Virus Momen Kreatif Status : Activated

Sudah empat tahun saya menekuni hobi baru, menulis fiksi. Selama yang saya ingat,  saya sudah menulis lima novel: Kembang Kawisari, Melodi Musim Semi, Sadirah, Bakiak Maryam, dan Stambul Kembang Ciliwung.

Dahulu, saat pertama kali menulis, saya punya impian. Seperti penulis-penulis kebanyakan, saya ingin karya saya dicetak dalam bentuk fisik dan dipajang di toko buku terkenal, mengisi rak best seller di pintu masuk. Naif ya?

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Salah satu penerbit ‘meminang’ karya saya untuk dicetak. Saya pun berbunga-bunga. Namun, di tengah jalan, proses itu mandeg. Kembang Kawisari yang dipinang dihentikan prosesnya tanpa alasan jelas, padahal sudah masuk editing tahap akhir dengan editor yang ditunjuk. Sedih hati saya, Namun, tak lama kemudian, ada penerbit lain yang meminang, kali ini sudah teken kontrak. Kerjasama dengan penerbit ini pun harus kandas, karena si penerbit punya kasus plagiasi pada salah satu buku yang diterbitkannya, hingga beberapa toko buku memutus kerjasama dengan penerbit ini. Saya pun ditawari dua pilihan; melanjutkan proses dan karya saya tidak masuk toko buku, atau menarik naskah saya dan memutus perjanjian. Akhirnya, saya menuruti nasihat teman-teman sesama penulis agar menarik naskah saya. Kecewa? Tentu saja.

Saya enggak tahu kalau Tuhan punya rencana yang lebih indah. Beberapa waktu kemudian, novel saya yang berjudul Melodi Musim Semi kembali dipinang oleh penerbit. Bukan dalam bentuk buku fisik, melainkan dalam ptaform daring Webnovel/ Webcomics. Karya saya pun nangkring di sana hingga kontrak berakhir 2022. Lama ya? Iya, tetapi kalau dihitung-hitung royalti yang saya terima lebih besar daripada novel saya dicetak dalam bentuk buku, yang hanya 10% dari harga buku dan dikurang pajak 10%. Semisal, harga buku cetak Rp. 65.000, maka royalti yang saya dapat dari 1 buku adalah Rp. 5.850–dibayar per enam bulan. Untuk penulis yang belum punya nama, sebulan laku 100 eksemplar itu sudah sangat bagus. Namun, saya main logika aja, berandai-andai buku saya laku  50 eksemplar per bulan, maka royalti yang saya terima selama enam bulan adalah Rp. 1.755.000 dan menjadi 7.020.000 selama dua tahun (dengan mengacu pada rata-rata umum kontrak penerbit).

Ada yang mengubah pandangan naif saya (bahwa menjadi penulis harus punya buku cetak) ketika saya memenangkan lomba menulis novel Storial 2017. Novel saya yang berjudul “Sadirah” keluar sebagai juara kategori unforgetable character. Dalam proses pembuatannya, saya benar-benar mendapat kenikmatan sebagai penulis. Dalam waktu yang hanya sebulan, saya harus menyelesaikan kisah saya. Sangat repot membagi waktu, apalagi sebagai pekerja macam saya. Setiap sore saya harus menyiasati agar saya bisa menulis; mencari ide, riset, memikirkan kisah di bab selanjutnya, atau pun memecahkan kebuntuan/ writing blocks. Namun, pada akhirnya kerepotan saya dibayar dengan interaksi dengan pembaca setiap kali saya posting bab baru. Komentar-komentar mereka adalah bahan bakar, petunjuk jika banyak yang menyukai tulisan saya sekligus bahan refleksi agar karya saya lebih baik di bab berikutnya.

Apalagi, setelah saya membaca buku karya Ayu Utami berjudul “Menulis dan Berpikir Kreatif Cara Spiritulisme Kritis” saya disadarkan bahwa menulis bukan melulu menghasilkan karya yang laku di pasaran, tetapi bagaimana karya kita menciptakan momen kreatif pada pembaca; bukan sekadar menikmati, tetapi mengajak pembaca berpikir, dan bilang “OH” aku mengerti, kemudian menjadi inspirasi–berbuat berdasarkan momen kreatif yang tercipta dari karya saya. Dan ini saya dapatkan dari komen-komen pembaca buku daring.  Salah satu yang saya ingat, ada pembaca yang berkomentar, “Kak, saya kok pengan jadi penulis setelah baca Sadirah.” Nah, itu yang saya maksud, saya menginspirasi orang untuk menjadi penulis melalui karya saya–bukan dengan iming-iming materi, tetapi virus momen kreatif yang saya lakukan saat berkarya sudah menjangkitinya.

