Hei… udah setahun lho setelah kejadian ini hehehheheh

Ulang tahun kali ini gw jalani dengan santai, nggak ada yang serius, nggak ada sesi melo yellow duduk menghadap jendela menatap hujan di luar sana. 

Syukur, itu tetap jadi panjatan yang utama pada Yang Kuasa… Bersyukur untuk pemeliharaanNya sampai saat ini, diberi kesehatan, diberi rejeki, diberi sukacita dan kebahagiaan melalui keluarga dan teman-teman yang dikirimNya buat saya; Dian, Dini, Ellen, Erning, Kenchoz, Ledy dengan segala kekonyolan dan keanehan mereka masing-masing. Tapi juga tak lupa bersyukur untuk hal-hal jelek yang terjadi selama setahun belakangan ini…. 

Sebenarnya gw nggak mengharapkan surprise atau apalah… tapi surprise ulangtahun kali ini datang juga… Jam 12 malam anak-anak ngumpul, memang sudah janjian dan jadwalnya biasanya ngumpul bareng sih kalo Sabtu.. dan puncak surprisenya adalah : Tante Elly, mamahnya Dian, diam-diam membuatkan aku nasi kuning! Dan diberikan pas jam 12 malam. Anak-anakk menyembunyikannya dibawah jok mobil.. ahahahah pantesan dari tadi ada alarm bunyi mulu… Ahak! jadi pengen mewek. Nasi kuningnya gak nangung-nanggung.. dihias jadi happy face bok! Love you tante Elly! *Ada yg mulai khawatir kehilangan ibunya karena tak pek*

Image

Ada juga pemberian-pemberian dari teman-teman sebagai kado ultah gw tahun ini. Gank jompo ngasih jam tangan swatch, gank Kopsimkin ngasih celana nike, dan ada beberapa hadiah lain yang gak boleh disebutkan disini hahahah… tapi tenang saja… traktirannya tetep yg murah kok.. gak bakalan ngalahin traktiran ultahnya Dini dan Kenchoz di Paragon Citilite… palingan gw traktir makan seafood di yellow tent.. itu pun bakal berdua, urunan sama Ellen hahahahah…

Image

Tadi pagi anakku datang, si Lorenzo, ngasih kartu Happy B’day dengan tulisan tangan anak usia 2 tahun yang susah dibaca… love that! Oh iya, satu lagi kado tulisan dari bebeb di blognya.. #menunggudengansabarkarenaentahkapanakandikerjakan

Image

Love you all! 

Advertisements

Generasi Dot Com

MInggu sore kemaren, di gereja tempat saya beribadah ada pembicara tamu dari Jakarta. Namanya Jesse Lantang, adik dari Billy Lantang. Dua-duanya adalah pengkotbah favorit saya. Dalam anekdot kotbahnya, Pdt. Jessy bercerita tentang generasi dot.com, yakni generasi gadget dan internet.

Jika datang ke restoran, bukan menu yang pertama kali diminta, tapi password wifi. Mau makanannya seenak apa pun jika restoran tersebut tidak dilengkapi free wifi mereka tidak akan segan untuk pindah ke tempat lain yang menu makanannya gak enak, demi wifi!

Mereka pasti tau spot-spot mana yang sinyalnya kuat. Yang internetnya kenceng dan stabil. Jaman generasi saya dulu, saya akan sangat kecewa kalo gak bisa nonton MTV di TV. Tetapi generasi dot.com akan ngamuk-ngamuk gak jelas jika gak ada sinyal atau wifi di rumah rusak.

Dan satu lagi, ini yang paling parah! Generasi dot.com mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Jika mereka janjian ketemu dan berkumpul, masing-masing akan sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Mereka nggak ngobrol dengan teman yang keberadaaannya jelas-jelas di depan mereka, tapi malah ngobrol dengan teman-teman maya di jejaring sosial yang nggak ada wujudnya. Bahkan ini terjadi sama pasangan, saat mereka berdua saja masing-masing sibuk dengan gadgetnya masing-masing… sad!

