Gadis Kretek – Review

FA-GADIS-KRETEK

Sinopsis Gadis Kretek karya Ratih Kumala.

Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang Ayah.

Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.

Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?

Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta.

Review.

Yang paling saya suka dari buku ini adalah plot yang diusung penulis. Penulis piawai menarik titik-titik peristiwa dari berbagai zaman (pra kemerdekaan; pasca kemerdekaan, dan zaman modern) lalu menghubungkannya menjadi sebuah cerita tanpa satu celah plot pun. 

Bekas luka di kepala Pak Raja menjadi pintu masuk terkuaknya sejarah kebesaran kretek Djagat Raja, konflik dan asmara masa lalu Raja dan Jeng Yah, serta intrik bisnis kretek Djagat Raja dari zaman ke zaman. 

Alur mundur/ kilas balik dan penggunaan generasi ketiga keluarga sebagai frame cerita juga menarik. Dimulai dengan sakratul maut Pak Raja, pembaca dibawa melanglang buana menuju kota kecil di Jawa Tengah. Sang gadis kretek diulas perlahan-lahan, mulai dari moyangnya yang jatuh bangung mencari cinta dan kemapanan, lalu kelahirannya yang dibumbui kekisruhan dan ramalan kehancuran perusahaan bapaknya, hingga kisah cintanya dengan Raja yang berujung prahara. 

Cerita ini mengalir lembut, dengan bahasa santai yang membuat pembaca betah berlama-lama membaca sambil sesekali menyeruput kopi dan merokok pelan-pelan. Penulis mampu menyulap sejarah kretek yang membosankan menjadi sajian yang enak dibaca; srinthil, sari tembakau yang lengket di tangan, merek-merek dagang unik zaman dahulu, semuanya diramu dengan baik. Bukan sebagai data, tetapi pelengkap fiksi yang manis.

Masing-masing tokoh menceritakan kisah menurut perspektifnya sendiri. Baik dari Idroes Moeria, maupun Soedjagat sebagai tokoh kunci. Namun sayangnya, perspektif dari Soedjagat hanya secuil dan tersirat dari dialog anak-anaknya. Proporsinya agak banyak pada Karim. Seandainya saja perspektif dari Soedjagat ditambah, akan jadi bahan menarik bagi pembaca karena bisa membandingkan kejujuran kedua tokoh kunci tersebut.

Semuanya keren, jika saja POV yang digunakan tetap dalam POV III atau kalau memang tetap menggunakan POV campuran sebagai pembuka dan penutup, bukan POV Lebas. Menurut selera saya, atmosfir kellembutan jawa yang terbangun dari awal hingga menjelang akhir cerita sedikit terganggu dengan penutup yang menggunakan POV Lebas. Mungkin karena diksi yang dipilih (sesuai karakter Lebas yang anak Jakarta) membuat warna novel ini tidak selaras. 

Overall, saya suka novel ini. Rekomendasi untuk pembaca yang suka dengan warna tulisan Pram atau Ahmad Tohari.

Advertisements

Ibu Susu – Review

resensi-ibu-susu-rio-johan-penerbit-kpg-2017_1515588370-b

Ibu Susu, novel karya Rio Johan terbitan Gramedia tahun 2017. 202 halaman.

Sinopsis :

Dia melihat hujan susu, hujan susu yang datang tiba-tiba, tanpa mega-mega gulita dan tak ada gemuruh guruh dari dewa-dewa. Tak seperti hujan pada umumnya, hujan susu ini tidak menitik atau menetes, tapi lebih seperti menyembur atau memuncrat, seolah-olah ada kantung susu raksasa di langit sana yang sedang diperah oleh Hathor demi kesejahteraan sekalian umat. Yang selanjutnya dia ingat, dia sudah berdiri menatapi segenap rakyatnya yang tengah berhamburan menjejerkan jambangan untuk menadah tiap-tiap semburan susu yang jatuh. Terpujilah dewa-dewi yang agung! Dimuliakanlah Ra! Tapi kemudian hujan susu itu semakin menjadi-jadi sampai tak ada lagi jambangan yang sudi menampung di muka negerinya itu. Air sungai menjadi semakin kental dan kental dan lama-kelamaan jadi semurni susu; gurun-gemurun jadi becek dan lekit akibat susu; aliran susu juga mengisi tiap-tiap rekah tanah dan membasuh lembap tebing-tebing batu; kurma dan gandum jadi ikut-ikutan serasa susu, bahkan badai yang muncul justru menerbangkan bulir-bulir susu alih-alih pasir. Negerinya yang kering seketika menjadi sebasah susu.

Membaca buku ini seperti membaca penggalan Alkitab perjanjia lama. Ada banyak istilah tak lazim yang dipakai dalam novel. Sepertinya, akan lebih afdol jika saat membacanya ada dampingan internet dan kamus besar bahasa agar cerita bisa tersaji secara utuh. Meskipun agak kesulitan dalam memahami kata-kata yang dipakai, diksi arkais dalam novel ini tidak terkesan dipaksakan. Saya tidak merasa ada keganjilan dalam membacanya, semuanya mengalir rapi, sepadan dan konsisten dari awal hingga akhir novel.

Di beberapa bagian, memang ada yang terasa menjemukan. Ya, seperti saya bilang di awal, membaca buku ini serupa membaca kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, dan kitab perjanjian lama serupa yang berisi tata cara, urutan, dan penyampaian data yang tidak menarik, diulang, dan tidak begitu penting dalam membangun sebuah cerita.

