The Root of Evil

Not having money is the root of all evil!

Sebelum saya menulis ini, saya ingin memberitahukan bahwa tulisan saya ini tidak bertendensi apa-apa. Tidak bermaksud menjelekkan agama atau pemimpin tempat ibadah tertentu. Ini murni opini saya setelah membaca prahara yang terjadi di gereja saya, tempat di mana saya bertahun-tahun beribadah.

Saya sebenarnya sudah mendengar selentingan miring tentang kejadian di gereja tempat saya beribadah ini. Sebagai jemaat biasa, saya tidak ambil pusing. Tujuan saya ke gereja untuk menyembah Tuhan, bukan untuk mendengar gosip. Pihak gereja pun kesannya menutup-nutupi apa yang terjadi. Jadi kloplah, antara saya sebagai jemaat yang cuek dan gereja yang tertutup.

Pertama kali keanehan terjadi di gereja ini ketika menantu Sang Gembala Sidang, seorang pendeta berbakat tiba-tiba mendirikan gereja sendiri. Saya bertanya dalam hati, kenapa? Kenapa harus ada gereja baru? Kenapa tidak melayani bersama-sama di gereja yang sama? Toh mereka sebuah keluarga.

Berikutnya muncul selentingan-selentingan negatif yang rasanya tidak patut terjadi di dunia pelayanan. Saya sekali lagi tidak ambil peduli, karena prinsip saya, saya cuman numpang menyembah Tuhan di tempat itu, bukan yang lain.

Puncaknya adalah ketika saya pulang kantor kemarin. Teman saya bilang ada demo menentang eksekusi gereja tempat saya beribadah. Saya kemudian browsing berita itu dan ternyata benar adanya. Saya malah menemukan tautan-tautan berita terkait yang isinya membuat saya mau muntah. Benar-benar tidak patut dilakukan sebagi orang-orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan.

Kali ini saya benar-benar tidak bisa menahan diri untuk beropini. Dari yang saya ketahui, ada benang merah dari perkara ini. Benar, benang merah itu adalah uang.

Gereja tempat saya beribadah diklaim sebagai gereja terbesar di Indonesia. Sebagai gereja penganut persepuluhan, bisa dibayangkan berapa rupiah uang jemaat yang disetor pada gereja yang mempunyai 35.000 jemaat ini tiap bulannya? Katakan saja jemaatnya bergaji UMR, yang di tahun 2017 ini nominalnya Rp. 3 juta. Nilainya cukup fantastis.

Belum lagi jika ada persembahan khusus, misalnya ada proyek pembangunan gereja baru di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Sang Gembala Sidang akan meminta jemaat untuk membantu pendanaan. Dan cara yang digunakan pun fantastis.

Pernah suatu kali di dalam ibadah, si pendeta mulai berbahasa roh lalu meniup-niup mikropon menirukan suara angin ribut, lalu dengan lantang berkata : Saya rasakan hadirat Tuhan! Setelah itu, ia membagi-bagikan amplop dan menantang jemaat untuk memberikan uang untuk proyek tersebut.

Dalam keluguan saya, saya mulai ragu. Bukankan hadirat Tuhan itu diimani, bukan dirasakan? Memang saat itu suara angin ribut dari mulut Si Pendeta sangat meyakinkan, ditambah suara drum yang mengintimidasi iman kerdil saya, membuat saya hampir saja maju dan memberikan seuruh isi dompet saya. Namun, untungnya tidak jadi karena hati kecil saya tidak merasa sejahtera.

Untuk apa mendirikan bangunan megah di kota besar, sedangkan gereja-gereja kecil di pedalaman keadaannya memprihatinkan. Kursi-kursinya masih reot, lantai juga ada yang masih tanah. Gembala Sidang di gereja terpencil itu kadang masih sulit mencari makan. Harus menjadi petani atau nelayan di hari-hari biasa lalu menjadi pendeta di hari Minggu. Dalam Alkitab tertulis kira-kira seperti ini: bawalah persepuluhan agar ada makanan di rumahKu. Saya rasa “rumahKu” di sini (jika memang merujuk pada tempat ibadah) adalah gereja-gereja di tempat terpencil seperti ini, bukan gereja di kota besar yang sudah berlebihan.

Tuhan Yesus tidak butuh dikenal dunia karena bangunan gereja yang megah atau tinggi menjulang. Saya rasa Tuhan Yesus ingin dikenal karena perbuatan orang-orang Kristen yang terpuji dan benar, yang mencerminkan pribadiNya.

Uang tidak lagi dijadikan sarana untuk membiayai operasional gereja, kalaupun iya motivasinya sudah lain: memperbesar bangunan dan cabang gereja agar jumlah jemaatnya berlipat-lipat banyaknya. Itu artinya, semakin banyak persepuluhan yang masuk.

Jika gereja tersebut berdalih : agar banyak jiwa yang diselamatkan. Apa benar? Coba tengok catatan sipil, berapa banyak orang yang berpindah ke agama Kristen dan memenuhi bangunan megah itu? Nyatanya, jumlah umat kristen ya segitu-segitu aja. Yang terjadi justru perampokan jemaat gereja lain; jemaat gereja A pindah ke gereja B dengan iming-iming suasana ibadah yang lebih nyaman : pendingin ruangan, hall yang megah, tata suara dan cahaya yang bagus, LCD modern dan pendeta yang pandai bercerita.

