Semoga Penguasa Pendidikan Bertobat

sungai-ciberang-banten

Semasa sekolah kita dicekoki dengan doktrin kejayaan dan kebanggaan kita pada tanah air. Betapa kayanya negara kita, betapa strategis letaknya karena diapit dua samudra dan dua benua, betapa kandungan mineralnya tak akan habis sampai tujuh turunan, betapa hasil lautnya kaya dan melimpah.

Saya sempat terlena selama 12 + 5 tahun dengan doktrin palsu itu. Sampai saya sadar, negara ini tidak kaya. Bagaimana mungkin negara kaya tapi rakyatnya cari makan dengan menjadi babu di negara lain.

Katanya, negara kita strategis karena diapit 2 samudera dan 2 benua. Strategis untuk siapa? Ya tentu saja untuk Australia, China dan negara di sekitarnya. Strategis untuk jalur transportasi dagang mereka ke Singapura yang menjadi otak distribusi komoditi di Asean. Sampai sekarang saya nggak paham, apa maksudnya dengan mencekoki dengan doktrin semacam ini. Saya tidak melihat manfaat untuk negara dengan “letak strategis” ini sampai sekarang. Selama saya belajar, saya tidak pernah distimulasi untuk mempunyai visi mengelola “letak strategis”. Saya tidak pernah diberi persoalan yang nyata, mengamati, sehingga saya punya konsep yang jelas tentang letak strategis itu.

Katanya juga, kandungan mineralnya tak akan habis sampai tujuh turunan. Mungkin yang dimaksud adalah tujuh turunan penduduk Amerika, yang melubangi Freeport sedemikian rupa, selama 49 tahun. Tak hanya Freeport, namun ada juga Shells, Newmont, Petronas. Saya (dan teman-teman seangkatan saya) tidak pernah diajari cara mengelola mineral-mineral itu, tetapi malah didorong untuk punya cita-cita menjadi karyawan perusahaan besar itu – menjadi kacung.

Hasil lautnya berlimpah! Yang ini benar, tapi seringkali dicuri negara lain dengan alat yang lebih canggih. 1 ikan berhasil ditangkap nelayan Indonesia, 1000 ikan ditangkap nelayan asing, kasarannya seperti itu. Saya, lebih sering makan KFC daripada pepes tongkol. Bukan karena kekurangan ikan laut, tapi ikan itu tidak populer dan dipandang rendah. Mengenaskan. Saya tidak pernah diajari untuk menghargai ikan teri dan ebi yang ternyata menjadi incaran nelayan asing di laut Indonesia.

Saya nggak akan sok jadi hakim, menentukan siapa yang salah siapa yang benar. Tapi saya melihat korelasi antara materi pendidikan dan cara pendidikan di Indonesia dengan kejadian dan perilaku anak-anak bangsa masa kini.

Sabtu lalu saya menggantikan teman yang sakit untuk memberi workshop pada guru-guru  luar kota sebagai program CSR kami. Saya sebenarnya ragu, tapi berhubung materinya saya kuasai dan mendapat partner workshop yang pinter (ngedabrus) akhirnya saya mau menggantikan teman saya.

Saya mendapatkan banyak peserta workshop adalah produk pendidikan lama, sama seperti saya; dengan metode pencekokan dan doktrinasi yang…. (saya pingin misuh). Seperti produk pendidikan kuno, mereka terbiasa dijejali dengan materi tanpa diberi kesempatan untuk berpikir kritis, tanpa kemampuan menganalisa dan menggunakan logika, alih-alih membuat solusi.

Mereka menuntut contoh bila dihadapkan pada sebuah persoalan, lalu menunggu dengan sabar untuk dikoreksi; pekerjaannya benar atau salah. Saya dan teman saya terkejut saat menghadapi kegaguan peserta saat kami mengajarkan sebuah konsep dengan cara yang berbeda; tidak dengan gaya pencekokan definisi, tapi sebaliknya, kami ajak mereka aktif mencari tahu, menganalisa, sintesa, menghadapi persoalan, sehingga mereka menemukan definisi itu sendiri.

Kami menemukan beberapa pola yang sama dari produk pendidikan Indonesia jaman mereka. Menunggu, pasif, penakut (takut salah/ takut terintimidasi/ malu), tidak mau mencoba, malas, sudah merasa tahu semuanya, gampang tersinggung, tidak mudah menerima hal yang berbeda.

Saya sempat ngeluh dengan partner saya, apa mereka datang kemari -sekitar 600 orang lebih- atas dasar keinginan mereka sendiri? Atau ini hanya sekedar formalitas biar mereka dapat sertifikat dan tunjangan “sertifikasi” tetap mengucur. Jika benar sperti itu, apa kabar anak didik mereka ya? Kasihan harus merasakan kontinuitas pendidikan bobrok ini.