Meskipun novel ini kaya akan warna surealis, tetapi kisah yang diusung cenderung datar, tidak mencetak grafik konflik yang rumit dan naik turun. Linear, tidak bercabang. Berlatar Mesir, kisah ini dimulai dengan mimpi Firaun Theb yang berujung pada sakitnya pangeran Sem. Segala upaya dikerahkan untuk kesembuhan putra mahkota, tetapi selalu mendapat halangan. Pada akhirnya dia menemukan seorang perempuan yang cocok dengan tafsir mimpi, seorang gadis papa yang dipercaya air susunya bisa menyembuhkan anaknya. Cerita mengalir dengan tuntutan-tuntutan si calon ibu susu, tiga permintaan terpaksa dikabulkan oleh sang Firaun. Mulai dari pembagian harta Mesir, penulisan sejarah nenek moyangnya, hingga janin yang dikandungnya haruslah berasal dari benih Firaun yang malah berujung petaka.

Penokohan dalam cerita ini tidak ekstrim dan sangat normatif. Raja digambarkan seperti sifat raja pada umumnya, begitu pula tokoh-tokoh yang turut membangun cerita. Namun, ada satu karakter yang mencuri perhatian saya, yakni Meth, istri sang Firaun. Penulis bisa menggambarkan bagaimana kesengsaraan seorang perempuan yang air susunya kering. Kesedihan dan keputusasaan seorang permaisuri, perempuan utama di Mesir, yang tidak bisa menjaga kelangsungan hidup putra mahkota tergambar dengan apik. Kegelisahan yang terlukis dari bahasa tubuh—saya paling suka saat Meth memainkan gelas anggurnya, dan menatap gelisah pada suaminya—membuat cerita ini bisa memancing emosi.

Yang patut diacungi Jempol adalah ketelitian dan kelogisan cerita. Perlu riset yang tidak main-main untuk membuat cerita kolosal dengan detil yang luar biasa seperti Ibu Susu ini. Si penulis tidak kehilangan satu pun unsur yang bisa dicacat dalam ranah ini. Saya rasa, perlu pengetahuan umum yang luas dan kelihaian luar biasa untuk menempatkan istilah-istilah yang tidak lazim tanpa mengurangi keindahan cerita. Saat saya menulis review ini, saya sempat iseng memeriksa satu atau dua kata yang dipakai dalam novel tersebut. Beberapa ada dalam KBBI daring, beberapa lagi tidak. Namun demikian, hal tersebut lantas membuat novel ini berkurang kualitasnya. 

Saya memberi nilai 4/5 untuk Ibu Susu karya Rio Johan

Orang-Orang Proyek – review

ID_GPU2015MTH10OPRO_B

Orang-Orang Proyek- Ahmad Tohari

Novel garapan Ahmad Tohari ini bisa dikategorikan sebagai novel hasil reformasi. Yang saya tahu, novel ini ditulis bulan Mei 2001, cetakan pertama dibuat di tahun 2002, empat tahun setelah runtuhnya feodalisme orde baru. Dibuka dengan obrolan antara Kabul, si tokoh utama, dengan Pak Tarya yang gemar memancing, Ahmad Tohari mengetengahkan cerita penuh intrik dan kebusukan pemerintah kala itu melalui objek sebuah pembangunan. Proyek akal-akalan dicetuskan menjelang pemilu, dengan membangun jembatan Sungai CIbawor yang sudah runtuh sejak zaman revolusi.

Kabul, yang memimpin proyek pembangunan jembatan tersebut, adalah seorang insinyur yang idealis. Dalam pelaksanaannya, pembangunan dikotori oleh praktik-praktik tidak sehat yang bertentangan dengan jiwanya. Dimulai dengan tender proyek yang dimenangkan oleh anak pejabat kader partai penguasa, lalu dijual pada kontraktor tempatnya bekerja. Proyek itu terus dirongrong oleh pemegang kekuasaan. Tuntutan untuk menyelesaikan jembatan sebelum perayaan ulang tahun partai hingga masjid desa yang minta dibangun ulang atas nama partai membuatnya tidak tahan. Di sini, konflik puncak idealismenya dibenturkan; antara tanggung jawabnya kepada rakyat yang membiayai jembatan dan profesionalismenya melawan kepentingan politik. 

Ahmad Tohari membuat tokoh utamanya tercabik-cabik secara moral. Apalagi, sahabat semasa kuliah yang getol menyuarakan idealisme mahasiswa, malah ikut-ikutan bobrok setelah menjadi kepala desa. Budget pembangunan bocor di sana-sini, membuatnya merasa bersalah karena harus mengorbankan mutu bangunan dan ilmunya sebagai insinyur. Hal yang membuat hati saya terenyuh dan sempat menghela napas adalah, saat Samad menangis mendengar Kabul bercerita tentang bagaimana biyungnya mendidik untuk tetap bersih, memakan makanan sederhana tetapi berasal dari surga, bukan makanan mewah hasil korpusi. Pesan moralnya sangat kuat, dengan penggambaran yang menyentuh hati. Konflik dalam novel pun dibangun berlapis dan sambung menyambung, membuat pembaca paham pemikiran masing-masing karakter dan konflik yang mereka alami. Seperti butterfly efect, didikan biyung yang lurus menentukan keputusan Kabul untuk mengakhiri karirnya dalam proyek jembatan itu. Seperti Pak Tarya yang memang tidak punya ambisi, bisa berdendang dan meniup seruling di pinggir Sungai CIbawor pada saat tuanya. Cerita dipermanis dengan bumbu kisah cinta Kabul dan Wati, si sekretaris proyek.

