LARI!

Salah satu hal yang bisa menjagaku tetap waras selain traveling dan ngopi  adalah lari, entah itu lari keliling lapangan di pagi atau sore hari, lari dari masa lalu, atau lari dikejar banci. Ah, sudahlah…

Gw aktif lari sejak kira-kira dua tahun yang lalu. Kala itu perut dan pantat udah balapan, muka udah bantat, dan celana udah pada mau robek… Bingung lah aku, secara kontrak dengan perusahaan iklan masih 2 tahun lagi… oke, iklan bedak doris.. puas??? Gw tanya teman-teman gimana caranya turun badan tanpa menyiksa badan? Nah, temen gw, yang namanya Dian Anggraini menyarankan untuk joging. Dia bilang sodaranya yang anggota TNI AL cuman joging aja, dan bisa dapat perut six pack dan badan bagus. Apaaaaah? Begitu mendengar perut sixpacks mata gw langsung berkunang-kunang, fly membayangkan Cheryl Cole ngelandotin gw.

Okelah, gw semangat demi Cheryl Cole! 

Mulailah gw hunting sepatu joging, dapat sepatu unyu lunarlon warna biru. Unyunya, sepatu ini bisa dipasangi sensor yang bisa menghitung jarak, pace, dan juga ada yang nyorakin -biar pun virtual – setiap kali kita selesai latihan. Apalagi setelah disinkronkan dengan nike.com catatan setiap latihan bisa tersimpan dengan baik. Apalagi ada chalenges jarak terjauh, lari tercepat, dan juga kompetisi dengan pelari2 lain, terjauh minggu ini, tercepat minggu ini, dan terkece minggu ini.. #serius.

Sebulan pertama rasanya seperti maling ayam yang ketangkap dan digebukin orang sekampung. Kaki rasanya mau patah dan pegal-pegal. Jarak terjauh hanya 1.8 km dalam waktu 45 menit… 1 menit lari, 3 menit jalan… rasanya pengen banget berhenti… tapi demi Cheryl Cole… gw terusin lari…

Sesudah hampir latihan selama 3 bulan, gw ketemu lagi sama teman-teman yang selama latihan tidak pernah gw temuin… Dan.. kejadian mengejutkan terjadi.. waktu mereka ngeliat gw, mereka langsung teriak Siwooooon!!! Eh, gak ding.. Jooooo!!! lu kurusan sekarang ya.. ya ampuuuuun.. lu diet apa? Tambah cakep…. 

Ahahahah, reaksi temen2 gw ini membuat gw sadar kalo latihan selama ini membuahkan hasil: muka gw jadi mirip Siwon.. eh, itu sih dari dulu kali.. tapi yg pasti gw keliatan jauuuuh lebih kurus. Sesampai di rumah, gw mulai make-make lagi celana kain dan baju gw, dan ternyata.. emang bener.. celana gw melorot kalo ga dipakein sabuk. Tapi.. tapi.. gw nggak suka sama kurusnya badan gw, memang perut mengempis drastis.. tapi pantat juga ikut-ikutan mengempis, lingkar dada juga mengempis.. kecuali bagian kaki dan… si Otong.. #eh.

Akhirnya gw mutusin untuk ikut bergabung di tempat… *masyaalah malu gw nyebutnya… tempat fitnes di salah satu club house hotel dekat tempat tiinggalku #asu. Ya kan seperti di tempat lain, ada pelatih yang nawarin obat-obat buat gedein otot. Gw males, gw gak pengen berotot, gw cuman pengen tone badan gw keluar… Dan… jadilah saya, setelah setahun latihan… nomor celana turun 2 nomor dengan tone badan yang keliatan bagus… jadi lebih pede kalo traveling ke pantai dan bertelanjang dada.. #dicolektante.

Gw masih rutin lari sampai hari ini.. dan menjaga tone badan dengan latihan barbel di rumah. *gak punya duit buat bayar club fitnes. Jadi buat kalian yang pengen turun berat badan, lari adalah olahraga paling tepat untuk menurunkan berat badan.. tapi kalo efek lain semisal ada cewek yang nggelandot karena perut sixpack kita akibat rajin lari.. jangan percaya itu cuman hoax.

ImageImage

 

Advertisements

Be A Wise Coffee Lover

Semasa saya kecil, ibu saya kerap mengrim saya ke salah satu tempat saudaranya yang berdiam di sebuah kaki gunung di wilayah Wliingi, kabupaten Blitar. Bibi saya bekerja pada sebuah perkebunan kopi swasta yang cukup besar. Perkebunan ini cukup mandiri, mulai dari pembibitan hingga kopi siap kemas dikelola sendiri. Saya sering ikut bibi saya keluyuran di hutan kopi, memetik biji kopi atau hanya sekedar menemaninya memeriksa “wilayah” petiknya.