Selama saya menulis, saya terapkan prinsip tersebut. Saya belajar banyak dan memperbaiki diri bersama pembaca-pembaca karya saya, rupanya ini yang direncanakan Tuhan. Saya diberi talenta menulis  untuk menggugah pembaca karya saya. Tuhan berpesan, kejarlah kesungguhan jika melakukan sesuatu. Dan terbukti, semua indah pada waktunya. Meskipun karya saya tidak bisa disandingkan dengan karya penulis popular dalam hal teknis, bermacam lomba sudah saya menangkan. Semua itu saya anggap sebagai buah dari kesungguhan saya dalam berkarya, bukan sebuah tujuan.

Semoga kita semua bisa terus berkarya. Amin!

PS; kalau kamu baca ini, saya masih nunggu hadiah karena berhasil menyelesaikan Stambul Kembang Ciliwung yang mandeg setelah 30.000 kata. An old book, the one that you have read–ingat ya, saya minta ini.

Advertisements

kerinduan

Sudah setahun ini saya tidak ke mana-mana, dalam artian bepergian ke tempat terpencil yang kurang popular di sudut Indonesia. Dulu, dulu sekali sebelum negara api menyerang, saya punya daftar A-Z tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Semua tempat itu ada di Indonesia dan tidak ada satu pun tempat di luar negeri. Mungkin terdengar aneh kenapa saya tidak menyebut satu saja tempat yang ingin saya kunjungi di luar negeri. Bukannya tidak ingin, tapi saya terikat ikrar yang pernah saya ucapkan dahulu; saya tidak akan ke luar negeri dengan biaya sendiri sebelum saya tuntas menapakkan kaki di sudut-sudut Indonesia. 

Secara tidak sengaja, sewaktu saya mencari sebuah artikel untuk bahan menulis fiksi, saya temukan sebuah gambar yang tidak asing. Sebuah pemandangan dengan latar belakang gunung dan lembah asri. Saya kliklah gambar itu, dan benar, itu adalah milik teman ngeblog saya bertahun-tahun yang lalu. Saya pun bernostalgia, berseluncur pada halaman demi halaman yang pernah ditulisnya. Postingan terakhir diunggah pada Desember 2017! Wow, seperti saya, dia pun tampaknya sudah tidak terlalu sering bepergian. Saya tidak tahu kenapa, tapi jelas prioritas travelingnya sudah bergeser.

Kami dulu sering ngobrol hal-hal yang ajaib; pohon berdaun ungu, lumba-lumba albinno, matahari yang terbit dan tenggelam dalam hitungan menit, kupu-kupu raksasa, dan masih banyak lagi. Dulu kami suka berdiskusi di mana bisa menemukan hal-hal ajaib tersebut karena pada dasarnya apa yang kami sebutkan itu nyata, benar-benar ada dan bisa ditemui di bumi. Sekarang saya pun masih sering membicarakan hal-hal ajaib itu, tetapi bukan fakta melainkan sekadar kembangan aksara dalam novel saya. Sempat terbersit, akhir tahun ini saya akan melarikan diri ke sebuah tempat. Naik kereta kelas kambing, mencari tumpangan truk, atau menginap di penginapan yang beraroma kotoran kecoak. Mungkin ke rumah si pohon berdaun ungu, menghampiri pohon tersebut, mencium wanginya, lalu memandanginya hingga bosan. Atau mungkin bersampan di laut tempat lumba-lumba albino berada dan mendengar pesan Neptunus untuk saya darinya.

Beautiful_Sunset_by_BradyV

Entrok – Review Singkat Novel

7876993._UY630_SR1200,630_

Sewaktu membaca judulnya, saya sedikit bingung. Unik, tetapi saya tidak tahu artinya. Dari sampul buku yang bergambar punggung perempuan dengan kutang yang sedang dilepas, saya berpikir, apa mungkin entork adalah kutang? Namun, selama saya di Jawa, saya tidak pernah mendengar kata itu disebut sebagai alat penyangga payudara. Dugaan saya ternyata dibenarkan di babak awal cerita, saat Marni kecil menginginkan barang berbentuk segitiga penopang dada milik Tinah, sepupunya. Ya, entrok adalah kutang.