Tidak semua peserta workshop seperti itu, ada beberapa yang sangat antusias dan ingin tahu meskipun hanya sekian persen. Tapi ya itu lagi, saat sesi “dari hati ke hati” mereka bilang tidak bisa menerapkan konsep yang sudah kami ajarkan. Alasannya? TARGET KURIKULUM. Jika sudah begini, masa bodoh apakah anak didik menerima konsep yang benar tentang materi pelajaran, yang penting semua materi sudah diberikan sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan oleh penguasa. Cara yang efisien untuk mengejar target? tentu saja metode CEKOKIN AJA.

Saya hanya bisa mengelus dada, prihatin, saya tidak bisa merubah itu. Itu terlalu besar. Tapi saya punya janji untuk mengedukasi orang-orang terdekat saya, dalam skala kecil. Memang tidak berefek besar, tapi at least saya sudah melakukan sesuatu dan tidak dikejar rasa bersalah. Apa jadinya anak-anak dalam gambar di atas, yang berjuang hidup mati untuk bersekolah namun yang didapatnya sekedar pengetahuan tanpa konsep dan skill sebagai manusia yang bermartabat, well, di negerinya sendiri.

Advertisements

Suka-Suka Storial

55lLhmU-

Entah mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang banyak maunya seperti saya. Ada sekian banyak daftar yang harus saya punyai atau lakukan dari saya kecil. Entah latah atau bagaimana, saya selalu punya banyak hal yang berbeda untuk dilakukan. Saya mengagumi orang yang berprestasi dan saya ingin seperti mereka, entah bisa entah tidak. Saya pikir hasil adalah perkara yang lain, yang penting saya bisa ‘mencicipi’ hidup ala idola saya.

Dimulai saat saya lihat kompetisi nyanyi di televisi. Saya pikir keren sekali jika bisa bernyanyi dan jadi juara. Saya mulai ikut kompetisi; tingkat RT. Waktu itu saya masih belum akil, jadi suara saya masih okelah buat tingkat RT. Saya menang, hadiah berjibun berupa alat tulis dan buku. Saya berhenti nyanyi saat suara saya pecah, rasanya malu kalau dengar suara sendiri.

Lalu saya kesengsem sama om Bubby Chen. Bukan karena saya suka genre musiknya, tapi lebih pada kepiawaiannya main piano. Sial aja om Bubby punya fans abal-abal seperti saya, pasalnya saya nggak ngerti jazz sama sekali. Saya nabung untuk beli yamaha PSR yang suaranya out of tune, tapi lumayanlah buat berlatih. Saya pernah les piano sebentar, tapi nggak tahan sama guru piano yang jahatnya melebih ibu saya. Dengan latihan tiap hari, akhirnya saya bisa main alat musik itu walapun harus pake partiture kemana-mana. Bahkan, sekarang saya punya grup band yang sudah berusia 6 tahunan. Namanya apa? Moron Five. Terdiri dari 3 lelaki dan 2 perempuan imbisil.

Saat kuliah, saya punya sahabat karib lain jurusan. Saya di sastra Inggris, dia di Desain Grafis. Saya sering diajak melihat pameran, salah satunya fotografi. Saya suka dengan foto-foto lansekap karya Denik G. Sukarya. Pelan-pelan saya belajar foto dari karib saya dan setelah piawai, saya membeli sebuah kamera DSLR untuk saya sendiri dan mulai berkarya. Prestasi saya sejauh ini, karya saya dipamerkan di Konsulat Jenderal Indonesia untuk Jerman.

Sewaktu duduk di sekolah dasar, saya juga mengajukan diri untuk ikut Porseni dengan katagori menulis. Awalnya mulanya seperti ini.

Saya tergolong siswa yang rajin ke perpustakaan, bukan untuk mencari resources, tapi untuk membaca majalah Kawanku seri terbaru langganan sekolah. Di situ ada cerpen kiriman pembaca, dan saya sangat menikmatinya. Di rumah pun, tak jarang saya mencuri baca majalah ibu saya, membaca tulisan “Oh, Mama, Oh, Papa” yang ceritanya kadang bukan untuk usia saya. Saya juga melahap buku kakak laki-laki saya. Salah satunya adalah “Siapa Menabur Angin, Akan Menuai Badai.” Saya nggak ngerti apa isinya, tapi saya tetap membacanya.

Timbul keinginan untuk bisa menulis dan menghasilkan karya tulis. Porseni adalah kesempatan saya. Saya melamar menjadi peserta pada guru saya.

Saat semua peserta menulis cita-cita dan angan-angannya, saya malah menulis perpusatakaan sekolah saya dengan lebay dan detil, – yang saat saya dewasa, sadar  ternyata itu naskah deskriptif -. Dan dengan tulisan itu saya jadi pemenang di Kabupaten Bogor. Tapi kalah di tingkat kota, karena guru saya nggak mau ngelatih saya. Dia bilang tulisan saya udah bagus, padahal enggak. Fak.