Novel ini adalah novel yang lahir untuk menguliti kebusukan orde baru selama berjaya. Mulai tingkat legislatif, Golongan Karya—partai tunggal penguasa zaman yang disamarkan namanya menjadi Golongan Lestari Menang, hingga cecunguk-cecunguk yang berada di rantai paling bawah; pengurus masjid, mandor, dan perangkat desa. Novel ini melukiskan betapa praktik korupsi, nepotisme, aji mumpung, penyalahgunaan kekuasaan, dan persekusi sudah sama wajibnya dengan salat lima waktu atau ibadah di hari Minggu.

Saya jadi ingat cerita teman saya yang mengutuki pemerintah Joko WIdodo, yang getol membangun. Semisal, tol utara pulau Jawa. Jalur pantura adalah lahan bancakan bagi koruptor. Saya jadi menghubung-hubungkan, kenapa jalur itu macet. Salah satunya adalah karena mutu jalan yang dibuat rendah. Dana yang seharusnya bisa untuk membangun jalan berumur sepuluh tahun dibuat bancaan, akibatnya umur jalan berkurang setengahnya. Kualitas aspal dibawah standar, pasir, dan batu pun juga demikian. Tujuannya hanya satu; agar tidak awet dan proyek pembangunan jalan terus menerus ada dan siklus korupsi lestari.

Novel ini patut diapresiasi. Namun, sayangnya novel ini tidak dibuat saat orde baru berkuasa.

Tipu-tipu Penulis Mula

PENIPU
“Tolong belikan dulu mama pulsa Simpati 50 ribu di nomor baru mama. 081219333344. Sekarang ya! Penting. Mama sekarang di rumah sakit. Nanti mama ganti uangnya.”
“Ini Bapak, tolong belikan pulsa dua puluh ribu karena Bapak lagi ada masalah di kantor polisi. Jangan telepon/ sms, nanti Bapak yang telepon.”
Kalau ada sms semacam di atas, kalian pasti sudah bisa nebak si pengirim sms niatnya mau apa. Kalau dulu sih, saya diamkan, tapi kalau lagi kesel saya jawab: “Makmu ndangak!
Zaman sekarang apa pun bisa digunakan untuk cari duit. Lupakan halal dan haram sejenak, kita fokus duit dan bisnis. Menipu tidak lagi menjadi mata pencaharian para kriminal, tetapi juga pelaku bisnis. Lahannya pun bukan lagi yang umum, semisal MLM yang bisa merambah golongan apa pun; kere, kaya, sehat, sakit, berpendidikan, profesional, dan lain sebagainya. Dunia menulis pun yang peminatnya tidak terlalu banyak bisa menjadi objek tipu-tipu.
Beberapa waktu yang lalu saya dicurhati teman instagram. Ceritanya, dia ikut lomba menulis. Tidak menang, sih, tetapi karyanya termasuk dalam 25 cerpen yang dibukukan. Dikiranya, setelah dibukukan, dia akan mendapat satu kopi secara gratis. Nyatanya, dia malah disuruh beli dengan harga lumayan mahal (155 ribu rupiah) dengan bonus : sertifikat cetak, stiker JSI, dan gantungan kunci JSI. Tentu saja teman saya mencak-mencak. Saya sih mengerti, dia sudah membayar biaya pendaftaran lomba, eh malah disuruh beli karya yang ditulisnya sendiri. FYI – harga tersebut bisa turun setelah dinego, jadi 110 ribu rupiah termasuk ongkir.
Dia pun berinisiatif menarik naskah, dengan harapan, tulisannya tidak diikutkan dalam kumpulan cerpen yang dibukukan (baca: dibisniskan). Namun, jawaban si penyelenggara tidak memuaskan, katanya, tidak semudah itu menarik karya. Ya jelas! Mereka tidak mungkin mau rugi, mau dikemanakan buku yang sudah terlanjur naik cetak? Eh, tapi yang namanya pebisnis, ya bisa aja sih cari cara.
Dari kejadian teman saya tadi, ada baiknya berhati-hati sebagai penulis. Pebisnis tipu-tipu ini gampang sekali memerangkap penulis mula, yang rata-rata ngebet banget karyanya bisa dicetak dalam bentuk fisik. Dengan iming-iming “karya terpilih akan dibukukan dalam bentuk cetak”, pastilah si penipu bisa menjaring penulis-penulis mula yang pengin eksis. Padahal, jika mau jujur, enggak semua karya bisa dibukukan.
Dari kejadian teman saya di atas, ini yang bisa saya simpulkan.
  1. Jangan pernah ikut lomba menulis yang menyuruh peserta membayar uang pendaftaran. Lomba yang benar diadakan sebagai bentuk apresiasi bagi penulis, bukan untuk bisnis. Penyelenggara lomba, pasti sudah menggaet sponsor untuk biaya lomba. Jika niatnya benar, semua biaya—termasuk hadiah dan honor bagi panitia—pasti sudah tercover tanpa biaya pendaftaran. Kalian patut curiga jika ada lomba yang mewajibkan setor duit pada panitia.
  2. Cek siapa penyelenggara lomba. Jangan mudah percaya dengan iming-iming hadiah puluhan juta rupiah bagi pemenang lomba jika yang mengadakan lomba tidak dibacking oleh perusahaan besar sebagai partner.
  3. Jangan ikut lomba yang diadakan oleh panitia yang situs resminya berdomain blog (semisal; blahblahlah.wordpress.com), tumblr, instagram, facebook. Kalian pun layak curiga jika si penyelenggara lomba (meskipun) punya situs resmi, tetapi umurnya baru seumur jagung.
  4. Naskah kalian bisa dijual! Jadi, baca dengan teliti ketentuan lomba atau tanya kepada panitia jika perlu. Jangan hanya karena tertarik karya akan dibukukan, lalu kalian sembrono mengirimkan naskah. Penerbitan naskah dari penulis tidak segampang jual beli batu akik. Ada kontrak yang harus ditandatangi, ada konsekuensi yang jelas, dan bukti hitam di atas putih. Jangan biarkan orang menikmati uang dari keringat kita.
Sayangnya, tidak ada badan pemerintah yang bisa menaungi para peserta lomba korban tipu-tipu (atau mungkin YLKI?). Lalu, bagaimana jika terlanjur basah, sudah kirim naskah, tetapi tidak menang dan karya kalian terlanjur dibisniskan?
  1. Kirim surat/ email penarikan naskah secepatnya. Memang tidak mengenakkan, tetapi ini langkah awal agar kalian punya bukti bahwa naskah kalian sudah ditarik dari lomba. Namun, akan rumit jika dalam ketentuan lomba sudah tertulis—semua karya yang masuk menjadi milik panitia dan tidak dapat ditarik.
  2. Jika tanggapan dari panitia mengecewakan, galang massa. Hubungi para peserta lain dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ajak mereka untuk mengajukan protes bersama-sama.
  3. Lapor polisi.
Tapi yah kenyataan memang pahit. Namanya berusurusan dengan penipu, kita lebih sering kalah daripada menangnya. Untuk itu, berhati-hatilah jika berniat mengirimkan naskah lomba menulis.