Sepanjang saya membaca cerita ini, kata entrok hanya disebut di awal cerita dan menjelang akhir. Tidak ada bagian lain dalam cerita yang menyentuh-nyentuh entrok, bahkan, cerita ini jauh dari seputar kutang. Ah, tentu saja. Penulis ini cerdas, kata entrok dipilih menjadi judul ternyata sebagai perlambang. Seperti tangguhnya kutang yang bisa menahan beban dua payudara wanita, begitulah kekuatan seorang perempuan dilukiskan dalam menanggung beban hidup.

Tokoh utama dari novel ini adalah Marni, perempuan buta huruf yang sepanjang hidupnya dirundung duka dan tekanan. Berangkat dari kemelaratan dan kesadarannya memperbaiki hidup, Marni kere berubah menjadi juragan. Usaha kreditan yang digelutinya membuat orang cemburu. Di sini, penulis membenturkan dua persepsi dengan manis. Persepsi Marni yang lugu, pekerja keras, hitam putih, versus pemikiran religius penduduk Sringet yang menganggap usaha kredit Marni disamakan dengan lintah darat yang mencekik dan menyengsarakan. 

Penulis juga menggambarkan keadaan kala itu dengan nyata. Sebagian besar novel ini menelanjangi kebusukan tentara pada masa orba. Dari biografinya, saya tahu si penulis setidaknya pernah mencicipi masa orba. Bisa jadi, penulis mengalami secara langsung kelakuan tentara zaman orba hingga ia bisa menulis kelakuan tentara dengan sedetil itu; korup, semena-mena, menindas dengan kekerasan. Yang paling menarik, penulis bisa memasukkan kejadian-kejadian sejarah secara natural, tidak vulgar. Masih ingat tragedi PETRUS? Tidak ada kata Petrus di dalam novel ini, tetapi pembaca pasti langsung tahu jika anak tetangga Marni yang mati mendadak adalah korban petrus. 

Entrok merupakan novel feminis yang realistis. Ketangguhan perempuan disuguhkan begitu apik melalui Marni. Dalam sebuah keluarga, perempuan adalah otak, tulang punggung, tameng, bahu, juga kaki dan tangan. Marni yang memutar otak mencari rezeki, Marni pula yang bekerja keras keluyuran di pasar. Saat orang-orang menggunjingnya sebagai penyembah berhala, emaknya tuyul, menumbalkan suami dan sopirnya untuk pesugihan, bahkan dimusuhi anaknya sendiri karena beda keyakinan, Marni tetap tangguh dan putih. Bahkan, dalam tindasan tentara korup, Marni tetap unggul.

Saya mengacungkan jempol untuk gaya bercerita penulis yang luwes, membuat saya tidak betah berlama-lama untuk tidak kembali membaca dan menyelesaikannya. Tiga bintang untuk budaya Magetan yang diusung, dan lima bintang untuk ceritanya sendiri. Kejadian-demi kejadian yang menimpa Marni membuat saya secara pribadi geram, kadang mengumpat, mengamini bahwa apa yang terjadi kala itu benar (jarang-jarang saya terbawa suasana saat membaca sebuah novel, ternyata Entrok bisa menghanyutkan saya). Konfik yang bertubi-tubi juga membuat saya enggan untuk beristirahat membaca.

Hanya satu yang membuat saya kurang sreg; saya tidak bisa melihat kekalahan Marni yang mendadak, padahal ia begitu tangguh. 

Pada Sebuah Koma

img-20150303-wa0005

Aku tidak pernah merencanakan untuk menyukaimu, atau jatuh cinta padamu.

Aku juga tidak pernah berangan-angan untuk berjumpa denganmu.

Bagiku, kamu hanyalah teman menulis dan membaca.

Sobat untuk bertukar indra, seperti guru dan muridnya.

 

Tapi siapa sangka jika sebuah koma bisa merajut cerita.

 

Aku mencintaimu, kataku pada suatu hari.

Kamu tertawa. Aku tidak ingat betul apa jawabanmu kala itu.

Namun, aku melihat ada tautan hati.

Betapa girang saat kau bilang, I love you too.

 

Kisah pun berlanjut setelah koma.

 

Pertemuan singkat itu menjadi mejadi selaksa aksara.

Setiap malam, ada dalang yang melakonkannya sebelum aku menutup mata.

Aku ingat bagaimana kamu membetulkan letak kacamatamu.