Saya meninggalkan menulis fiksi dan berpindah ke blog. Saya lebih menceritakan pengalaman-pengalaman traveling saya di blog itu. Saya mencoba menulis fiksi lagi setelah membaca-baca flash fiction milik… ah sudahlah. Dia piawai sekali membuat cerita. Saya pernah dibuatkan tulisan, nodong kado lebih tepatnya, saat saya ulangtahun. Saya sangat suka. Saya mencoba membuat sebuah tulisan, alasannya sih mau dikirim ke majalah. Saya minta dia membacanya, lalu dia bikin koreksinya. Begitu terus, sampai saya tahu kesalahan-kesalahan saya. Tanpa sadar saya berguru ke dia. Akhir-akhir ini, waktu saya tanya bagaimana perkembangan menulis saya, dia bilang; pesat. #blushing.

Awal Januari lalu saya menemukan platform storial. Tempat berkumpulnya para penulis se Indonesia. Umurnya baru seumur jagung, tapi saya betah di sini. Saya membaca banyak karya yang bagus, super bagus, biasa-biasa saja, jelek, tapi jarang sekali saya nemu tulisan jelek sekali. Saya belajar banyak dari review-review dan kritik yang diberikan pada tulisan saya. Saya juga meninggalkan kritik dan saran untuk tulisan yang saya baca yang kadang terasa ‘jahat’. Ah, biarlah mereka berpikiran saya jahat. Saya nggak kenal mereka, nggak ada niatan untuk jahatin mereka. Menurut saya, kritikan yang membangun, meskipun menyakitkan, lebih berharga daripada pujian normatif.

Saya juga mulai mengenal tipe-tipe penulis. Ada yang pandai membuat ide cerita dan merangkai plot, ada yang piawai memilih diksi dan meyusun kalimat, ada yang tulisannya serupa John Green dan gaya terjemahan novel asing, ada yang ceritanya susah ditebak, ada yang kekorea-koreaan, ada juga yang kekanak-kanakan.

Mungkin karena pihak storial melihat saya aktif di sana, saya pernah ditawari untuk bergabung dengan team editor storial. Dengan terpaksa saya menolaknya. Pertama, saya masih belajar. Kedua, saya masih ingin menikmati menjadi penulis. Ketiga, saya orangnya tipe mbalelo tidak mau ikut aturan dan tidak suka dipaksa-paksa, apalagi dipaksa membaca.

Ada banyak tantangan di storial yang memacu penulis-penulis mula untuk berkarya. Storial mengadakan kompetisi menulis #dearmama, menulis perjalanan sampai yang terakhir adalah kompetisi menulis dengan tema elegi. Yang terakhir ini saya yang menggagas. Awalnya cuman proyek pribadi yang saya tulis di wall saya, sebuah kesalahan. Saya salah menyebut judul novel terakhir Dee dengan Elegi Embun Pagi, sedangkan yang benar adalah Inteligensi Embun Pagi. Saya menantang pembaca storial untuk membuat tulisan dengan tema elegi, dengan maksud agar sewarna dengan novel Dee yang saya kira judulnya Elegi Embun Pagi. (Nampaknya saya waktu itu terlalu banyak dengerin lagu Ebiet G. Ade).

Tak berapa lama kemudian saya dihubungi pihak storial, meminang ide saya untuk dijadikan proyek mereka. Saya mengiyakan, tapi belum sadar kalau Elegi seharusnya adalah Inteligensi. Nasi sudah jadi bubur, akhirnya proyek tetap diteruskan dengan tema yang sama. Tak disangka, peminatnya banyak. Selama tenggang waktu dua minggu, lebih dari 50 karya masuk dan saya harus membacanya, karena pihak storial menuntut saya untuk menjadi salah satu juri. Untung dulu saya bikin tantangan flash fiction, bukan novel atau puisi. Kan bisa bonyok saya.

Sudah delapan kisah yang saya muat di storial, kebanyakan nggak ada yang suka sama tulisan saya. Dari 2000 lebih anggota storial, tulisan saya hanya dibaca 300 orang, see secara statistik saya tidak diminati! Mungin tema yang saya angkat tidak menarik; seperti komunis, budaya etnis tionghoa, perselingkuhan, wayang, dan terakhir horror komedi. Tapi biarlah. Saat ini saya lagi mempersiapkan sebuah tulisan bertema LGBT. Saya sedang riset dan menentukan formula yang bisa diterima oleh siapa saja. Satu lagi, saya mau bikin tantangan untuk penghuni storial menulis cerita dengan karakter utama sang antagonis. Semoga bisa.

Kalau mau gabung jadi penulis fiksi, bisa gabung di www.storial.co