhlasnya, tanpa patokan nominal.

Saya baru kesampaian menonton ludruk saat gedung pertunjukan itu sudah pindah tempat. Rupanya, pemerintah tergerak untuk menyelamatkan grup ludruk asli Surabaya dengan memindahkannya ke gedung pertunjukan yang lebih layak. Saya mengajak teman saya untuk nonton dan begitu takjub saat mengintip aktifitas di belakang panggung. Puluhan pemain sedang merias diri. Ada beberapa lelaki dan peremuan. Mereka saling membantu, memasang bulu mata, atau sekadar memegangi kain panjang yang hendak dililitkan ke badan. Mata saya tertuju kepada seorang lelaki dengan riasan wajah lengkap dan berkonde. Saya tahu dia seorang lelaki dari perawakannya. Tidak mungkin perempuan punya bahu lebar dan lengan yang kekar–kecuali binaragawati. Usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Ia terlihat lincah dan sedikit genit. Sepertinya, ia adalah pemimpin grup ludruk tersebut. Lelaki itu yang menginspirasi saya untuk merombak draft novel, menghadirkan sosok Maryam sebagai tokoh utama dalam cerita saya.

Pentas berlangsung dengan meriah, menampilkan lakon Sarip Tambak Oso, seorang pejuang dari Jawa Timur. Kisah yang diangkat dalam cerita ludruk memang tidak jauh-jauh dari tema perjuangan. Menurut sejarah, konon kesenian ini dipakai sebagai sarana perjuangan; menyindir penjajah dengan dagelan atau mengobarkan semangat anti penjajahan. Tari Remo, sebagai pembuka pertunjukan digunakan untuk menyindir pribumi (istilah peninggalan Belanda untuk warga lokal) yang tidak mau berjuang dan mendukung Belanda. Tarian ini asalnya ditarikan oleh lelaki dengan riasan perempuan, banci–sebuah sindiran bagi jiwa-jiwa kerdil pengkhianat perjuangan. Namun, akhir-akhir ini sering diganti oleh pemari perempuan atau karawitan.

Yang menarik dari dulu hingga sekarang adalah interaksi antara pemain dan penonton pada sesi tertentu. Dagelan bebas yang masih dalam koridor cerita, mengundang penonton untuk berkelakar atau menunjukkan apresiasi dengan melempar rokok ke panggung. Di akhir pertunjukan, penonton kembali berduyun-duyun menuju kotak yang ada di depan panggung, memberi sumbangan seikhlasnya.

Ludruk, seperti kesenian tradisional daerah lainnya, sudah tergusur dengan teknologi yang gencar menyiarkan kebudayaan luar. Kalau dahulu, gelar sebagai biang kerok penggerus kebudayaan Indonesia adalah budaya barat. Namun, sekarang gelar itu sudah berpindah ke Asia; India, Turki, Cina, Korea, dan Jepang.

Pernah saya mendengar kalimat; generasi muda seharusnya menjaga kebudayaan negeri sendiri. Saya melihat rata-rata pemain ludruk sudah berumur. Jika mereka mangkat, apakah ada generasi lanjutan yang mau menjadi pemain ludruk? Saya tanya ke diri saya sendiri, apa kamu mau jadi pemain ludruk? Saya tertawa keras. Jelas enggak lah!

Menulis adalah cara saya melestarikan kebudayaan. Dari tiga novel yang saya tulis, tiga-tiganya ada unsur kebudayaan lokal yang saya angkat. Manten Agung, di Kembang Kawisari. Reog dan budayanya, dalam Sadirah. Sekarang, kesenian ludruk dalam Bakiak Maryam. Melalui tulisan ini saya berharap. semoga kita mempunyai cara masing-masing untuk melestarikan budaya luhur Indonesia.

 

 

 

 

Advertisements