Pada Sebuah Koma

img-20150303-wa0005

Aku tidak pernah merencanakan untuk menyukaimu, atau jatuh cinta padamu.

Aku juga tidak pernah berangan-angan untuk berjumpa denganmu.

Bagiku, kamu hanyalah teman menulis dan membaca.

Sobat untuk bertukar indra, seperti guru dan muridnya.

 

Tapi siapa sangka jika sebuah koma bisa merajut cerita.

 

Aku mencintaimu, kataku pada suatu hari.

Kamu tertawa. Aku tidak ingat betul apa jawabanmu kala itu.

Namun, aku melihat ada tautan hati.

Betapa girang saat kau bilang, I love you too.

 

Kisah pun berlanjut setelah koma.

 

Pertemuan singkat itu menjadi mejadi selaksa aksara.

Setiap malam, ada dalang yang melakonkannya sebelum aku menutup mata.

Aku ingat bagaimana kamu membetulkan letak kacamatamu.

Hey, tahu kah kamu? Saat itu aku ingin sekali memeluk punggungmu.

 

Namun, kamu meninggalkanku dengan sebuah koma.

 

Aku tidak tahu apakah kisahmu dan kisahku akan saling menggapai.

Katamu kamu tidak mau berandai-andai.

Kataku, aku mau hidup dalam mimpi  walau hanya semalam.

Dan, kamu ingin memegang yang sekarang dalam genggam.

 

Tapi sayangnya, bukan aku yang ada dalam telapak tanganmu.

 

Semalam, dalang itu datang kembali dan bercerita.

Mengingatkanku pada sebuah kisah yang pernah ada.

Fana atau nyata, aku tetap percaya. 

Pada sebuah koma. 

Advertisements