 

Semoga artikel pendek ini bisa membantu kalian, terutama penulis mula yang gampang banget ditipu. Salam.

Ludruk Dan Jasanya Terhadap Novel Bakiak Maryam

bakiak.jpg

Saya baru saja menyelesaikan novel terbaru yang berjudul “Bakiak Maryam” di platform kepenulisan Storial.co.

Sebenarnya, draft itu sudah lama ada di otak. Hanya saja baru bisa dieksekusi setelah tim storial menawari kerjasama untuk program buku premium (berbayar). Dalam waktu dua bulan, sayadan lima belas penulis terpilih harus menyelesaikan novel dengan jumlah minimal kata 30.000 agar saat peluncuran program Premium Chapter, sudah ada novel yang bisa ditayangkan.

Saya menyadari. Saya adalah tipe penulis yang suka tantangan. Seperti bulan nulis November tahun lalu, saya yakin, Bakiak Maryam tidak akan selesai tanpa deadline dan rasa tertantang untuk menyelesaikannya tepat waktu.  dari Storial. Sebelum April beakhir, saya sudah menamatkannya. #prokprokformyself.

Saya mau menceritakan latar belakang saya menulis Bakiak Maryam, boleh kan?

Seperti yang selalu saya bilang, saya dibesarkan dalam keluarga penggemar seni. Ayah saya sering mengajak saya dan kedua saudara saya pergi menonton pertunjukan kesenian daerah. Tak terhitung berapa kali saya lelap dalam gendongan ayah saya saat pertunjukan usai. Wayang orang, ketoprak, wayang kulit,  dan sendratari, semuanya kami tonton. Saat di rumah, stasiun TV favorit keluarga kami adalah TVRI. Selain Flora dan Fauna, acara yang kami nanti adalah wayang orang.

Saat saya masuk dunia kerja, saya pulang dan berangkat kerja menggunakan bus. Bus yang saya tumpangi selalu lewat depan gedung pentas ludruk Irama Budaya. Hanya sebuah bangunan semi permanen, terletak di stren kali dan daerah yang lumayan padat. Konon, ludruk ini satu-satunya yang ada di Surabaya yang masih eksis dan rutin menggelar pertunjukan di gedungnya sendiri. Saya penasaran banget pengen duduk nonton di dalamnya. Grup ludurk ini tidak menjual karcis, tetapi sepenuhnya bergantung pada partisipasi penonton. Di akhir pertunjukan, seseorang akan mengedarkan sebuah kotak. Penonton akan memasukkan uang ke dalam kotak tersebut  seikhlasnya, tanpa patokan nominal.

Saya baru kesampaian menonton ludruk saat gedung pertunjukan itu sudah pindah tempat. Rupanya, pemerintah tergerak untuk menyelamatkan grup ludruk asli Surabaya dengan memindahkannya ke gedung pertunjukan yang lebih layak. Saya mengajak teman saya untuk nonton dan begitu takjub saat mengintip aktifitas di belakang panggung. Puluhan pemain sedang merias diri. Ada beberapa lelaki dan peremuan. Mereka saling membantu, memasang bulu mata, atau sekadar memegangi kain panjang yang hendak dililitkan ke badan. Mata saya tertuju kepada seorang lelaki dengan riasan wajah lengkap dan berkonde. Saya tahu dia seorang lelaki dari perawakannya. Tidak mungkin perempuan punya bahu lebar dan lengan yang kekar–kecuali binaragawati. Usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Ia terlihat lincah dan sedikit genit. Sepertinya, ia adalah pemimpin grup ludruk tersebut. Lelaki itu yang menginspirasi saya untuk merombak draft novel, menghadirkan sosok Maryam sebagai tokoh utama dalam cerita saya.