Setiap kali saya dikirim kesana, saya selalu tertantang… petualangan apa lagi yang akan saya alami? Begitu pikir saya. Suatu kali saat saya ikut bibi saya memeriksa wilayah petiknya, saya melihat seekor musang yang mengejar anak ayam hutan. Tentu saja si musang menang. Tanpa ba bi bu, si musang mencengkeram salah satu anak ayam dan membawanya pergi. Bibi saya terus berjalan tapi kali ini dia celingak celinguk sambil sesekali berhenti dan mencari sesuatu di permukaan tanah. Rupanya dia mencari kotoran luwak/ musang. Bibi saya bilang kopi ada pada kotoran luwak bila diolah adalah kopi terbaik.

Image

Begitu beranjak dewasa, saya menjadi pecandu kopi. Saya pernah mencicipi berbagai kopi dari daerah nusantara dan dunia, tentu saja secara gratis lewat program edukasi kopi yang diadakan oleh Starbucks. Pada suatu kali saya dan teman-teman saya berkunjung ke sebuah perkebunan kopi di daerah Kalibaru, Jember. Di perkebunan PTPN XII ini saya mencoba kopi lokal dan kopi luwak yang saat itu menjadi trend. Kopi luwak harganya sangat mahal, bisa sampai 3 kali lipat harga kopi biasa. Rasanya lebih asam dari kopi rata-rata, dan aromanya lebih keluar.

Saya jadi ingat bibi saya, yang suka memunguti kotoran luwak di hutan kopi. Saya mencoba bertanya pada petugas perkebunan, tentang cara mendapatkan kotoran luwak ini, dan saya dapati hal yang mengejutkan. Di tempat ini, kotoran luwak tidak dikumpulkan dari alam tapi mereka “memproduksi”nya. Mereka menangkap luwak di alam liar lalu menempatkannya dalam sebuah kandang. 

Image

Di dalam kandang itu ada sebuah wadah lebar berisi cherry kopi yang menjadi makanan luwak. Luwak adalah hewan yang sangat selektif. Dia hanya memakan biji kopi terbaik yang disediakan. Di dalam perut luwak, biji-biji kopi ini mengalami reaksi kimia dengan enzim pencernaan luwak dan proses fermentasi. Itulah mengapa biji kopi yang keluar bersama kotoran luwak menjadi sangat istimewa; biji kopi terbaik dan proses kimiawi dalam tubuh luwak. 

Tapi penjelasan berikutnya sangat menyedihkan. Luwak yang ditangkap rata-rata hanya akan bertahan selama 2-3 bulan paling lama. Setelah itu mereka mati. Kenapa demikian? Petugas perkebunan sebenarnya sadar bahwa domestikasi luwak tidaklah mudah dan biayanya sangat mahal. Luwak adalah omnivora, dia tidak melulu makan kopi. Di alam liar, luwak juga memakan binatang lain seperti serangga, ular kecil, burung, dan ayam seperti yang saya lihat waktu kecil di tempat bibi saya. Meskipun sudah diberikan makanan selingan berupa daging ayam dan susu namun tentu saja diet di alam liar lebih baik. Belum lagi kondisi “mental” si luwak yang gampang stress. Kedua hal ini yang menyebabkan tingginya angka kematian luwak yang dikandangkan.

Sebagai penggemar kopi, saya saat ini sangat menghindari minum kopi luwak. Bukan karena lagi ngetrend dibicarakan.. persetan kalo saya peduli akuisisi kopi luwak oleh negara lain.. tapi saya melakukan ini atas alasan lingkungan. Saya tidak mau lagi melihat luwak sebagai korban komoditi. Saya tidak mau melihat luwak bernasib sial, dipenjara dan dipekerjakan sampai mati. Saya mau berbuat nyata mencintai lingkungan, tidak dengan bergabung menjadi volunteer organisasi lingungan yang penuh topeng tapi dengan cara stop minum kopi luwak. Semoga menginspirasi.

Image

 

*foto nyomot di internet

 

Bagiku ini belum usai…

Buat lelaki, ditolak itu lebih terhormat daripada memendam rasa yang tak terungkap.

Image

Sebenarnya sebelum aku ungkapkan, kamu pasti bisa membaca gelagatku. Dan aku juga bisa membaca keputusan apa yang akan aku terima jika aku ungkapkan perasaan ini. Diungkapkan atau tak diungkapkan.. toh keputusannya bakal sama. Tapi demi memenuhi ego lelakiku, aku utarakan juga.

Buatmu ini sudah berakhir… tapi tidak buatku.. Aku akan melangkah ke babak berikutnya. Kamu boleh melukaiku semaumu… tapi aku tidak akan berhenti.

Aku sadar konsekuensi yang akan kuhadapi… separah-parahnya paling juga terbangun di siang hari bolong, karena memimpikanmu di sela tidur siang yang hanya sepuluh menit. Lalu kecewa karena itu hanya mimpi.

Laki-laki itu hidup atas apa yang dipercayainya, Sayangku…. Dan aku percaya cintamu, -suatu saat- akan jadi milikku.. Dan aku percaya, bukankah air itu lebih besar kuasanya atas batu? Aku akan menunggu… menunggu atas jarak dan waktu kita yang memisah, karena yang aku punya cuma cinta dan waktu.

Ini belum usai peri cintaku….

Catatan lelaki patah hati, November 2013.