Hey, tahu kah kamu? Saat itu aku ingin sekali memeluk punggungmu.

 

Namun, kamu meninggalkanku dengan sebuah koma.

 

Aku tidak tahu apakah kisahmu dan kisahku akan saling menggapai.

Katamu kamu tidak mau berandai-andai.

Kataku, aku mau hidup dalam mimpi  walau hanya semalam.

Dan, kamu ingin memegang yang sekarang dalam genggam.

 

Tapi sayangnya, bukan aku yang ada dalam telapak tanganmu.

 

Semalam, dalang itu datang kembali dan bercerita.

Mengingatkanku pada sebuah kisah yang pernah ada.

Fana atau nyata, aku tetap percaya. 

Pada sebuah koma. 

Gadis Kretek – Review

FA-GADIS-KRETEK

Sinopsis Gadis Kretek karya Ratih Kumala.

Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang Ayah.

Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.

Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?

Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta.

Review.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah plot yang diusung penulis. Penulis piawai menarik titik-titik peristiwa dari berbagai zaman (pra kemerdekaan; pasca kemerdekaan, dan zaman modern) lalu menghubungkannya menjadi sebuah cerita tanpa satu celah plot pun. 

Bekas luka di kepala Pak Raja menjadi pintu masuk terkuaknya sejarah kebesaran kretek Djagat Raja, konflik dan asmara masa lalu Raja dan Jeng Yah, serta intrik bisnis kretek Djagat Raja dari zaman ke zaman. 

Alur mundur/ kilas balik dan penggunaan generasi ketiga keluarga sebagai frame cerita juga menarik. Dimulai dengan sakratul maut Pak Raja, pembaca dibawa melanglang buana menuju kota kecil di Jawa Tengah. Sang gadis kretek diulas perlahan-lahan, mulai dari moyangnya yang jatuh bangung mencari cinta dan kemapanan, lalu kelahirannya yang dibumbui kekisruhan dan ramalan kehancuran perusahaan bapaknya, hingga kisah cintanya dengan Raja yang berujung prahara. 

Cerita ini mengalir lembut, dengan bahasa santai yang membuat pembaca betah berlama-lama membaca sambil sesekali menyeruput kopi dan merokok pelan-pelan. Penulis mampu menyulap sejarah kretek yang membosankan menjadi sajian yang enak dibaca; srinthil, sari tembakau yang lengket di tangan, merek-merek dagang unik zaman dahulu, semuanya diramu dengan baik. Bukan sebagai data, tetapi pelengkap fiksi yang manis.

Masing-masing tokoh menceritakan kisah menurut perspektifnya sendiri. Baik dari Idroes Moeria, maupun Soedjagat sebagai tokoh kunci. Namun sayangnya, perspektif dari Soedjagat hanya secuil dan tersirat dari dialog anak-anaknya. Proporsinya agak banyak pada Karim. Seandainya saja perspektif dari Soedjagat ditambah, akan jadi bahan menarik bagi pembaca karena bisa membandingkan kejujuran kedua tokoh kunci tersebut.

Semuanya keren, jika saja POV yang digunakan tetap dalam POV III atau kalau memang tetap menggunakan POV campuran sebagai pembuka dan penutup, bukan POV Lebas. Menurut selera saya, atmosfir kellembutan jawa yang terbangun dari awal hingga menjelang akhir cerita sedikit terganggu dengan penutup yang menggunakan POV Lebas. Mungkin karena diksi yang dipilih (sesuai karakter Lebas yang anak Jakarta) membuat warna novel ini tidak selaras. 

Overall, saya suka novel ini. Rekomendasi untuk pembaca yang suka dengan warna tulisan Pram atau Ahmad Tohari.

Ibu Susu – Review

resensi-ibu-susu-rio-johan-penerbit-kpg-2017_1515588370-b

Ibu Susu, novel karya Rio Johan terbitan Gramedia tahun 2017. 202 halaman.