Pentas berlangsung dengan meriah, menampilkan lakon Sarip Tambak Oso, seorang pejuang dari Jawa Timur. Kisah yang diangkat dalam cerita ludruk memang tidak jauh-jauh dari tema perjuangan. Menurut sejarah, konon kesenian ini dipakai sebagai sarana perjuangan; menyindir penjajah dengan dagelan atau mengobarkan semangat anti penjajahan. Tari Remo, sebagai pembuka pertunjukan digunakan untuk menyindir pribumi (istilah peninggalan Belanda untuk warga lokal) yang tidak mau berjuang dan mendukung Belanda. Tarian ini asalnya ditarikan oleh lelaki dengan riasan perempuan, banci–sebuah sindiran bagi jiwa-jiwa kerdil pengkhianat perjuangan. Namun, akhir-akhir ini sering diganti oleh pemari perempuan atau karawitan.

Yang menarik dari dulu hingga sekarang adalah interaksi antara pemain dan penonton pada sesi tertentu. Dagelan bebas yang masih dalam koridor cerita, mengundang penonton untuk berkelakar atau menunjukkan apresiasi dengan melempar rokok ke panggung. Di akhir pertunjukan, penonton kembali berduyun-duyun menuju kotak yang ada di depan panggung, memberi sumbangan seikhlasnya.

Ludruk, seperti kesenian tradisional daerah lainnya, sudah tergusur dengan teknologi yang gencar menyiarkan kebudayaan luar. Kalau dahulu, gelar sebagai biang kerok penggerus kebudayaan Indonesia adalah budaya barat. Namun, sekarang gelar itu sudah berpindah ke Asia; India, Turki, Cina, Korea, dan Jepang.

Pernah saya mendengar kalimat; generasi muda seharusnya menjaga kebudayaan negeri sendiri. Saya melihat rata-rata pemain ludruk sudah berumur. Jika mereka mangkat, apakah ada generasi lanjutan yang mau menjadi pemain ludruk? Saya tanya ke diri saya sendiri, apa kamu mau jadi pemain ludruk? Saya tertawa keras. Jelas enggak lah!

Menulis adalah cara saya melestarikan kebudayaan. Dari tiga novel yang saya tulis, tiga-tiganya ada unsur kebudayaan lokal yang saya angkat. Manten Agung, di Kembang Kawisari. Reog dan budayanya, dalam Sadirah. Sekarang, kesenian ludruk dalam Bakiak Maryam. Melalui tulisan ini saya berharap. semoga kita mempunyai cara masing-masing untuk melestarikan budaya luhur Indonesia.

 

 

 

 

Sang Maestro

 

DRzp7TcUEAABPec

“Novel itu kan sudah saya tulis lama sekali, tetapi kenapa masih banyak yang minat? Menurutmu kenapa Jon? Ya sudah kamu kupanggil Jon saja,” kata Pak Tohari di beranda rumahnya begitu selesai menandatangani novel Ronggeng Dukuh Paruk yang saya bawa dari Surabaya.

Dengan gelagapan saya menjawab sekenanya, “Ya mungkin karena dalam novel itu ada prosesi bukak klambu, Pak.”

Tentu saja, jawaban konyol saya membuat beliau terpingkal-pingkal. Lalu sejurus kemudian beliau berkata setengah menagih, “Mana tulisan kalian? Mana bukunya? Dibawain tidak?”

Kami pun menyerahkan antologi cerpen Dimensi Kata  “Pencuri Mimpi” yang kami rilis beberapa waktu yang lalu, tentu saja dengan tanda tangan dari saya dan Tutut sebagai perwakilan Dimensi Kata. (Zeth, Nara, Thiya, Elqi, Mak Dem, Dan, silakan iri!)

Saya masih belum percaya jika siang itu, 24 Desember 2017, saya bisa bertemu dengan sang maestro sastra, Ahmad Tohari. Lelaki berpeci itu sangat bersahaja, menyambut saya dan dua orang teman (Tutut dan Dilla) dengan hangat. Rasa lelah perjalanan kereta tanpa AC dari Surabaya ke Purwokerto menjadi hilang seketika. Begitu juga punggung tangan yang terbakar matahari karena perjalanan motor 1,5 jam dari Purwokerto ke Jatiasih pun tidak terasa. Rumah Pak Tohari begitu adem, banyak pepohonan rindang di halaman depan rumah bercat putih tersebut. Di samping rumah, ada sebuah Taman Kanak Kanak dan perpustakaan, terpisah oleh jalan kecil menuju rumah belakang, tempat salah satu anak beliau tinggal.

Setelah bertukar buku, Pak Tohari meminta izin untuk menjalankan sholat Dhuhur. Bu Tohari keluar dan menemani kami dengan membawa teh hangat dan makanan kecil. Dari istri Pak Tohari, kami mengetahui kesibukan rumahnya. Ternyata, selama ini banyak sekali tamu-tamu yang datang untuk bertemu dengan beliau. Sebelum kedatangan kami, ada rombongan pelajar dari Jerman yang datang dan ingin bertemu Pak Tohari.

Wajah cerah Pak Tohari kembali menemuia kami. Tak disangka-sangka, Pak Tohari mengajak kami makan siang. Astaga, sungguh saya merasa mendapat kehormatan yang luar biasa, dijamu dan duduk semeja dengan lelaki yang tulisannya menginspirasi saya.

Di meja makan, kami bertukar cerita.