Yang lebih menyedihkan, banyak gereja dipakai untuk mencari kekayaan dengan sistem persepuluhan yang tidak transparan. Bagaimana uang jemaat itu dikelola tidak pernah dilaporkan secara terbuka pada jemaat. Pendeta bermobil mewah, sedangkan jemaatnya hanya naik motor. Gengsi? Masa hamba Tuhan melarat, apa kata dunia? Sekali lagi kekristenan direndahkan dengan penilaian materi, bukan iman. Pendeta lebih malu dinilai dunia daripada dinilai oleh Tuhan.

Kasusnya akan lebih mengerikan jika orang-orang di dalam gereja sudah jatuh cinta pada uang, melebihi cintanya pada Tuhan. Gereja akan menjadi ladang bisnis. Pendeta akan mengklaim bangunan beserta asetnya adalah miliknya, lalu mewariskannya pada keturunannya.

Sangat manusiawi memang, jika diingat betapa beratnya pekerjaan pendeta-pendeta ini merintis gereja pada mulanya dengan jemaat yang dulu hanya segelintir, juga tekanan-tekanan dari pihak yang tidak suka dengan berdirinya gereja tersebut. Mereka tentu tidak rela jika gereja yang sudah besar ini jatuh ke tangan orang lain, ke tangan sinode/ organisasi gereja yang tidak ada sangkut pautnya dengan kesengsaraan perintisan Sang Pendeta. Jika masa sang ‘pemilik gereja’ untuk ‘kembali ke asalnya’ sudah dekat, tidak heran jika sang pendeta lalu mendirikan sinode sendiri, melepaskan diri dari organisasi besar gereja demi lancarnya suksesi tahta pada anak keturunannya.

Sekali lagi pendeta-pendeta itu berdalih : Surga menganut sistem kerajaan, maka gereja pun seharusnya demikian. Merekal lupa, Pendeta bukanlah Tuhan dan gereja bukanlah surga. Pendeta hanya pengelola gereja, bukan pemilik gereja.

Sungguh ironis memang, gereja protestan lahir sebagai bentuk ketidakpuasan pada ajaran katolik yang mereka anggap malpraktik kekristenan, tetapi sekarang gereja protestan malah jatuh dalam malpraktik itu sendiri.

Advertisements

Afro Jo

IMG_0428

Berapa kali kamu melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya lalu spontan melakukannya tanpa berpikir panjang? Padahal efek yang kamu lakukan tidak bisa diubah, atau membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan ke keadaan semula.

Seingat saya, dua kali saya melakukannya.

Pertama saat saya melakukan perjalanan kontemplasi ke Munduk, Bali. Saat itu saya ingin lepas dari kehidupan kota dan hidup sebagai orang Bali. Seperti tulisan saya yang lalu, saya ikut menanam padi di sawah dari pagi hingga sore. Selama itu pula saya, pengarap sawah dan anaknya memakan nasi kiriman yang dikirim istri penggarap sawah, persis seperti cerita Pak Tani yang sering saya dengar

Saat ada warga yang berkesusahan, saya pun ikut serta melayat. Dan anehnya, tidak ada satu pun yang mengenali saya sebagai pendatang. Dikiranya saya adalah salah satu teman dari orang yang meninggal tersebut karena (mungkin) saya berpenampilan seperti pemuda desa pada umumnya yang emmakai udeng dan kain panjang.

Dan hal yang paling gila adalah saya mentato tubuh saya dengan gambar salib berornamen ragam hias bali. Saat saya di sana, saya banyak bergaul dengan pemuda setempat yang rata-rata bertato. Ketika saya bertanya tentang tato-tato di tubuh mereka, dengan berkelakar mereka berkata, “Tato itu semacam KTP bagi penduduk Munduk. Coba Bli Jo lihat, pemuda-pemuda yang sudah akil balik pasti bertato.”

Dan dengan spontan, saya pun minta ditato.

Hal spontan kedua baru saja saya lakukan hari ini. Saya mengubah gaya rambut saya menjadi afro. Ya, betul. Edi Brokoli, Lenny Kravitz, Lauryn Hill, Macy Gray, Wanda Sykes, you name it.

Gara-garanya, saya malas potong rambut dan rambut saya sudah terlalu panjang jika dengan model saya biasanya. Kemarin adalah hari terakhir liburan panjang – (saya bekerja di sebuah sekolah internasional di Surabaya) dan saya kebingungan harus merapikan diri. Akhirnya di saat-saat genting itu saya lihat poster bergambar model afro di kamar. Dan akhirnya saya minta teman saya mengantarkan saya ke salon dan membuat rambut saya seperti poster itu.

Hari ini adalah hari pertama semuanya bertemu dalam satu atap – 200 orang dan saya tampil dengan rambut afro di hadapan mereka. Bodohnya, saya nggak sadar di situ juga ada GM dan EP, bos besar. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Saya datangi mereka dan bersalaman. Kena SP kena SP aja, saya nggak ambil pusing.

Namun, ternyata apa yang mereka ajarkan – tetang open minded dan accept differences – bukan cuman teori. Mereka tidak terusik sama sekali dengan penampilan saya dengan keafroan saya, padahal … kolega-kolega saya merundung dengan sebutan yang aneh-aneh. Tapi, nggak ngefek lah kalo perundungan itu terjadi pada saya, saya justru membuatnya jadi lelucon.

Nanti saya post rambut afro saya. 🙂