Sinopsis :

Dia melihat hujan susu, hujan susu yang datang tiba-tiba, tanpa mega-mega gulita dan tak ada gemuruh guruh dari dewa-dewa. Tak seperti hujan pada umumnya, hujan susu ini tidak menitik atau menetes, tapi lebih seperti menyembur atau memuncrat, seolah-olah ada kantung susu raksasa di langit sana yang sedang diperah oleh Hathor demi kesejahteraan sekalian umat. Yang selanjutnya dia ingat, dia sudah berdiri menatapi segenap rakyatnya yang tengah berhamburan menjejerkan jambangan untuk menadah tiap-tiap semburan susu yang jatuh. Terpujilah dewa-dewi yang agung! Dimuliakanlah Ra! Tapi kemudian hujan susu itu semakin menjadi-jadi sampai tak ada lagi jambangan yang sudi menampung di muka negerinya itu. Air sungai menjadi semakin kental dan kental dan lama-kelamaan jadi semurni susu; gurun-gemurun jadi becek dan lekit akibat susu; aliran susu juga mengisi tiap-tiap rekah tanah dan membasuh lembap tebing-tebing batu; kurma dan gandum jadi ikut-ikutan serasa susu, bahkan badai yang muncul justru menerbangkan bulir-bulir susu alih-alih pasir. Negerinya yang kering seketika menjadi sebasah susu.

Membaca buku ini seperti membaca penggalan Alkitab perjanjia lama. Ada banyak istilah tak lazim yang dipakai dalam novel. Sepertinya, akan lebih afdol jika saat membacanya ada dampingan internet dan kamus besar bahasa agar cerita bisa tersaji secara utuh. Meskipun agak kesulitan dalam memahami kata-kata yang dipakai, diksi arkais dalam novel ini tidak terkesan dipaksakan. Saya tidak merasa ada keganjilan dalam membacanya, semuanya mengalir rapi, sepadan dan konsisten dari awal hingga akhir novel.

Di beberapa bagian, memang ada yang terasa menjemukan. Ya, seperti saya bilang di awal, membaca buku ini serupa membaca kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, dan kitab perjanjian lama serupa yang berisi tata cara, urutan, dan penyampaian data yang tidak menarik, diulang, dan tidak begitu penting dalam membangun sebuah cerita.

Meskipun novel ini kaya akan warna surealis, tetapi kisah yang diusung cenderung datar, tidak mencetak grafik konflik yang rumit dan naik turun. Linear, tidak bercabang. Berlatar Mesir, kisah ini dimulai dengan mimpi Firaun Theb yang berujung pada sakitnya pangeran Sem. Segala upaya dikerahkan untuk kesembuhan putra mahkota, tetapi selalu mendapat halangan. Pada akhirnya dia menemukan seorang perempuan yang cocok dengan tafsir mimpi, seorang gadis papa yang dipercaya air susunya bisa menyembuhkan anaknya. Cerita mengalir dengan tuntutan-tuntutan si calon ibu susu, tiga permintaan terpaksa dikabulkan oleh sang Firaun. Mulai dari pembagian harta Mesir, penulisan sejarah nenek moyangnya, hingga janin yang dikandungnya haruslah berasal dari benih Firaun yang malah berujung petaka.

Penokohan dalam cerita ini tidak ekstrim dan sangat normatif. Raja digambarkan seperti sifat raja pada umumnya, begitu pula tokoh-tokoh yang turut membangun cerita. Namun, ada satu karakter yang mencuri perhatian saya, yakni Meth, istri sang Firaun. Penulis bisa menggambarkan bagaimana kesengsaraan seorang perempuan yang air susunya kering. Kesedihan dan keputusasaan seorang permaisuri, perempuan utama di Mesir, yang tidak bisa menjaga kelangsungan hidup putra mahkota tergambar dengan apik. Kegelisahan yang terlukis dari bahasa tubuh—saya paling suka saat Meth memainkan gelas anggurnya, dan menatap gelisah pada suaminya—membuat cerita ini bisa memancing emosi.

Yang patut diacungi Jempol adalah ketelitian dan kelogisan cerita. Perlu riset yang tidak main-main untuk membuat cerita kolosal dengan detil yang luar biasa seperti Ibu Susu ini. Si penulis tidak kehilangan satu pun unsur yang bisa dicacat dalam ranah ini. Saya rasa, perlu pengetahuan umum yang luas dan kelihaian luar biasa untuk menempatkan istilah-istilah yang tidak lazim tanpa mengurangi keindahan cerita. Saat saya menulis review ini, saya sempat iseng memeriksa satu atau dua kata yang dipakai dalam novel tersebut. Beberapa ada dalam KBBI daring, beberapa lagi tidak. Namun demikian, hal tersebut lantas membuat novel ini berkurang kualitasnya. 