“Boleh saja kalian menulis apa yang ada dalam kepala kalian, tentang imajinasi-imajinasi. Tapi kalau saya boleh titip, tulislah kritik sosial, sebab jarang sekali saya temui anak muda yang mau mengkritik melalui fiksi. Kebanyakan mereka larinya ke genre a,b,c,d. Siapa lagi kalau bukan kalian? Ayo Jon, kamu nulis kritik sosial,” kata Pak Tohari.

Lah dalah, kok saya lagi yang ditunjuk? Lalu saya ingat, saya pernah menulis tiga cerpen yang berisikan kritik sosial, salah satunya ada dalam Pencuri Mimpi. Saya pun menceritakan kepada beliau dengan norak semangat.

“Kamu pernah baca cerpen saya yang berjudul Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” tanya Pak Tohari. “Saya menulis itu sewaktu saya marah dengan *menyebut nama oknum dewan yang terhormat. Sebenarnya, idenya sederhana. Ada keluarga pemulung yang tinggal di Jakarta, si anak kebelet pipis. Mau kencing di tempat tidur, tidak boleh karena kena punggung ibunya. Lalu si anak pindah ke pojokan, tidak boleh juga karena kena buntelan ibunya.”

“Lalu, si anak kencing di mana, Pak?” tanya Tutut.

“Ya, saya bilang (melalui karakter ibu) kamu boleh kencing di mana saja di Jakarta. Lalu saya sebut daerah-daerah tempat cecunguk-cecunguk Jakarta tinggal. Dan rupanya, si ilustrator itu menangkap apa yang saya maksud. Maka jadilah sampul kumpulan cerpen seperti yang kalian lihat sekarang (gambar langit berbentuk pantat dengan air menetesi landmark Jakarta).”

Dalam hati saya bilang, boleh juga nih ditiru!

Saya pun menceritakan kegiatan saya. Ya, tentu saja draft novel terbaru saya dan komunitas Dimensi Kata.

“Di dalam Dimensi Kata, setiap Senin kami mengulas cerpen. Lalu, sebulan sekali, tiap anggotanya ditantang untuk menulis dengan topik tertentu. Kami pernah mengulas cerpen Bapak yang judulnya Tawa Gadis Padang Sampah.”

Pak Tohari tampaknya agak kaget mendengar ceritanya direview oleh kumpulan penulis seperti kami. Katanya kemudian, “Boleh-boleh … kalian kirim ulasan kalian kemari, nanti saya masukkan dalam buku saya yang mau terbit.” Sesaat beliau terdiam dan tertawa. “Lah, naskahnya sudah masuk percetakan. Bagaimana coba? Telat kamu ke sini!”

Entah sungguhan atau enggak, tetapi permintaan Pak Tohari membuat dada saya membusung. Seorang Ahmad Tohari, mau membaca ulasan dari penulis-penulis muda yang ada dalam Dimensi Kata. That’s something!

Kami pun berpindah dari ruang makan ke beranda depan.

“Pak, ada teman saya yang bilang, sesama pengagum Bapak, namanya Aditia Yudis. Baca tulisannya Ahmad Tohari itu bikin adem. Bagaimana bisa ya, Pak? Bagaimana cara bikin tulisan adem seperti itu?”

“Menulis itu harus itu harus baik, benar, dan anggun. Tulisan itu harus logis, kalau logis pasti benar. Menulis baik dan benar itu mudah. Kalian-kalian ini pasti sudah menulis baik dan benar? Nah, anggun ini yang agak susah. Kalian harus berlatih. Tidak mudah memang membawa tulisan itu bisa sampai ke pembaca dalam bentuk lain, tapi kalian harus terus mengasah diri, membuat tulisan kalian menjadi anggun.”

Saya sebagai penulis muda hanya manggut-manggut. Betapa perjalanan saya sebagai seorang penulis masih harus diasah dan terus diasah. Saya mendapati diri saya sangat kerdil di hadapan penulis besar ini.

“Pak, apakah Dukuh Paruk itu benar-benar ada?” tanya saya kemudian.

“Tidak, itu cuma imajinasi saya. Kamu tahu apa artinya paruk?”

Saya menggeleng.

“Paruk itu tempayan, gerabah, orang sini menyebutnya Paruk,” jelasnya.

“Seperti layah, periuk dan alat-alat dapur dari tanah liat?”

“Betul!” jawabnya, “Tapi pernah ada yang kemari dan mengaku dari Dukuh Paruk. Dia menunjukkan KTP dan memang ada sebuah dukuh yang namanya Paruk.”

“Di mana, Pak?”

“Di dekat-dekat sini. Saya juga heran, ternyata dukuh itu ada dan bukan dalam pikiran saya saja.”

“Lalu, tentang Ronggeng Dukuh Paruk yang diangkat ke layar lebar. Itu bagaimana prosesnya, Pak?”

“Kamu udah nonton belum, Jon?”

Saya kembali meringis, tidak mengiyakan atau membantah–padahal saya belum nonton hingga sekarang. Alasannya? Karena takut kecewa tidak sebagus novel yang saya baca.

“Banyak penulis yang marah-marah karena karena film yang dibuat tidak sama persis dengan novelnya. Apalagi penonton yang sudah membaca novelnya. Itu tidak perlu!” tukasnya. “Film dan novel itu berbeda. Saya penulis, dia sutradara. Media kami pun berbeda, ya salah kalau menuntut kesamaan dari film dan novel. Itu beda! Sama sekali beda.”

“Terus, Bapak enggak apa-apa?”