Image

Saya dan teman-teman se-gank saya “the famous gank jompo” – Saya, Dini, Dian, Ellen, Kenchoz, Ledy- juga seperti itu, dulu. Kami sering ignorant satu sama lain jika sedang berkumpul. Masing-masing sibuk dengan gadgetnya dan persentase ngobrol pun sangat sedikit. Tapi untung salah satu dari kami sadar, dan memberlakukan aturan NO GADGET WAKTU NGUMPUL. (Dian kali ya yang ngasih ide)

Jadi, saat kami kumpul, kami bersepakat untuk menaruh gadget di meja dengan posisi terbalik. Jadi siapa pun tidak akan tahu ada notifikasi gak penting dari whatsap, twitter, fb, path, dll selama kami berkumpul. Pertama sih agak menyiksa, tapi lama-lama kami terbiasa. Bahkan ada aturan  tambahan, siapa pun yang pegang gadget selama kumpul-kumpul akan disuruh bayarin makanan yang sudah dipesan. heheheh

Akibatnya luar biasa, kami punya banyak cerita yang sebelumnya “terlupakan” diceritakan ke gank. Mengingat-ingat kejadian-kejadian yang bego yang pernah terjadi dan mentertawakan bersama. Lalu jika cerita sudah habis, kami beralih ke kegiatan yang lebih berinteraksi satu sama lain.

Dini lagi keranjingan main twister.. akibatnya : tulang belulang kami pada mau copot rasanya. Kadang juga kami memainkan permainan dengan taruhan harga diri; The deathly ABC lima dasar.

Image

Kenapa kami namakan permainan dengan pertaruhan harga diri? Pada awalnya sih biasa saja, permainan ABC neybutin nama kota, nama artis, dsb yg standard. Tapi beberapa waktu yang lalu, permainan ini menjadi permainan yang menegangkan karena yang topiknya adalah bahasa Inggris. Ada satu anggota baru yang ditasbihkan menjadi gank jompo, seorang anak daerah.. Nggak jago-jago amat ilmu bahasa Inggrisnya, tapi vocab bahasa Inggrisnya lumayan banyak karena dia sering ngapalin lagu bahasa Inggris.. ini yang membuatnya jarang kalah dalam permainan ini dan kalau pun kalah bisa dimaklumi karena ilmunya yang terbatas.. hahahah peace ya Choz… . Dan kami, sisanya adalah guru di sekolah internasional dan bankir-bankir yang sering berhubungan dengan bule. Inilah yang jadi dilema… Kalo menang udah wajar soalnya memang background dan lingkungan kami mendukung, tapi kalau kalah? Memalukan… malu pada anak daerah… 

Balik lagi ke generasi dot.com, generasi ini akan kehilangan kemampuan bersosialisasi, degradasi ineterpersonal dan kemampuan komunikasi verbal. Semuanya dilakukan dengan gadget dan melalui internet. Banyak faktor yang hilang jika terus menerus melakukannya.

Pertama, emosi tidak dilibatkan secara langsung. Bisa jadi emoticon tertawa terbahak-bahak ditulis dengan wajah yang datar tanpa ekspresi. Rasa nyaman, dan pelepasan hormon saat tertawa bahagia jarang terjadi. Mereka juga akan menjadi kurang berempati, karena mereka tidak bisa melihat secara nyata apa yang sedang terjadi.

Kedua, mereka akan menjadi pribadi yang ignorant. Seperti yang ada di atas tadi, berapa banyak kita lihat orang-orang berkumpul dan di tempat makan di mall, tapi masing-masing sibuk dengan gadget mereka. Mereka tidak menghiraukan teman nyata yang ada bersama dengan mereka, lalu prioritas mereka berubah. gadget dan ineternet nomer satu, teman-teman peduli setan…

Ketiga, tidak ada komunikasi verbal yang menyebabkan kemampuan berbicara mereka sangat berkurang. Bisa saya bayangkan nanti tidak akan ada pidato, debat atau apa pun yang mengedepankan kemampuan komuniasi verbal di masa datang, hanya akan ada komunikasi pasif melalui postingan mereka di media jejaring sosial.

Jadi, mau kita apakan generasi ini? Ayo kita kembalikan ketergantungan generasi ini pada gadget dan internet pada ketergantungan sosial secara nyata. Perbanyak komunikasi verbal dan aktifitas yang mengedepankan interaksi bersama manusia lain secara langsung. Gunakan emosi, kontak fisik (tatapan mata, sentuhan, pelukan, ciuman, cubitan) agar otak terangsang untuk mengembangkan sisi sosial individunya.

Image

 

 

*photos are taken from the open source in the internet, except the second picture

Capeknya Saya Belakangan Ini

Saya mau jeda sebentar nulis jurnal perjalanan, nulis fiksi yang gak kelar-kelar, dan juga nulis artikel. Saya mau nyinyir dulu di sini tentang capeknya saya belakangan ini. Jadi skip aja kalo gak mau baca curhatan saya yaaa… Semuanya ini subyektif dari kacamata saya yg silinder banyak. :). Saya nggak butuh komentar yg judgmental 🙂

Di Kantor.