Saya memberi nilai 4/5 untuk Ibu Susu karya Rio Johan

Orang-Orang Proyek – review

ID_GPU2015MTH10OPRO_B

Orang-Orang Proyek- Ahmad Tohari

Novel garapan Ahmad Tohari ini bisa dikategorikan sebagai novel hasil reformasi. Yang saya tahu, novel ini ditulis bulan Mei 2001, cetakan pertama dibuat di tahun 2002, empat tahun setelah runtuhnya feodalisme orde baru. Dibuka dengan obrolan antara Kabul, si tokoh utama, dengan Pak Tarya yang gemar memancing, Ahmad Tohari mengetengahkan cerita penuh intrik dan kebusukan pemerintah kala itu melalui objek sebuah pembangunan. Proyek akal-akalan dicetuskan menjelang pemilu, dengan membangun jembatan Sungai CIbawor yang sudah runtuh sejak zaman revolusi.

Kabul, yang memimpin proyek pembangunan jembatan tersebut, adalah seorang insinyur yang idealis. Dalam pelaksanaannya, pembangunan dikotori oleh praktik-praktik tidak sehat yang bertentangan dengan jiwanya. Dimulai dengan tender proyek yang dimenangkan oleh anak pejabat kader partai penguasa, lalu dijual pada kontraktor tempatnya bekerja. Proyek itu terus dirongrong oleh pemegang kekuasaan. Tuntutan untuk menyelesaikan jembatan sebelum perayaan ulang tahun partai hingga masjid desa yang minta dibangun ulang atas nama partai membuatnya tidak tahan. Di sini, konflik puncak idealismenya dibenturkan; antara tanggung jawabnya kepada rakyat yang membiayai jembatan dan profesionalismenya melawan kepentingan politik. 

Ahmad Tohari membuat tokoh utamanya tercabik-cabik secara moral. Apalagi, sahabat semasa kuliah yang getol menyuarakan idealisme mahasiswa, malah ikut-ikutan bobrok setelah menjadi kepala desa. Budget pembangunan bocor di sana-sini, membuatnya merasa bersalah karena harus mengorbankan mutu bangunan dan ilmunya sebagai insinyur. Hal yang membuat hati saya terenyuh dan sempat menghela napas adalah, saat Samad menangis mendengar Kabul bercerita tentang bagaimana biyungnya mendidik untuk tetap bersih, memakan makanan sederhana tetapi berasal dari surga, bukan makanan mewah hasil korpusi. Pesan moralnya sangat kuat, dengan penggambaran yang menyentuh hati. Konflik dalam novel pun dibangun berlapis dan sambung menyambung, membuat pembaca paham pemikiran masing-masing karakter dan konflik yang mereka alami. Seperti butterfly efect, didikan biyung yang lurus menentukan keputusan Kabul untuk mengakhiri karirnya dalam proyek jembatan itu. Seperti Pak Tarya yang memang tidak punya ambisi, bisa berdendang dan meniup seruling di pinggir Sungai CIbawor pada saat tuanya. Cerita dipermanis dengan bumbu kisah cinta Kabul dan Wati, si sekretaris proyek.

Novel ini adalah novel yang lahir untuk menguliti kebusukan orde baru selama berjaya. Mulai tingkat legislatif, Golongan Karya—partai tunggal penguasa zaman yang disamarkan namanya menjadi Golongan Lestari Menang, hingga cecunguk-cecunguk yang berada di rantai paling bawah; pengurus masjid, mandor, dan perangkat desa. Novel ini melukiskan betapa praktik korupsi, nepotisme, aji mumpung, penyalahgunaan kekuasaan, dan persekusi sudah sama wajibnya dengan salat lima waktu atau ibadah di hari Minggu.

Saya jadi ingat cerita teman saya yang mengutuki pemerintah Joko WIdodo, yang getol membangun. Semisal, tol utara pulau Jawa. Jalur pantura adalah lahan bancakan bagi koruptor. Saya jadi menghubung-hubungkan, kenapa jalur itu macet. Salah satunya adalah karena mutu jalan yang dibuat rendah. Dana yang seharusnya bisa untuk membangun jalan berumur sepuluh tahun dibuat bancaan, akibatnya umur jalan berkurang setengahnya. Kualitas aspal dibawah standar, pasir, dan batu pun juga demikian. Tujuannya hanya satu; agar tidak awet dan proyek pembangunan jalan terus menerus ada dan siklus korupsi lestari.

Novel ini patut diapresiasi. Namun, sayangnya novel ini tidak dibuat saat orde baru berkuasa.