“Ya enggak apa-apa, kamu pikir saya marah-marah? Tidak, saya bebaskan orang film berkarya, karena saya sadar film dan novel berbeda.”

Penjelasan Pak Tohari membuat saya seperti mengalami dejavu. Beberapa hari sebelumnya, saya membuat sebuah meme bertuliskan don’t judge the book by its movie. Dan di hadapan Pak Tohari saya diingatkan kembali, dua media itu berbeda meskipun komoditinya sama. Tidak layak untuk marah-marah pada film jelek yang diangkat dari sebuah novel bagus.

Sebenarnya, kami ingin terus ngobrol, apalagi Pak Tohari menyinggung dunia pendidikan yang menyepelekan bahasa ibu. Saya yakin, obrolan kami akan menarik, tetapi  kami sadar, Pak Tohari butuh istirahat.

Waktu dua jam di sana serasa hanya lima menit dan kami pun mohon diri.

Dalam perjalanan pulang saya masih terngiang dengan pertemuan istimewa tadi. Rasanya, saya  seperti orang paling norak sedunia. Mulut saya tidak pernah mengatup karena kagum. Cerita beliau saya dengar dengan saksama, walaupun kadang lewat (karena saya masih sangat excited). Untung saja rumah Pak Tohari bersih dan tidak ada lalat, kalau iya, bisa-bisa mulut saya kemasukan seekor atau dua ekor karena selalu mangap.

Saya berdoa, semoga Pak Tohari selalu diberi kesehatan, panjang umur, agar bisa menulis lagi novel yang keren.

FYI, Tulisan ini saya buat dengan gaya komunikasi yang lebih kurang sama dengan saat saya berbincang dengan Ahmad Tohari. Terasa tidak kaku? Tentu saja, karena sejak awal Ahmad Tohari menempatkan diri sebagai seorang yang hangat dan apa adanya, tidak memasang dinding dan protokol yang membuat saya sungkan atau tidak menjadi diri saya sendiri.

 

What is Coming is Better than What is Gone

1a5db5092d1e187cab5877cac0b514fd.jpg

Kereta kehidupan yang saya tumpangi sudah berada di perlintasan. Sebentar lagi, dia akan melalui stasiun terakhir di jalur 2017 dan melanjutkan perjalanannya di rel 2018.

Time flies.

Saya baru tahu makna frase di atas. Beberapa tahun lalu, saya masih melihat gambar wajah unyu saya ditempel pada lembar ijazah kelulusan perguruan tinggi, di sebelahnya tercap stempel universitas tanda saya sudah tamat belajar. Akhir-akhir ini, ketika saya mematut diri di depan cermin, saya tidak lagi melihat wajah unyu, polos, dan rapi seperti dalam foto hitam putih ijazah. Ada pria berpenampilan berantakan, berjanggut, dengan bibir sedikit hitam karena nikotin, dan rambut acak-acakan—tetapi tetap keren–di balik cermin. Hey, ke mana perginya wajah unyu yang sempat terabadikan dalam pas foto ijazah itu? Saya menghela napas.

Fine, saya beranjak tua. Kereta kehidupan yang saya tumpangi sepertinya semakin cepat berjalan.

Namun, saya boleh menghibur diri, kan? Maka saya ambil pepatah: age is only a number, saya renungkan dalam-dalam. Saat makan, minum, menjelang tidur, bahkas saat boker. Sialnya, kata-kata itu kurang sakti, sama seperti kata-kata motivasi Mario Teguh yang belepotan tinja. Tidak mempan! Saya masih tetap merasa tua.

Ya sudahlah. Just embrace it.

Desember 2017. Biasanya sih, di penghujung tahun, umum jika orang-orang membuat refleksi. Merenungkan kembali apa yang sudah dicapai atas resolusi yang dibuat di tahun sebelumnya.

Itu untuk orang yang membuat resolusi.

Kalau saya? *roling eyes

Saya tipe orang yang mengalir, tidak punya resolusi khusus. Hari berganti minggu, lalu berganti bulan, dan akhirnya tahun berganti. Selama itu, saya hanya menjalani dengan sungguh-sungguh apa yang saya suka.

Jika dilihat ke belakang, dua tahun ini saya menikmati dunia kepenulisan, khususnya fiksi. Saya ingat, Desember 2015, saya mengawali debut (debut! Yaelah…) sebagai penulis fiksi. Saya mencoba ikut lomba menulis dengan tema “Dear Mama” di Storial, sebuah portal daring untuk penulis fiksi. Waktu itu saya tidak sadar, betapa babak belurnya tulisan saya. Tanpa mengetahui kaidah menulis fiksi dengan baik, dengan percaya diri saya kirim tulisan saya. Menurut saya (waktu itu) tulisan saya sudah sangat bagus (pede dan enggak tahu malu beda tipis sih.).

Dan anehnya, saya jadi finalis–atau apa ya? Saya lupa, pokoknya karya saya dibukukan oleh nulisbuku.com. Senangnya bukan main! Sebulan, dua bulan, enam bulan lamanya saya belajar menulis beberapa cerita pendek, memperbanyak bacaan yang bagus. Saya mendapat bimbingan dari dia, yang tidak usah saya sebut namanya, yang tidak bosan-bosan membaca dan membedah tulisan saya. Dari dia, saya mendapat banyak ilmu dan tahu bagaimana menulis dengan baik. Hingga pada suatu saat saya memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya karena satu dan lain hal. Di situ, saya kehilangan nakhoda dalam menulis. Namun untungnya, setahun kemudian, saya dipertemukan dengan para penulis berbakat dengan idealisme tinggi, jebolan kemudian.com (salah satu portal menulis daring yang bagus untuk referensi), lalu kami pun membentuk komunitas menulis Dimensi Kata.