Saya dalam puncak sebelnya pada atasan saya. Saya dan teman-teman kantor menyebutnya Obelix karena bentuk fisiknya serupa dengan si bos ini. Orangnya ceriwis, banyak omong, susah fokus, ceria terus bawaanya.. pada dasarnya orang ini enak dijadikan teman, tapi tidak sebagai bos.

Sebagai bos, dia itu sangat unorganized, tidak multitasking, terlalu ikut campur dengan pengetahuan seadanya, terlalu cerewet pada hal-hal minor yang seharusnya bisa dikerjakan anak buahnya independently, suka coba-coba, pelupa dan sangat rasialis.

Di kantor, Bule gembrot itu makin menjadi-jadi mempraktekkan standar ganda di kantor. Memang saya paham, orang rantau itu ikatannya begitu kuat, dan memang harus kuat biar bisa bertahan sebagai minoritas. Tapi kalau sudah melanggar lini profesionalisme, itu namanya urang ajar. Jangan hanya karena teman sesama bulenya keberatan dengan prosedur A, maka dengan semena-mena si Gembrot ini merubah prosedur. Jika gagal, maka secara diam-diam dia akan memberikan excuse yang sangat bertentangan dengan SOP perusahaan.

Saya beberapa kali kena getahnya. Kalo masih bisa ditoleransi, saya masih menerima dan melakukan perintahnya (nasib kacung) tapi kalo udah gak masuk akal dan melanggar prinsip perusahaan saya otomatis akan menolak. Saya pernah sekali disuruh “ngakali” untuk bikin warehouse sendiri, padahal jelas-jelas di management disebutkan hanya ada satu central warehouse untuk semua unit… Gara-garanya teman bulenya butuh barang cepat dan nggak mau pake prosedur standar. Jelas lah saya nggak mau. Dalam hati saya bilang : nah elu nggak diaudit, gw yang diaudit. Ngehek!

Selain sama bos saya, saya juga sebel sama salah satu expat di kantor. Kalo sama ini sih saya masih bisa berantem, secara secara struktural dia bukan apa-apa saya – tapi ya sekali lagi dia berteman baik sama Obelix, si bule gembrot bos saya. Ngefek juga sih jadinya. Jadi untuk tiga tahun ke depan, saya sudah relakan nilai appraisal saya.. saya nggak akan berharap dapat nilai bagus dengan pertimbangan sikap beringas saya pada bos dan teman-teman bulenya.

Di Rumah.

Saya lagi sebel sama pembantu saya. Memang saya salah jika mengharapkan ekspektasi yang tinggi pada seorang PRT, seperti ekspektasi saya pada teman kantor atau teman main saya. Tapi yaaaaaa… tanggungjawab dikit bisa kan?

Udah berbulan-bulan bedcover saya dilaundrykan ke luar karena alasan waktu itu dia sakit dan nggak bisa nyuci. Dan beberapa waktu yang lalu saya nyuruh dia laundry jaket pinjaman dari teman saya karena jaket itu tebal dan saya kasihan kalo dia nyuci itu. Seminggu lebih kok jaketnya belum balik-balik, dan setiap kali saya tanyakan dia selalu menjawab belum selesai.

Kemaren sore saya tanya lagi ke dia, dan seperti biasa dengan cengengesan dia bilang belum. Ih, rasanya gemes banget… Dipikirnya saya bakal terima lagi jawaban seperti itu. Saya cerca dia dengan pertanyaan-pertanyaan sampai dia gelagapan. Saya bikin dia mikir apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Saya bikin dia berpikir bukan sebagai pembantu lagi, tapi seperti mahasiswa yang sedang menganalisis masalah. Saya tinggalkan dia untuk menyelesaikan masalah ini sendiri. Kapok! Endingnya, saya liat dia pura-pura pincang mondar-mandir di depan kamar saya. 

Dalam Pertemanan

Ah kalo ini sih udah ketahuan siapa belangnya, siapa yang busuk. Gak usah dibahas, bikin dia GR dan senang diomong-omongin sama kami. Saya cuman mau titip pesen, kalu kamu baca blog ini. Bahagia itu jangan tergantung orang lain. Jangan bikin drama, biar pun kamu ratunya drama karena ujung-ujungnya itu bakalan membuka kejelekanmu sendiri.