Tersebutlah Dan Iswanda, Zeth, Nara, Elqi, dan Kartika Demia. Di Dimensi Kata, saya kembali ditempa habis-habisan.  Jika biasanya tulisan saya dibedah dengan cara halus dan penuh kasih sayang oleh dia yang tidak tersebut namanya, anak-anak Dimensi Kata membuat babak-belur tulisan saya dengan cara yang sadis. Benar-benar mengasah mental dan hati. Mereka seperti penjunan dan saya sebagai tanah liat. Saya dibanting, dipukul, disiram air, dihancurkan hingga lembut dan hampir membuat saya menyerah–oke, kalau yang ini berlebihan. Namun, berkat mereka, saya menjadi penulis yang jauh lebih baik dan berkembang pesat. Usaha mereka tidak sia-sia. Tanah liat yang waktu itu merasa sudah bagus diubah menjadi periuk yang berguna dan lebih indah. Saya menemukan gaya menulis saya di Dimensi Kata dan saya pun bisa menulis dengan lebih, lebih, lebih baik lagi, meskipun belum sempurna.

I am just a lucky bastard, kalau saya boleh mengibaratkan diri saya sendiri.

Bagaimana tidak? Kualitas tulisan saya jauh jika dibandingkan dengan penulis-penulis yang sudah tenar, yang sudah menelurkan banyak buku dan mempunyai fan base yang cukup signifikan. Namun, dalam kurun waktu dua tahun, sebagai penulis mula, saya sudah punya nyali untuk mengikutkan tulisan saya dalam berbagai kompetisi. Bahkan, salah satu novel saya yang berjudul “Kembang Kawisari” dipinang oleh dua penerbit major dan dua penerbit indie dalam waktu bersamaan. Mungkin tahun 2018, novel “Kembang Kawisari” bisa nongol di Gramedia dan toko buku lainnya di seluruh Indonesia. Mohon doa restunya.

Dalam kurun waktu yang sama, bersama Shindy Farahdiba dan teman-teman lain, kami menerbitkan buku “Si Pagar dan Cerita Lainnya”. Beberapa saat kemudian, di ulang tahun pertama Dimensi Kata, kami menerbitkan buku “Pencuri Mimpi” di bawah panji Dimensi Kata. Yang katanya, sih, katanya—baru kemarin saya tahu—cerita saya yang berjudul “Karno dan Benderanya” paling disukai oleh moderator kemudian.com. Aha!

Dua cerita saya pun menjadi pemenang dalam kontes menulis yang diadakan oleh Storial. Tulisan saya yang berjudul “Kisah Genduk dan Gandes” menjadi pemenang dalam lomba menulis cerita anak, sedangkan tulisan saya yang berjudul “Lukisan Yang Tak Pernah Selesai” menjadi juara kedua dalam lomba menulis Storial dan Musikimia. Selain itu, novel saya yang berjudul “Melodi Musim Semi” saat ini juga sedang nangkring di webnovel Indonesia.

Di penghujung tahun 2017, saya membuat sebuah novel lagi untuk dilombakan dalam gelaran Bulan Nulis Novel Storial. Ini adalah pagelaran menulis tergila yang pernah saya ikuti. Bayangkan saja, dalam waktu satu bulan, novel harus diselesaikan dengan jumlah kata minimal 50.000. Jujur, mengikuti event ini sangat berat, tetapi saya suka tantangannya. Menjelang lima hari menuju dead line, akhirnya saya berhasil menaklukkan tantangan itu dengan jumlah kata sekitar 52.000. What an achievement!

Saat ini pun, saya sedang menunggu peluncuran buku antologi cerpen “30 Things I Want To Do”, karya kolaborasi saya bersama 19 penulis lain yang dilirik oleh penerbit major. Saya tidak menyangka, jika buah cinta saya akan lahir menjadi buku. Oh, dear! Seandainya saya bisa berbagi kebahagian bersama dia. 🙂

Waktu saya menulis tulisan ini, di sebelah saya ada kalender duduk yang menyisakan satu lembar bulan, setelah itu si kalender akan masuk ke tong sampah untuk diganti dengan kalender baru. Saya renungkan lagi, betapa yang punya hidup sudah membuat pemandangan di dalam gerbong kereta kehidupan yang sedang saya tumpangi sangat berwarna. Di dalamnya saya bertemu dengan banyak manusia baru; penulis, editor, haters (ya! saya punya haters sebagaimana selebritas pada umumnya #plak!). Selain itu, juga kisah cinta yang lumayan drama, bittersweet pertemanan, kebodohan yang membawa saya dalam masalah, kehilangan, dan banyak lagi.

Sekali lagi saya bingung, resolusi apa yang akan saya susun untuk tahun 2018? Saya tertawa dalam hati. Ah, biarlah yang punya resolusi tetap beresolusi, sedangkan saya? Saya akan tetap menjalani apa yang saya suka dengan sungguh-sungguh sambil berharap yang terbaik akan terjadi. Tentu saja, dengan mengucap syukur pada Gusti Yesus setiap hari.

I just believe, what is coming is better than what is gone.

Jadi, apa resolusi kalian di tahun 2018 kalau boleh tahu?

Selamat Natal dan Tahun Baru!